Teranyar

    Melanjutkan, Dibalik Sanksi Federasi

    3 October 2018 15:00
    Tulisan ieu kembali melanjutkan tulisan sayah sebelumnya tentang https://bobotoh.id/baca/di-balik-sanksi-federasi-bagian-2 Harita ketika PERSIB vs Persija, sayah kabeneran kudu berangkat tugas ka bumi cendrawasih, Papua. Ngabelaan lalajo PERSIB streaming na HP sepanjang perjalanan Ti Bandung ka Bandara Soetta. Gembira tiada tara ketika PERSIB akhirnya mengunci kemenangan di menit akhir pertandingan. Euforia bersama kawan lama di travel eta membuat perjalanan tak terasa lama.

    Nyatanya sesampainya di bandara, euforia eta tak berlangsung lama. Sayah narima berita duka. Beberapa jam sebelum pertandingan dimulai, seorang supporter Persija meninggal dunia dikeroyok massa. Geus kabayang kumaha bakal heboh jeung riweuh na ngabandungan sanksi nu bakal ditarima, komo ngeunaan tim kebanggan urang sararea PERSIB. Pemberitaan pasti berlebihan, informasi diterima dari sana sini. Kebenaran kadang diabaikan. Ada yang rusuh memancing di air keruh, ada tim pencari fakta, ada para pencari muka, ada yang mencari rating dan ada juga yang komen tak penting. Rupa-rupa kalakuan jalma aya didinya.

    Hingga akhirnya saat itu tiba. Vonis diturunkan, sanksi diberikan, banding (akan) diajukan, aksi (akan) dilakukan. 13 poin hasil sidang 1 Oktober 2018 resmi dirilis federasi kita tercinta. 9 diantaranya dijatuhkan bagi PERSIB. Sanksina emang beurat pisan, tapi mari kita telaah kumaha aturan nu diatur ku PSSI di manual Kode Disiplin PSSI 2018 jeung aturan FIFA. Naon wae sih jenis hukuman ti federasi kita tercinta? Di pasal 11 Kode Disiplin PSSI, tingkatan hukuman dimulai ti teguran, denda, tepi diskualifikasi, pengurangan poin, jeung degradasi.

    Leuwih khusus ngeunaan panpel dibahas di Pasal 69 dan 70 tentang Kegagalan menjalankan tanggung jawab menjaga ketertiban dan keamanan dan Tanggung jawab terhadap tingkah laku buruk penonton. Pasal 69 nyebutkeun yen badan yang gagal menjalankan tanggung jawab pada Pasal 68 (keamanan dan kenyamanan pertandingan) akan mendapatkan denda paling sedikit 20 juta rupiah.

    Jika terjadi lebih dari sekali, hukuman denda akan ditambah hukuman penutupan seluruh stadion sekurang-kurangnya dua pertandingan. Untuk hal ini, Komdis PSSI bisa juga memberikan hukuman pada pendukung klub atau suporter setidaknya satu pertandingan. Lebih jauh, masih dalam Pasal 69, Komdis PSSI juga berhak memberikan hukuman berupa bermain di tempat netral atau larangan bermain di stadion tertentu untuk badan/atau klub terkait.

    Pasal 70 na mengatur ruang lingkup tingkah laku buruk suporter. Kasus pengeroyokan disebut na poin 1 tentang Tingkah laku buruk penonton termasuk tetapi tidak terbatas pada; KEKERASAN KEPADA ORANG ATAU OBJEK tertentu jeung saterusna.... Poin 2, disebutken yen pihak nu bertanggung jawab nyaeta klub tuan rumah atau badan yang menunjuk atau mengawasi panitia pelaksana.

    Hukuman-hukuman lain terkait penggunaan benda yang berkaitan dengan api (flare, dll), penggunaan alat laser, pelemparan objek ke lapangan, menampilkan slogan yang menghina, rasis, politik dalam bentuk apapun (termasuk koreo, tulisan, dan atribut), sampai memasuki lapangan tanpa izin memang diatur khusus, ngan masalah na KEKERASAN TERHADAP SESEORANG ATAU OBJEK ieu teu jelas sanksi na naon.

    Kumaha lamun ti aturan FIFA? TKP kejadian pengeroyokan ayana di area parkir nu termasuk di Ring 4. Jelas ieu diluar lapangan. Kajadian na oge pas saacan pertandingan dimulai, lain saat pertandingan atau pasca pertandingan. Ti FIFA Safety and Security Regulations, ring 4 ka asup “the exclusive zone” anu kuduna ngan meunang dieusi ku SUPPORTER YANG MEMILIKI TIKET. Pihak keamanan pun wajib mengamankan area tersebut.

    Nyatanya, harita aparat polisi yang bertugas di zona eta fokus ngajaga menjaga pintu masuk stadion, sehingga area lainnya teu kajaga. Ieu nu jadi akar masalah, komo harita animo bobotoh nu lalajo teu katampung. Tiket hese, layar lebar di luar oge kurang. Banyak catatan nu sayah ambil ti kajadian ieu. Sayah berharap ieu jadi introspeksi urang bobotoh, panpel, aparat oge manajemen. Karena di sepak bola, dosa supporter adalah dosa klub.

    Di Inggris, pasca tragedi Heysel, aparat ngaberlakuken “Bubble Match”. Bubble match nyaeta pengawalan eksklusif dari aparat pada pihak supporter tamu yang datang ketika pertandingan yang rawan gesekan. Supporter eta bener-bener diatur ti mulai rute, titik ngariung nepi ka jalur balik na. Kamana-mana di anteur jeung dikawal ku aparat. Di Indonesia teuing kumaha protokol na perihal pengamanan suporter tamu. Euweuh aturan di mana ge ngalarang supporter tamu datang.

    Tugas aparat dan panpel adalah mengawal mereka menonton pertandingan dengan aman dan selamat kembali ketika pertandingan selesai. Pan dina regulasi ge geus jelas aya aturan kuota jang supporter tamu. Naha make dicarek teu meunang datang? Bukankah sepak bola adalah alat pemersatu bangsa? Mengapa kita melarang tetangga kita bertamu? Naha kacida ngewa na? Ngan di Indonesia hungkul aya kajadian tim ek asup ka stadion nepi ka make barauda atau leumpang. Dimana wibawa aparat yang sepatutnya menyediakan keamanan dan kenyamanan bagi kita para pecinta bola? Ieu the ek maen bal, lain ek perang. Ieu teh lawan lain musuh. Lawan
    tangtu beda jeung musuh.

    Balik deui ka topik, salila 2 minggu jeda, federasi kita tercinta nyatanya lebih memilih mencari hukuman yang tepat daripada memberikan solusi yang akurat. Mana vonis federasi ketika Muhammad Iqbal Setiawan, siswa kelas 2 SMKN Plered meregang nyawa pasca kerusuhan di laga derby PSIM vs PSS, Kamis 26 Juni 2018 kamari? Mana pemberitaan yang bombastis itu? Mana stasiun TV yang mengangkat talkshow bola rasa politik pas kajadian ieu?

    Pernahkah feredasi mengevaluasi diri bahwa kejadian berulang ini adalah bukti bobroknya mereka dalam menjalankan dan mengelola liga? Pernahkah mereka berkaca bahwa kekerasan di dalam dan di luar lapangan berawal dari kekecewaan jutaan penonton terhadap aparat penyelenggara pertandingan (wasit, hakim garis, dll) yang berkualitas rendah? Pernahkan mereka membuka secara transparan mekanisme sebuah sanksi dijatuhkan?

    Pernahkah mereka membuka keuangan mereka dan diaudit untuk dilaporkan dan diketahui publik? Apakah federasi ini ditunggangi? Apakah federasi ini tebang pilih atau pilih kasih? Federasi kuduna leuwih mengedepankan evaluasi daripada sanksi. Merevisi aturan dan kode etik daripada membentuk opini publik. Sanksi seharusnya tidak berarti mengebiri. Denda seharusnya membina, bukan memenjara. Federasi lepas tangan dan tidak mengantisipasi masa depan.

    Mengutip pernyataan Zen RS, board of director Pandit Football Indonesia, PSSI tak pernah merasa punya tanggung jawab, juga tak merasa punya dosa sama sekali, dalam seluruh kejadian kekerasan suporter yang sudah kelewatan ini. Padahal mereka punya banyak kewenangan untuk berbuat lebih baik guna memutus rantai kekerasan ini. PSSI merasa bukan bagian dari masalah, karena selalu hanya ingin berposisi sebagai hakim dan itu
    pun HAKIM yang buruk. Semoga tidak ada Haringga berikutnya. Namun jika muncul lagi Haringga-Haringga yang lain (semoga tidak), hari ini kita tahu bahwa PSSI adalah salah satu 'pembunuhnya'.*

    HIDUP PERSIB.

    *Penulis adalah bobotoh bernama Riky Arisandi nu nuju berkelana ke tanah Papua.


    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli