Teranyar

    MARADONA, RICKY YACOBI Dan MBAH COCO

    28 November 2020 13:05
    Dan, akhir November 2020 ini, keduanya sama-sama meninggal dunia, dalam kondisi penyakit yang sama, yaitu serangan jantung. Ricky Yacobi 21 November, dan Maradona 25 November 2020 meninggal.
    Sebagai Pemimpin Redaksi Facebook Indonesia, mBah Coco bukan ingin congkak. Judul di atas, hanya kebetulan. Yaitu, kebetulan Ricky Yacobi dan Diego Armando Maradona, punya kesamaan. Sama-sama besar dari usia muda di klub amatir. Ricky Yacobi dan Maradona, sama-sama meljit namanya, di usia 19 tahun.

    Dan, kebetulan di saat mereka sedang di puncak prestasi, sebagai jurnalis “bodrex”,mBah Coco ikut melihat dari dekat. Siapa kedua legenda sepak bola tersebut? Dan, akhir November 2020 ini, keduanya sama-sama meninggal dunia, dalam kondisi penyakit yang sama, yaitu serangan jantung. Ricky Yacobi 21 November, dan Maradona 25 November 2020 meninggal.

    Alkisah, ketika Maradona meraih gelar World Cup 1986, mBah Coco hanya bisa mengupas dan mengulas bersama Danurwindo, di halaman olahraga SUARA MERDEKA, koran dimana mBah Coco bernaung, sebagai jurnalis. Namun, ada beberapa wartawan Indonesia, yang meliput langsung di Meksiko, salah satunya Sakti Umbaran, Jhon Halmahera, Budianto Shambazy, Soetjipto Soentoro, sebagai kolumnis.

    Tahun 1979, kebetulan Indonesia menjadi wakil pengganti, setelah Irak dan Korea Utara menolak, berlaga di putaran final World Cup U-20 di Tokyo, Jepang. Pasukan Soetjipto Soentoro, menjadi lumbung gol ke gawang Endang Tirtana, lima gol saat menghadapi Diego Maradona dan konco-konconya. Itu pun, mBah Coco hanya baca koran.

    Tahun 1980, saat putaran final Piala Suratin, event nasional untuk pemain U-19. mBah Coco baru saja masuk kota metropolitan Jakarta. Menyempatkan nonton Ricky Yacobi dan kawan-kawan saat membela PSMS Medan U-19, meraih gelar juara Suratin Cup, setelah mengalahkan Persiter Ternate Junior, 3 – 0, di Stadion Sumantri Brojonegoro, Kuningan Jakarta.

    Tahun 1987, mBah Coco lagi giat-giatnya sebagai wartawan, ada di dalam pelatnas SEA Games Jakarta. Suka banget diskusi dan ikutan bicara taktik strategi tim nasional Indonesia, yang diarsiteki Bertje Matulapelwa, Sarman Pangabean dan Sutan Harhara. Dari situ, intens ngobrol dan wawancara Ricky Yacobi, sebagai kapten tim nasional.



    Malam sehabis mengalahkan Malaysia di final, dan meraih medali emas pertama cabang sepakbola di SEA Games 1987, sekitar pukul 22.00, ketua umum PSSI, Kardono datang ke mess Wisma Atlet di Senayan (kini sudah jadi Plaza Senayan dan Fairmont hotel), untuk menyambut tim nasional, dan juga memberi bonus.

    Sayang sekali, malam itu yang mendapat bonus Rp 1 juta, hanya Ribut Waidi, pencetak gol tunggal ke gawang Malaysia, yang dikawal Raimi Jamil. Kebetulan, mBah Coco ketemu Rully Nere dan Ricky Yacobi. Sambil curhat dan senaknya bicara, Ricky Yacobi nyeletuk, “Sepakbola itu permainan tim, mosok yang dikasih bonus hanya Ribut Waidi,” tutur Ricky, sekenanya.

    Tahun 1990, mBah Coco diutus SUARA MERDEKA, meliput World Cup di Italia. Selama 30 hari, dapat cerita banyak, tentang tim nasional Argentina. Bahkan, bisa nonton tiga (3) partai timnas Argentina, sesuai jatah wartawan. Saat itu, jurnalis di luar 24 tim nasional yang lolos ke Piala Dunia, sulit sekali dapat 63 tiket pertandingan terus menerus di penyisihan grup hingga final.

    Tapi, untuk tiga partai Argentina, lumayanlah. Berawal, nonton partai perdana Argentina (sebagai juara bertahan World Cup 1986) vs Kamerun, di Stadion San Siro, Milan. Tim Tango, kalah 0 – 1.

    Di semifinal, mBah Coco beruntung dapat tiket partai tuan rumah Italia vs Argentina, di Stadion San Paolo, Napoli. Keberuntungan partai tersebut, ternyata milik Argentina. Maradona, sebagai penembak ke-4, meloloskan Tim Tango lolos ke partai puncak, menghadapi Jerman Barat, dengan skor 4 – 3 atas Tim Azzurri Italia.

    mBah Coco, lagi-lagi dapat tiket partai final, yang sangat unik dari jejak Argentina, bersama Diego Maradona di World Cup 1990. Partai perdana, Argentina kalah 0 – 1 atas Kamerun. Partai terakhir, sebagai partai final, Argentina kembali kalah atas Jerman Barat 0 – 1. Kalah di penyisihan grup, tapi mampu meraih prestasi sampai final. Nggak gampang, dan nggak semua negara bisa seperti Argentina.

    Tangisan Maradona, adalah tangisan dendam. Karena, sebelum final, sudah santer terdengar gosip dan rumor, bahwa negara-negara Amerika Selatan (Latin) tak bisa menjadi juara Piala Dunia di daratan Eropa. Bahkan, Presiden FIFA, Joao Havelange yang duet dengan sekjen Sepp Blatter, sudah sangat benci dengan tingkah laku, dan ucapan Maradona. Yang mengatakan, bahwa FIFA adalah sarang mafioso.

    Bisa jadi, sudah ada skenario busuk dari FIFA. Lihat saja, sejak babak pertama di World Cup 1990, dari pengamatan mBah Coco selama meliput di Italia. Ocehan Maradona, bahwa FIFA sarang mafioso, sudah bisa dilacak dari FIFA. Bahwa, federasi sepakbola dunia ini, sudah membangun skenario untuk menyingkirkan Argentina, sejak babak penyisihan grup.

    Budianto Shambazy dan Ronny Pattinasarany dari KOMPAS, yang bareng meliput, dan duduk bersebelahan dengan mBah Coco, di tribun wartawan, Stadion Olimpico Roma, sudah memberi penjelasan kepada mBah Coco. Bahwa FIFA dijamin, tak memberi kesempatan kepada Argentina, untuk merebut juara dunia di Eropa. Ini tabu !

    Skenario busuk FIFA, sudah dimulai sejak partai perdana melawan Kamerun, di Grup B. Misalkan, skuad inti Argentina, sudah dapat kartu kuning, Roberto Sensini. Partai kedua lawan Uni Soviet, Tim Tango dikasih empat kartu kuning, Pedro Monzon, Jose Serrizuela, Claudio Caniggia dan Diego Maradona. Partai ke-3, lawan Rumania, kembali dua pemain Argentina, kena kartu kuning, yaitu Jose Serrizuela dan Sergio Batista.

    Masuk babak “16 Besar”, Argentina semakin dibuat “patah sayap”-nya, ketika menghadapi Brasil. Kiper utamanya, Sergio Goycochea, Pedro Monzon dan Ricardo Giusti lagi-lagi dikena kartu kuning, namun Argentina lolos. Masuk babak “8 Besar”, melawan Yugoslavia, ada empat pemain terkena kartu kuning, Juan Simon, Jose Serrizuela, Julio Olarticoechea dan Pedro Troglio. Beruntung, Argentina lolos lagi ke semifinal.

    Di semifinal, semua pecandu bola di dunia, sudah memprediksi, bahwa Argentina akan tersandung menghadapi tuan rumah Italia, yang sedang ‘naik daun”, dengan hadirnya striker “ujug-ujug”, dalam sosok Salvatore ‘Toto” Schillachi. Ditambah, ada skenari busuk FIFA. Ibaratnya sudah dikroyok rame-rame sejak awal.

    Bahkan, Michel Voutrot, sang pengadil asal Perancis, sudah menyiapkan lima kartu kuning. Sungguh, peristiwa yang nggak masuk akal. Kelima pemain Argentina, yang terkena kartu kuning lagi, Oscar Ruggeri, Julio Olarticoechea, Claudio Caniggia, Sergi Batista. Yang lebih gila lagi, saat kedudukan 1 – 1, dan perpanjangan waktu, gelandang Ricardo Giusti di kartu merah. Hanya dengan 10 pemain, lagi-lagi Argentina dapat “dewi fortuna”.

    Di final, lagi-lagi Argentina, dapat empat (4) kartu kuning untuk Argentina, yaitu Pedro Troglio, Gustavo Dezotti, Diego Maradona, dan satu kartu merah untuk Gustavo Dezotti. Ada skenario, jika Argentina mampu menahan seri 0 – 0, dalam dua kali 45 menit dan perpanjangan waktu. Maka, Argentina akan mengulang sukses meraih dua kali menang saat adu penalti. Di “8 Besar”, menang 3 – 2 atas Yugoslavia, dan di semifinal menang adu penalti atas Italia 4 – 3.

    Sejak babak pertama, Argentina sudah mendapat 14 kartu kuning untuk para pemainnya, serta dua kartu merah. Sungguh sebuah skenario yang sukses bagi FIFA.

    Puncaknya, sepertinya FIFA yang sudah dianggap mafioso oleh Maradona, lagi-lagi membuat taktik strategi, untuk melumpuhkan Argentina. Dengan dua peristiwa, menit ke-83, dengan mengeluarkan Gustavo Dezotti, setelah terkena dua kartu kuning. Dan, menit ke-86, Jerman Barat dikasih hadiah penalti yang dieksekusi Anderas Brehme.

    Walaupun dari pengamatan mBah Coco, wasit Edgardo Codesal (Meksiko) tak pantas memberi hadiah penalti, ketika Juergen Klisnmann dijatuhkan dengan gaya spesialisnya, yaitu “diving”. Padahal, saat “replay”, bola yang diambil Roberto Sensisi 100% bersih milik Sensini.

    Itulah drama di lapangan hijau. Ketika Diego “dewa” Maradona , harus dipermalukan oleh FIFA. Sementara itu, di negeri kita, negeri “mBelgedes”, PSSI tidak pernah tertarik dengan usulan Ricky Yacobi, bahwa prestasi tertinggi sepak bola Indonesia, bisa tercapai, jika mampu membangun pembinaan dan kompetisi usia dini. Sayang, tak pernah digubris siapa saja yang duduk di “kursi panas” PSSI.

    Selamat jalan kedua legend di benua yang berbeda, meninggalkan jejak tintas emas selamanya !