Teranyar

    Menakar Sanksi PSSI Terhadap Persib Bandung dan Arema FC

    11 October 2018 20:34
    Persib Bandung mendapat sanksi yang sangat berat usai kematian Haringga Sirla, suporter Persija Jakarta yang menyusup dan tewas dikeroyok di ring 3b Stadion GBLA, Ahad 23/9/2018 lalu. Dua di antaranya adalah pertandingan tanpa boleh dihadiri bobotoh di laga kandang dan tandang hingga putaran I Liga 1 2019 mendatang. Juga pertandingan usiran di luar pulau Jawa, yang juga tanpa penonton, hingga putaran 2 Liga 1 2018 selesai.

    Padahal kejadian pengeroyokan terjadi di luar Stadion GBLA dan terjadi 3 jam sebelum kick off. Pelakunya pun terancam hukuman pidana 7 tahun dan disanksi PSSI larangan untuk memasuki stadion manapun di seluruh Indonesia selama seumur hidup.

    Ieu Rame Lur: 

    Arema FC Ikhlas Dihukum 10 Tahun Tanpa Penonton, Asal...

    Maung Akan Berlatih Di Tepi Pantai!

    Sedangkan Arema FC mendapat hukuman tanpa supporter di laga kandang dan tandang hingga putaran 2 Liga 1 2018 selesai. Padahal berbagai kejadian kericuhan di Stadion Kanjuruhan saat Arema FC menghadapi Persebaya Surabaya, Sabtu, 6/10/2108 lalu terjadi menjelang, selama, dan sesudah pertandingan.

    Mengapa Arema FC disanksi lebih ringan dibanding Persib Bandung? Padahal kejadian yang terjadi di Stadion GBLA, jauh di luar jangkauan Kode Disiplin PSSI. Kode Disiplin yang sama yang dipakai untuk menjerat Arema FC?

    Ieu Rame Lur: 

    Tidak Boleh Menyieun Kesalahan!

    Mangprang Sore: PSSI Tolong Persija, Disanksi AFC, Sanksi Arema FC

    Kode Disiplin itu juga menjerat Persija Jakarta dengan denda 50 juta usai The Jakmania terlibat kerusuhan dengan Panser, suporter PSIS Semarang. Namun, mengapa justru PSIS yang mendapat sanksi denda 2x lipat lebih besar dibanding Persija?

    Gusti Randa dalam video yang dirilis PSSI di Youtube, 3/10/2018 lalu menyatakan bila sanksi atas kejadian yang terjadi di GBLA pada pekan ke-23 akan menjadi 'test case' bagi pertandingan pekan ke-24.

    "Federasi dalam hal ini dan TPF menyarankan bahwa pertandingan Pekan ke- 24 adalah 'test case' bagaimana setelah ada putusan Komdis (PSSI), yang menurut hemat kami , yang sudah cukup tegas, sudah cukup keras dapat diimplementasikan," sebut Exco PSSI itu.

    "Betul adalah utusan untuk satu klub tetapi sesungguhnya adalah pelajaran untuk seluruh klub untuk seluruh panpel untuk seluruh panpel, sehingga pekan ke-24 dari Jumat depan (5/10/2018) hingga Selasa (9/10/2018) menjadi hal yang sangat krusial," sambungnya.



    Tetapi fakta yang berbicara kemudian lain. Sanksi PSSI atas Arema FC yang dijatuhkan Komdis PSSI, Kamis, 11/10/2018 ternyata lebih ringan dibanding yang diterima Persib Bandung.

    Di mana pada kejadian di GBLA, yang jelas di luar jangkauan Kode Disiplin, saya ulangi: di luar jangkauan Kode Disiplin, membuat PSSI menghukum koordinator panpel dan koordinator keamanan selama 2 tahun tidak boleh berkecimpung di kegiatan Persib Bandung.

    Belum lagi jumlah uang yang dijatuhkan PSSI. Hanya Rp. 100 juta untuk beragam kegiatan ilegal di lapangan: chant rasis provokatif, flare, pelemparan, pitch invasion berjamaah, pengeroyokan, perobekan bendera Persebaya Surabaya, provokasi dan intimidasi Aremania terhadap pemain Persebaya di tengah lapangan, hingga mengencingi gawang.

    Rincian kegiatan ilegal ini ada di lampiran pasal 70 kode disiplin PSSI yang diberlakukan di Liga 1 2018.

    Menjadi membingungkan, PSSI seperti tebang pilih menerapkan sanksi. Bila dilihat secara visual di laman PSSI, sanksi untuk Arema FC ditulis dalam bentuk narasi paparan: bersifat umum, disusun dalam paragraf-paragaf, dibuat dengan kalimat berita yang bercerita dan kehilangan detail.

    Sedangkan sanksi untuk Persib sebanyak sedikitnya 9 poin, ditulis ringkas namun terperinci dengan nomor dan pointer-pointer. Lebih formal seperti selayaknya putusan hukum di pengadilan. 

    Dalam penelusuran saya ke Kode Disiplin yang dirilis PSSI di lama yang sama , Bila PSSI menghukum Arema FC sesuai Kode Disiplin PSSI pasal 60, 68, 69, dan 70, maka dengan bagian dan pasal manakah Kode Disiplin  tersebut yang digunakan untuk menghukum Persib Bandung?

    Ada yang bisa menemukan pasal berapa? Harus dingat, kalimat kuncinya adalah: kejadian di luar stadion/Ring 3 dan waktu kejadian 3 jam sebelum kick off yang di luar jangkauan Kode Disiplin!

    Selama pertandingan berlangsung melawan Persija Jakarta yang dimenangkan Persib Bandung dengan skor 3-2, tidak ada insiden apapun di dalam stadion yang terjangkau oleh Kode Disiplin PSSI. Sebelum selama dan sesudah pertandingan.

    Padahal Joko Driyono sebelumnya mengatakan sanksi untuk Arema FC akan lebih berat mengingat standar yang digunakan adalah 'sanksi' untuk Persib Bandung. Yang namun ternyata, setelah sanksi dirilis, ternyata kejadian di pekan ke-23 sama sekali tidak dijadikan acuan.

    Padahal kejadian ini bukan sekali saja dilakukan Aremania karena pada putaran I pun mereka melakukan hal serupa saat bermain imbang dengan Persib Bandung. Bahkan pada kejadian itu, pelatih Mario Gomez terluka di pelipisnya akibat lemparan Aremania yang ricuh dan masuk lapangan.

    Apa sanksi untuk Arema FC pada putaran I? Hanya penutupan sebagian Stadion Kanjuruhan selama beberapa pertandingan saja.

    Jadi jangan heran bila suporter klub tertentu tidak jera melakukan kegiatan ilegal karena sanksi yang dijatuhkan Komdis PSSI juga sama-sama ilegal. Tidak jelas referensinya ke Kode Disiplin yang mana.

    Lalu terdengar potongan lagu lawas Metallica, "...And Justice For All", menggedor pikiran melalui gendang telinga di keheningan:

    Justice is lost justice is raped
    Justice is gone
    Pulling your strings Justice is done
    Seeking no truth winning is all
    Find it so grim so true so real
    Seeking no truth winning is all
    Find it so grim so true so real. (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Ricky N. Sastramihardja, Redaktur Pelaksana Bobotoh.ID yang mencandu kopi & fotografi

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Ayo Dibeli