Teranyar

    Komit Coklat Kita : Peduli Pisan Pelestarian Budaya Jawa Barat !

    30 October 2019 09:42
    NJP Garut terakhir dari rangkaian gelaran di 13 kota.





    Kabupaten Garut,  terpilih menjadi tuan rumah pagelaran Coklat Kita Napak Jagat Pasundan (NJP) titik ke-3 tahun 2019, dengan mewakili 4 Kabupaten Kota lainnya (Kab. Sumedang, Kab. Majelengka, Kota Tasik dan Kab. Pangandaran). Dan, tahun ini merupakan tahun ketujuh  dari perjalanan NJP yang telah di mulai sejak 2013 silam. Program NJP merupakan salah satu bentuk  “Bakti Ku Bukti “ Coklat Kita terhadap kepedulian akan Budaya, khususnya untuk budaya Sunda.  

    Setelah sebelumnya,  Sabtu  19 Okober 2019 lalu di gelar di Alun alun Kab. Subang dengan menampilkan 8 Talent terpilih dari 38 sanggar dan paguron  yang terlibat yang mewakili 4 kabupaten Kota di Jawa Barat. Yaitu Grup singa Abruk Anu Uing Desa Tambakan kab. Subang, Sanggar Seni Sinar wangi Pajajaran Kab. Subang, Tari Kreasi Sanggar Way Talatah Kab. Subang, Tari Kreasi Widyani sanggar Kab. Subang, maung lugay Neng Putri Kab. Purwakarta, Pusaka Garokgek Ethnic Colaboration Kab. Purwakarta, Tari Topeng Barong Sanggar Putra Jayabaya Kab. Cirebon, Tari Ronggeng Ketuk Sanggar Sekar Wanakerti Kab. Indramayu yang tampil bersama talent NJP lainnya seperti Kang Dodi Kiwari, Calung NJP (Injuk, Junjun, Aep Bancet, Aman dan Amin), Ega Robot Ethnic Percussion, Jimbot and Friend, Sandrina (IMB), dan Doel.

    Dan, Sabtu 26 oktober 2019 lapang MAKOREM 062/Tn Garut menjadi lokasi dari pagelaran ini. Dengan melibatkan sanggar dan paguron dari 5 Kabupaten Kota yaitu Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kota Tasik dan Kabupaten Pangandaran dan tampinya 8 talent budaya terpilih dari 42 Sanggar dan paguron yang telah mengikuti kegiatan Riungan NJP dan Hariring NJP sebelumnya di masing masing Kabupaten kotanya, NJP garut benar-benar menjadi begitu spesial.

    Adapun paguron dan sanggar yang terpilih di Pagelaran ini yaitu Pondok Olah Seni Sari Kota Inten (Kab. Garut), Celentung Selaawi (Kab. Garut), Saung Seni Raksaguna (Kab. Garut), Ismaya Production (Kab. Sumedang), Sanggar Seni Sunda Rancage (Kab. Majalengka), Sanggar Mayang Binangkit (Kota Tasikmalaya), Calung Moncal (Kota Tasikmalaya), Sanggar Ligar Munggaran (Kab. Pangandaran). 

    Tries Pondang Simbolon dari Coklat Kita mengungkapkan kalau Pagelaran NJP di Garut, merupakan puncak rangkaian  perjalan NJP di 2019 ini. Setelah sebelumnya berlangsung di Lembang, Kabupaten Bandung Barat dan Alun-alun Kabupaten Subang  dengan rangkaian tahapan Riungan NJP dan Hariring NJP yang telah berjalan  di 13 Kabupaten Kota di jawa barat. Yakni Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Garut.  

    “Setelah 2015 lalu, kita kembali ke Garut dengan konsep gelaran yang sangat beda jauh. Ada yang spesial dari gelaran disini, yaitu menampilkan budaya yang sangat buhun dari Kabupaten Majalengka,” jelas Tries, begitu sumringah.

    Menurut Tries, penampilan mereka menjadi obat penawar rindu bagi masyarakat pencinta budaya yang datang. Karena gelaran mereka  sudah lama tidak pernah terlihat.


    Gelaran di NJP bisa menginspirasi generasi sekarang

    “Respon NJP kali ini sangat positif, bukan hanya sebagai tontonan saja, tapi bisa lebih dari itu. Bisa menyentuh paling dalam dari para penggiat budaya yang banyak tersebar di Jawa Barat,” tambah Tries lagi.

    Lebih jauh Tries menyebutkan dengan konsep baru yang di usung tahun ini, Coklat Kita ingin menggali lebih dalam lagi potensi seni Budaya sunda melalui paguron dan sanggar atau komunitas budaya di wilayah jawa Barat dengan  4 tahapan kegiatan Napak jagat Pasundan yang dilakukan sebelum memasuki Pagelaran Napak Jagat Pasundan ini.  

    Yang pertama yaitu NJP Gunem Catur. Kegiatan Silaturahmi dan Riungan bersama dari Coklat Kita dan Duta Napak Jagat  kang Dodi Kiwari dan Kang Opik “Saung Angklung Udjo” bersama tokoh-tokoh sanggar/paguron/penggiat budaya membahas tentang penggarapan sanggar (management sanggar) serta penggarapan seni pertunjukan budaya yang apik dan menarik. Berikutnya adalah NJP Lembur Kuring yang merupakan unjuk kabisa dari sanggar/paguron yang menampilkan jenis kesenian yang biasa mereka tampilkan didepan Duta Napak Jagat. Pada rangkaian ke tiga merupakan tahap latihan bersama antara sanggar atau paguron dengan Duta Napak Jagat untuk mengemas pertunjukan budaya yang lebih apik dan menarik di kegiatan NJP Kamonesan. Untuk 2 kegiatan ini (NJP Lembur Kuring dan NJP kamonesan) Ega Robot, Gondo,  Jimbot dan Bob Rian merupakan Duta Napak Jagat yang di tunjuk oleh Coklat Kita.

    "Rangkaian terakhir sebelum Pagelaran NJP, yaitu Hariring Napak Jagat Pasundan. Sebuah bentuk pagelaran dari sanggar atau paguron yang telah melaui proses ketiga tahapan sebelumnya. Dan, mereka tampil didepan khalayak ramai dengan kemasan pagelaran yang ciamik, apik dan menarik di setiap daerah masing-masing,' tambah Tries lagi, bangga.

    Pada Pagelaran Coklat Kita Napak jagat pasundan Garut ini, selain 8 sanggar atau paguron yang tampil mewakili 5 Kabupaten Kota mereka,  kembali ditampilkan beberapa talent pendukung yang tampil di Pagelaran NJP Subang lalu.  Yaitu Narasi Puisi Dodi Kiwari tentang Urang Sunda, JImbot & Friend, Ega Robot Ethnic Percussion, Calung
    NJP, Sandrina (IMB) dan Doel sumbang yang ikut memeriahkan kembali Pagelaran NJP  titik ke 3 Garut ini.

    Harapan besar dari Coklat Kita di tahun ke 7 perjalanan NJP  ini. Karena Jawa barat kaya akan seni budaya, memiliki banyak sanggar atau paguron, dan komunitas penggiat budaya. Kegiatan NJP ini dapat menjadi momentum untuk sanggar atau paguron, komunitas penggiat budaya serta Masyarakat Jawa barat untuk bersatu, dan melestarikan warisan seni budayanya.

    “Harapan kedepannya seni Budaya tatar Pasundan bisa selalu bertahan dan tetap kokoh seiring perkembangan zaman. Kalau bukan kita yang notabene adalah warga masyarakat daerah, siapa lagi yang akan melestarikan dan mengembangkan aset budya milik Kita,’ jelas Tries bangga.

    Salah seorang penampil, Sandrina merasa bersyukur bisa tampil di gelaran NJP tahun ini. Setelah tahun sebelumnya juga ikut.  Menurutnya, gelaran di NJP bisa menginspirasi generasi sekarang, sehingga bisa melestarikan budaya-budaya yang ada.

    “Sandrina merasa  dapat pengalaman bisa tampil di panggung NJP yang megah ini. Meskipun basic nya tari Jaipong, Sandrina bisa berkolaborasi berbagai tari. Seperti tari Bali dan Tari Kalimantan,” ujarnya senang.     

    Begitu juga bagi budaya tari Topeng Wuwung Kawangi, Majalengka. Aceng Hidayat salah satu penggiat budaya ini merasa bersyukur. Karena selama ini budaya topeng Wuwung Kawangi ini jarang tersentuh. Menurutnya, dengan gelaran NJP benar-benar berhasil menyentuh praktisi penggiat budaya daerah di Jawa Barat

    “NJP sebuah even bergengsi karena tidak semua praktisi bisa terpilih dan NJP menjadi support yang luar biasa dengan hadirnya para maestro dari para duta,” jelasnya bangga. (Bobotoh.id/HR – Joe : FT : Joe

     


    Ayo Dibeli