Teranyar

    Mengapa Pemain Lokal Menjadi Korban Pemilik Klub?

    2 December 2020 14:32
    Bobroknya dunia sepakbola profesional, khususnya dalam kontrak mengontrak pemain, sepertinya perlu segera berbenah.
    Ada empat poin yang dianalisis mBah Coco, sejak peristiwa Herry Kiswanto, Agus Suparman, Indiyanto Nugroho dan yang terakhir Bagus Kahfi.
    Amiruddin Bagus Kahfi Al-Fikri yang dikenal dengan nama Bagus Kahfi batal di kontrak klub Belanda, FC Ultrect, adalah rentetan carut marutnya sepakbola Indonesia, yang sudah hampir 40 tahun. Khususnya, dalam dunia administrasi antar pemain dengan klub profesional. mBah Coco menilai, ke depannya pemuda berusia 18 tahun ini, bisa menjadi malapetaka, jika psikologinya tidak ditangani secara benar.

    Mengapa?
    Akil balik anak muda sekelas Bagus Kahfi, akan sangat berpengaruh dengan orang-orang di sekelilingnya. Bahkan, Shin Tae-yong, bisa batal memanggil Bagus Kahfi, sebagai skuad utama Indonesia U-19 ke Uzbekistan. Jika kondisi mentalnya tidak stabil, akibat batal menjadi salah satu anggota klub U-19 Ultrect, Belanda, bagian dari mimpinya.

    AFC Cup U-19 Championship di Uzbekistan, 3 – 30 Maret 2021 nanti, tinggal tiga bulan. Sedangkan, Shin Tae-yong sedang ancang-ancang, untuk memilih 23 pemain Indonesia, yang akan disiapkan menuju putaran final Piala Asia U-19. Agar dalam tiga bulan ke depan, sudah tinggal membangun skuad terkuatnya. Termasuk, Bagus Kahfi, sebagai satu calon terkuat sebagai starter.

    Bobroknya dunia sepakbola profesional, khususnya dalam kontrak mengontrak pemain, sepertinya perlu segera berbenah. PSSI sejak dikelola Iwan Bule dan kawan-kawan, pastinya masih awam, dalam dunia regulasi kontrak pemain dengan klub. Dari regulasi klub, regulasi agen pemain, dan tentunya para pemain wajib mendapat pendampingan. Lembaga Asosiasi pesepakbolaan Profesional Indonesia (APPI) yang diketuai Ponaryo Astaman pun, juga sering mengedukasi klub-klub dari SSB, klub amatir, hingga klub anggota Liga 1, 2 dan 3. Maklum, rata-rata pemain Indonesia, buta hukum.

    Pardedetex Galatama, tahun 1983, pernah menggantung nasib libero sekaligus legenda Indonesia, Herry Kiswanto, selama tujuh bulan. Bukan, soal kontrak mengontrak yang dimulai sejak 1979 – 1983. Tapi, hanya masalah di luar kontrak klub profesional. Yaitu, karena anak Ciamis ini, sudah dianggap menjadi ikon kota Medan, sebagai “anak emas” TD Pardede.

    Jika jaman itu, menurut mBah Coco sudah ada medsos. Maka, persitiwa Herry Kiswanto digantung nasibnya oleh TD pardede, pasti viral dimana-mana.

    Sejak 1979, Herry Kiswanto melakukan perpanjangan kontrak dengan Pardedetex, selama tiga kali. Isi kontrak yang ketiga, ada klausal, Herkis, boleh pindah klub. Dan, kebetulan Herry Kiswanto, rindu keluarga, dan ingin dekat dengan orang tuanya. Maka, niatnya ingin bermain di klub-klub yang dekat dengan kota Ciamis.

    TD Pardede, berpikir, bahwa Herry Kiswanto yang sedang ranum-ranumnya sebagai ikonik tim nasional Indonesia, berusia 23 tahun, pasti jadi rebutan klub-klub anggota Galatama (Liga Sepak Bola Utama). Dan, terbukti, Benny Mulyono, pemilik Warna Agung, Antonius Wenas, pemilik Niac Mitra, atau Benniardi, pemilik Tunas Inti, atau Iswadi Idris, sebagai dedengkot Jayakarta Galatama, memburu Herry Kiswanto, hingga sampai ke Ciamis.

    Namun, Herry Kiswanto ternyata bergeming. Gajih bulanan sejak kontrak dengan Pardedetex, dari Rp 125, tahun kedua Rp 175, hingga tahun tahun ke-3, sebesar 200 ribu, sudah dianggap lebih dari lumayan. TD Pardede, tetap ngejar Herry Kiswanto selama tujuh bulan, agar tetap bermain untuk klub profesional pertama di Indonesia tersebut. Jika Herkis mau minta dua atau tiga atau lima kali gaji sebelumnya, tetap dituruti. Sayang, Herkis tetep menolak.

    Setelah pemilik klub-klub Galatama tak mampu merayu Herry Kiswanto, mau pun TD Pardede. Akhirnya, taktik dan strategi baru dijalankan oleh mantan-mantan pemain, yang pernah bermain di Pardedetex, sejak berdiri tahun 1969. Giliran M. Basri mencoba merayu TD Pardede, menyusul Soetjito “Gareng” Soentoro, Iswadi Idris dan Sinyo Aliandu. Semuanya ditolak eyangnya Herna Pardede.

    Ujug-ujug Abdul Kadir dan Jacob Sihasaleh sowan ke TD Pardede. Namun entah ke sirep atau kepincut, TD Pardede langsung bilang, “Jika Herry Kiswanto mau kamu ambil silahkan. Tapi, tolong Herry selamanya buat kamu, tolong dibimbing,” demikian kata TD Pardede. Bahkan, ngomong lagi, “Silahkan Herkis diambil tanpa uang dan tanpa transfer.”

    mBah Coco, ingin bernostalgia tentang Perdedetex. Bahwa, jaman itu akhir 60-an. Pardedetex dijuluki “Tim Nasional Setengah Indonesia”. Karena, nyaris semua pemain yang direkrut, adalah pemain nasional.

    Yudo Hadiyanto (kiper), Sunarto (bek kiri), Anwar Ujang dan Tek Fong atau Mulyadi (double stooper), Sinyo Aliandu (bek kanan). Di tengah, M. Basri dan Sarman Pangabean. Sedangkan, Soetjipto Soentoro, diberdayakan sebagai gelandang serang atau second striker. Trio di depan, Abdul Kadir (kiri luar), Iswadi Idris (kanan luar), dan Jacob Sihasaleh (striker). Kalau nggak salah, cadangannya Risdianto, Max Timisela. Sedangkan, pelatihnya EA Mangindaan.

    Namun, dalam generasi kedua, saat Herry Kiswanto jadi “anak emas” TD Pardede, juga bercocol nama-nama yang keluar masuk tim nasional Indonesia. Misalkan, Hamzah Arfah (anak Palu), Johanes Jakadewa (Papua), John Lesnusa (Makassar), Effendi Marico (Aceh), Zulham Effendi, Ismail Ruslan dan Tonggo Tambunan (Medan).

    Setelah Herry Kiswanto rela dilepaskan TD Pardede kepada Abdul Kadir. Maka, setelah itu, Herkis bermain untuk Yanita Utama Lampung, Krama Yudha Tiga Berlian Palembang dan Asyabaab Surabaya. Semuanya dilatih Abdul Kadir. Setelah, si Kancil” julukan Abdul Kadir sakit-sakitan, Herkis diperbolehkan memilih klub mana pun.

    Peristiwa kedua, yang direkam mBah Coco, ketika klub-klub Galatama, lalai dan ceroboh mengontrak pemain. Agus Suparman, bomber Persita Tangerang, yang sedang “naik daun” di bond-bond Perserikatan. Dipinjam Pelita Jaya Jakarta, tahun 1988.

    Pelita Jaya "kesandung' masalah, ketika Agus Suparman, kembali ingin hijrah kembali ke bond amatir - Persita Tangerang. Namun, ternyata tidak bisa pindah - dan digantung oleh manajemen Pelita Jaya. Bahkan, Nirwan Bakrie saat itu, disudutkan oleh semua media, bahwa Nirwan Bakrie dinilai menggantung pemain yang ingin pindah ke klub amatir.

    Karena, nasib Agus Suparman dijadikan “headline” di semua koran-kora. Maka, Nirwan Bakrie, akhirnya menyerah, dan melepas striker Persita Tangerang. Walaupun, sempat digantung enam bulan, nggak bisa memperkuat Persita Tangerang, dalam kompetisi PSSI Perserikatan 1988 – 89.

    Peristiwa ke-3, dunia sepak bola, semakin terkesan sudah masuk dunia menang-menangan dan arogan. Menurut mBah Coco, saat itu, sedang ada peralihan kekuasaan di organisasi PSSI, dari Sigit Harjoyudanto (anaknya Soeharto) ke Nirwan Bakrie, pendatang baru yang terlihat “show of force”.

    Ketika, tahun 1993 – 94, Nirwan Bakrie membangun “super team” bernama Primavera dan Baretti, yang berlatih di Italia. Menurut mBah Coco, saat itu, ambisi Nirwan Bakrie, tak ingin kalah pamornya dengan Sigit Harjoyudanto, yang lebih dulu mencetak “super team” bernama PSSI Garuda I (1983) dan PSSI Garuda II (1989).

    Kerusuhan dan kontroversial tampaknya merupakan dua kata yang akrab dengan kompetisi Liga Indonesia 1995 - 96. Jika masalah ribut-ribut tawuran antar suporter tetap mewabah, begitupula protes memprotes antar pemilik klub dan PSSI.

    Maka, musim 1995-96 ini, punya kasus yang agak berbeda dalam pemberitaan yang beredar di Indonesia. Ketika, Indonesia memiliki pembinaan Primavera dan Baretti, maka kasus yang muncul adalah hak pemilik pemain.

    Dampaknya, ketika Kurniawan Dwi Yulianto, saat itu belum disahkan oleh Direktur Turnamen – Lembaga Transfer dan Urusan Pemain PSSI, Dali Taher, ketika harus memperkuat Pelita Jaya. Karena berkas pendaftaran young guns tim nasional ini tidak dilengkapi ITC (Sertifikat Transfer Internasional).

    Ketua Bidang Kompetisi dan Turnamen PSSI, Ismet D. Tahir juga menguatkan keputusan lembaga transfer, bahwa Kurniawan takkan disahkan memperkuat Pelita Jaya, karena surat-suratnya tak lengkap dan batas waktu pendaftaran pemain baru sudah lewat. Ada dugaan klub Lucerne Swiss, menahan ITC karena ingin ada uang transfer.

    "Kepada siapa pun yang merasa keberatan dengan pilihan saya untuk main di Liga Indonesia, dalam hal ini Pelita Jaya, mohon mengerti posisi saya. Sebagai orang yang masih ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya di sepak bola, tolong hargai pilihan saya itu," ujar Kurniawan.

    Peristiwa yang kedua di musim 1995 – 96, masalah transfer pemain terjadi menjadi sangat fenomenal, ketika pesepakbolaan Indonesia dan dunia mencatat sejarah baru!

    Yaitu, Indriyanto Setyo Nugroho, striker tim nasional PSSI Piala Asia yang jebolan proyek “super team” Primavera, disepakati pindah dari klub Arseto Solo, yang didirikan pengusaha Sigit Harjojudanto, ke klub elite metropolis Jakarta, Pelita Jaya, milik pengusaha Nirwan Dermawan Bakrie hanya dengan nilai transfer Rp 100 (seratus rupiah).

    Peristiwa unik ini terjadi, di Sekretariat Liga PSSI hari Jumat 29 Maret 1996 petang di hadapan Asisten Manajer klub Arseto Solo, Halim Perdana dan Manajer klub Pelita Jaya H. Andrie Amin, yang disaksikan Direktur Turnamen – Lembaga Transfer dan Urusan Pemain PSSI, Dali Taher.

    Nilai transfer yang begitu rendah, sangat mengejutkan pencinta sepakbola nasional, karena tidak seimbang dengan nilai meterai yang digunakan untuk menandatangani kontrak kesepakatan perpindahan Indriyanto, yaitu, Rp 2.000. Benar-benar sangat menjijikan, bukan?

    Akhir November 2020, lagi-lagi ada berita viral di sepak bola nasional, ketika Bagus Kahfi, batal dikontrak klub Belanda, FC Ultrect, sesuai batas deadline dari klausal perpindahan, tanggal 27 November 2020.

    mBah Coco, memang tak membaca. Apa saja isi kontrak selama ini, antara Barito Putra FC dengan Bagus Kafhi? Yang diketahui, sejak Bagus Kahfi menjadi skuad inti tim nasional U-16, tahun 2018 dan topskor 7 gol AFF Cup 2018. Namanya, masuk dalam list yang diambil Barito Putra FC, dengan gaji Rp 10 juta per bulan, bareng kembarannya, Amiruddin Bagas Kaffa Arrizqi, yang dikenal dengan nama Bagas Kaffa.

    Simpang siur berita-berita yang sudah ada di portal. Menurut mBah Coco, Barito Putra FC sejatinya tidak salah. Karena, kontrak Bagus Kahfi bersama klub di Kalimantan Selatan ini, masih tersisa satu musim 2021 nanti. Sedangkan, berita yang sudah nongol dimana-mana, FC Ultrect pun, tak punya opsi untuk mentrasfer.

    Sementara, Bagus Kahfi menurut mBah Coco, nggak punya agen? Seandainya, Bagus Kahfi punya agen, seharusnya yang bicara dimana-mana, untuk menjelaskan nasib Bagus Kahfi, adalah agennya. Namun, sampai tulisan ini diturunkan hari ini, yang muncul komentar bapaknya Bagus Kahfi, yaitu Yuni Puji Istiono. Itu pun, setelah Bagus Kahfi melakukan pertemuan dengan manajemen Barito Putra, Selasa 1 Desember 2020 kemarin.



    Ada empat poin yang dianalisis mBah Coco, sejak peristiwa Herry Kiswanto, Agus Suparman, Indiyanto Nugroho dan yang terakhir Bagus Kahfi.

    Pertama, PSSI harus memberi klausal-klausal kepada semua klub, dalam urusan kontrak mengontrak. Regulasi yang wajib dibuat PSSI, adalah setiap klub wajib memiliki karyawan di bidang hukum dan notaris. Sebaliknya, setiap pemain sejak usia muda, juga diberi wawasan mengenai masalah hukum, jika dikontrak sebuah klub. Dan, semuanya wajib diawasai dengan ketat, tanpa kompromi.

    Kedua, PSSI harus mengontrol langsung, semua agen-agen pemain. Bahwa, semua agen, wajib memiliki kantor dan memiliki lembaga berbadan hukum, sebagai agen pemain beserta notarisnya.

    Ketiga, lembaga APPI jangan hanya menuntut PSSI, tapi wajib mengedukasi ke semua lembaga-lembaga SSB, klub amatir, dan juga klub-klub anggota Liga 1, 2 dan 3 Indonesia, dengan mengikutsertakan pengacara dan notaris dari APPI. Karena, menurut mBah Coco, Ponaryo Astaman dan kawan-kawan, terkesan juga butu hukum. Atau, tak punya wibawa.

    Keempat, PSSI harus memberi banyak statment-statment, bahwa dunia profesional, tidak ada dalam isi kontrak, ada istilah bisa diselesaikan secara kekeluargaan (seperti yang dialami Herry Kiswano). Jangan sampai ada lagi kasus seperti Indriyanto Nugroho, yang sejak kecil bermain untuk SSB Arseto Solo, gara-gara ikut Primavera ke Italia lewat “super team” Nirwan Bakrie, dicaplok senaknya oleh Pelita Jaya Jakarta. (Bobotoh.id/HR)