Teranyar

    Loyalitas Itu Bernama Hariono

    23 December 2019 21:39
    Pada 30 Juli 2008, publik tak paham dengan keputusan Jaya Hartono yang menarik Suwita Patha keluar lapangan. Saat itu, pertandingan Persib vs Persela sudah menginjak paruh kedua di Stadion Siliwangi, Bandung.

    Seorang pemain berambut panjang yang tak begitu dikenal publik dan bobotoh masuk menggantikan sang kapten. Posisinya sama, gelandang bertahan.

    Ieu Rame Lur:

    Ezechiel & Esteban Nyatakan Mundur!

    Hariono Hengkang, Wa Haji Tegaskan Tak Ada Intervensi Manajemen

    Namun, semakin lama ia bermain, publik jadi tahu bahwa si gondrong ini tak hanya bertahan, ia juga “menghancurkan”. Tak ayal jika komentator senang sekali menyebut pemain ini sebagai “The Destroyer”.

    Pemain gondrong itulah yang kini kita panggil The Living Legend, Hariono.

    "Dunia memang soal datang dan pergi. Namun, Hariono tak akan pernah pergi. Kami semua akan tetap mencintainya."
    - Fahri Hilmi, Bobotoh


    Permainannya lugas, tapi indah. Lapangan tengah ibarat sudah menjadi rumah kedua dari pemain bernomor punggung 24 itu. Hariono tak akan sekalipun rela wilayah kekuasaannya dieksploitasi habis-habisan oleh gelandang-gelandang lawan.

    Saya bisa jamin, sekeras dan selincah apapun gelandang lawan menguasai bola, Hariono akan menghancurkan skemanya. Jangan harap lapangan tengah akan dikuasai jika kaki Mas Har, begitu ia akrab disapa, sudah masuk ke relung-relung permainan lawan. Semua akan hancur berkeping-keping.

    Ieu Rame Lur:

    Hariono Segera Pulang Ke Sidoarjo

    Pernyataan Mengejutkan Hariono Di Laga Terakhirnnya!

    Sepertinya--jika tak berlebihan, skema permainan gelandang beken macam Iniesta atau Xavi akan luluh lantak jika sudah berurusan dengan Mas Har. Saya yakin, tim lawan akan frustasi mkarena aliran bolanya akan tidak baik-baik saja kalau berhadap-hadapan dengan The Destroyer.

    Kelugasan permainan itulah yang membuat Hariono tak lekang dimakan zaman. Kendati tim telah berganti-ganti pelatih, tetapi Hariono tetap mendapatkan kepercayaan untuk tinggal. Sejak saat itu, hingga 11 tahun ke depan, Hariono hidup dan berkeluarga bersama skuat Maung Bandung.




    Era Keemasan


    Selama 11 tahun bersama Persib, Hariono telah memberikan seluruh hidupnya untuk klub kebanggaan warga Jawa Barat. Ia seakan tidak soal dengan daerah asalnya, Jawa Timur. Hariono tetaplah mendedikasikan cintanya kepada Persib. Itu memberikan kita pelajaran, bahwa Hariono adalah spirit. Spirit yang mengajarkan kita tentang apa itu kesetiaan dan loyalitas.

    Tekad kuat itu ditularkan Hariono kepada rekan-rekan setim. Kekuatan yang ia tularkan berbuah manis enam tahun pasca bergabungnya Mas Har ke skuat Maung Bandung. Pada Jumat malam (17/11/2014), Persib berhasil menjuarai Indonesian Super League (ISL) 2014 di Stadion Jakabaring, Palembang.

    Djajang Nurjaman yang saat itu menjadi arsitek tim bahkan memeluk Hariono usai pertandingan seraya berkata, “Enam tahun kamu masuk Persib, akhirnya juara juga, Har.” Kalimat itu bahkan dilontarkan dengan tangisan bahagia.

    Usai menjuarai ISL 2014 bersama Persib, Hariono terus menerus menjuarai berbagai macam kompetisi. Di antaranya, Piala Presiden 2015 dan Piala Walikota Padang 2015. Dua tahun sebelum ISL 2014, Celebes Cup 2012 juga pernah ia taklukan. Gelar demi gelar yang dibawa Hariono ini memperlihatkan bahwa totalitas dan loyalitas yang diberikan sang Destroyer kepada Persib bukanlah omong kosong.

    Jatuh bangun tim ini telah ia rasakan. Hariono tetaplah legenda. Ia tak mungkin hilang dari benak kita semua. The Destroyer tak akan pernah meninggalkan alam pikiran warga Jawa Barat. Dunia memang soal datang dan pergi. Namun, Hariono tak akan pernah pergi. Kami semua akan tetap mencintainya.

    Kini, 11 tahun pasca Jaya Hartono mempercayakan lapangan tengah Maung Bandung kepadanya, Hariono harus menerima kenyataan kalau ia mesti meninggalkan tim yang sudah sangat dicintainya itu. Kendati ia sangat ingin pensiun di Persib, tetapi pelatih tak “mengizinkannya”.

    Apapun, keputusan pelatih tetaplah harus dihormati. Lagipula, saya sendiri yakin Mas Har tak akan pernah kehilangan rasa sayang dari bobotoh. Begitupun ia tak akan menghilangkan rasa cintanya kepada Persib.

    Hingga musim akhirnya bersama Persib, Hariono tetap memberikan cinta dan loyalitasnya kepada tim. Jika memang demi kebaikan tim ia harus pergi, maka ia akan pergi. Hariono tanpa pamrih memberikan cinta itu. Sebagaimana ia katakan dengan tegas:

    “Apalah arti nama di punggung, dibandingkan dengan lambang di dada!”

    #H24TURNUHUN Hariono!
    Sampai bertemu di lain hari. (Bobotoh.id/RCK. Foto: AH)


    Fahri Hilmi, penulis merupakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.Pengguna media sosial dengan akun @fahrihill

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.