Teranyar

    Luncurkan Album Long Journey, PT Menggelora Diadili di DCDC Pengadilan Musik

    27 March 2021 08:00
    DCDC Pengadilan Musik Virtual edisi ke-44 mengadili PT Menggelora. (Bobotoh.id/RF)
    Pada DCDC Pengadilan Musik Virtual edisi ke-44 ini, PT Menggelora diadili lantaran mereka mengeluarkan album yang berjudul Long Journey.








    DCDC Pengadilan Musik Virtual kembali menghadirkan tersangka untuk diadili pada pengadilan musik yang digelar pada Jum'at malam (26/3/2021). Dilangsungkan di Kantinnasion The Panasdalam, Jl. Ambon No.8A, Kota Bandung, DCDC Pengadilan Musik kali ini menghadirkan musisi PT Menggelora untuk diadili.

    Pengadilan Musik Virtual sendiri adalah program spesial dari DjarumCoklatDotCom (DCDC), yang merupakan terjemahan baru dari Pengadilan Musik yang merespon kondisi pandemi. Program ini secara rutin mengundang dan mengkaji materi-materi terbaru dari band atau musisi independen tanah air yang aktif dalam membuat karya.

    Pada DCDC Pengadilan Musik Virtual edisi ke-44 ini, PT Menggelora diadili lantaran mereka mengeluarkan album yang berjudul Long Journey. Band yang menganut genre musik reggae dengan berbagai macam elemen nuansa Jamaican sound itu diadili karyanya untuk kemudian layak dikonsumsi publik.

    PT Menggelora merupakan sebuah project band yang terbentuk pada bulan April 2019 dengan personel Dellu Uyee, Rafi Gimbal dan Resha Stromo. Ketiganya sudah tidak asing di dunia hiburan, khususnya musik. Dellu Uyee selain merupakan pemain perkusi di beberapa band juga aktif sebagai content creator. Rafi Gimbal adalah finalis dalam ajang pencarian bakat bergenre dangdut, dan Resha Stromp adalah pemain gitar dari band reggae Momonon.



    Perwakilan DCDC Pengadilan Musik, Agus Dhani Hartono pun menjelaskan mengapa pihaknya tertarik untuk mengadili PT Menggelora. Selain karena memiliki nama yang unik, Agus Dhani menyebut tiga personel dari PT Menggelora memiliki potensi kreatifitas yang bisa diangkat.

    "Kami melihat PT Menggelora punya nama yang cukup asing, tapi kalau lihat personel di dalamnya ada nama Dellu Uyee yang dikenal sebagai Master of Jinjit kalau di Tiktok, kebetulan mereka juga punya band dan akan me-launching album kedua, jadi ini momentum untuk DCDC Pengadilan Musik," ujar Agus Dhani Hartono kepada awak media, Jum'at malam (26/3/2021).

    Ke depannya, Agus Dhani juga menyebut pihaknya akan terus mengembangkan program DCDC Pengadilan Musik Virtual di tahun 2021. Jumlah program yang dikeluarkan pada tahun ini pun ditargetkan melebihi dari tahun 2020 lalu yang hanya bisa dilaksanakan sebanyak 8 edisi lantaran kondisi pandemi Covid-19.

    “Hasil DCDC Pengadilan Musik hanya dilaksanakan 8 kali karena pada pelaksanaannya masa pandemi Maret 2020 kita harus menyesuaikan. Akhirnya tahun lalu harusnya output 12. Kalau jumlah viewers pada pelaksanaannya di atas 50 ribu netizen, apalagi ketika kita lihat DCDC Pengadilan Musik sampai 1.8 juta netizen yang nonton," tutur Agus.

    “Beberapa list band yang jadi terdakwa juga kami pending dan akan kami olah lagi di bulan berikutnya untuk menjadi reguler bulanan kembali,” paparnya.



    Saat diadili, PT Menggelora pun menjawab pertanyaan dari dua Jaksa Penuntut yakni Budi Dalton dan Pidi Baiq yang bertanya mengenai makna dari nama band mereka.

    Dellu Uyee sebagai perwakilan personel PT Menggelora pun menjelaskan alasan mengapa mereka menamakan bandnya dengan cukup unik. Meski demikian, kata Dellu, PT Menggelora memiliki makna bahwa singkatan PT yang merupakan kepanjangan dari Pemuda Terancam, bisa juga diartikan sebagai PT atau perusahaan agar mereka terus bisa memproduksi karya. Sedangkan Menggelora diambil sebagai akronim dari semangat mereka bertiga.

    "Sebelumnya bukan namanya bukan ini. Awalnya kami bikin Bandit Booster tapi gagal, bikin lagi yang lain tapi bangkrut. Akhrnya bikin bertiga aja karena kami masih komitmen. Sebelumnya ada personel lain tapi semangat kami bertiga lebih dari yang lain," ujar Dellu Uyee saat menjawab pertanyaan dari Jaksa Penuntut Budi Dalton dan Pidi Baiq.

    "Kegagalan itu membesarkan kami. Kami jadi banyak belajar, tadinya hanya mengcover, akhirnya bisa bikin karya sendiri. PT ini kami artikan seperti pabrik karena harus memproduksi terus walaupun harus begadang untuk menghasilkan karya. Menggelora itu adalah semangat dari kami," sambung Dellu Uyee.

    Setelah dicecar dengan banyak pertanyaan, dengan pertimbangan bahwa PT Menggelora terus konsisten dalam mengeluarkan karya, Hakim Man Jasad pun memutuskan bahwa PT Menggelora dinyatakan bebas dengan syarat.



    "Menanggapi konsistensi PT Menggelora dalam menciptakan karya, mereka dinyatakan bebas dengan syarat melakukan promo album Long Journey dengan baik dan benar," ujar Hakim Man Jasad.

    PT Menggelora sendiri diadili di Pengadilan Musik Virtual edisi ke-44 pada Jum'at, 24 Maret 2021 yang disiarkan secara streaming di kanal Youtubr DCDC TV. Mereka diadili oleh dua Jaksa Penuntut yakni Budi Dalton dan Pidi Baiq. Kursi Pembela ditempati oleh Yoga PHB dan Rully Cikapundung. Pengadilan dipimpin oleh seorang Hakim yaitu Man Jasad, dan jalannya persidangan pun diatur oleh Eddi Brokoli sebagai panitera. (Bobotoh.id/RF)