Teranyar

    Mengguar Peran PSSI Sebagai Alat Pemersatu Bangsa!

    15 October 2018 19:13
    Di akhir-akhir masa perserikatan Persib seolah tak terbendung, gelar juara bukan hal yang sulit diraih. Walaupun ada rivalitas dari Persebaya dan PSM, namun tidak terlalu mengganggu eksistensi Persib. Memasuki era Liga Indonesia, Persib masih tetap tak tergoyahkan di tanah air walaupun dengan materi 100% pemain lokal dan mayoritas berbahasa Sunda.

    Di dekade pertama Liga Indonesia gelar juara seolah-olah digilir dari satu kesebelasan ke kesebelasan lainnya. Penulis memahami ini sebagai bagian dari strategi untuk membuat sepak bola Indonesia merata di seluruh wilayah Tanah Air. Bukan tidak mungkin Persib juara lagi di dekade pertama, tapi entah apa pun itu selalu ada upaya untuk menjegal Persib juara.

    Ieu Rame Lur:

    Menggentos Muchlis, Ini Penjelasan Gomez!

    Mendapat Menit Bermain, Ieu Ceuk Wildan!

    Sebagai bobotoh jelas kesal tapi ada hal juga yang membuat bangga. Bagaimana tidak, 19 tahun tanpa gelar nasional tapi komunitas bobotoh bukannya berkurang tetapi malah makin menjadi. Bandingkan dengan PSMS, PSIS, Perseman Manokwari, PSM. Bagi supporter kesebelasan-kesebelasan lain, tanpa gelar berarti tanpa dukungan.

    Persib memang sudah tidak layak berada di Liga Indonesia. Seng ada lawan jo...

    Ieu Rame Lur:

    FIFA Mobile Teranyar Dirombak Total!

    Ini Kata Gomez Usai Memaok Satu Poin di Kandang Persipura

    Bila dibiarkan tanpa dijegal secara sistematis mungkin Liga Indonesia lebih tidak menarik dibanding Liga Spanyol, juaranya Persib terus. Dukungan finansial, talenta lokal dan yang utama “nilai komersil” dari bobotoh yang selalu riuh rendah mendukung. Kumaha enggak atuh, lha wong bobotoh bisa menciptakan aroma home di pertandingan away yang terpisah pulau.

    Bagi sebagian pihak ini berbahaya. Bisnis sepak bola di Indonesia bisa tidak menarik. Untuk itu dibuatlah kekuatan-kekuatan baru secara instant, seperti Sriwijaya FC, Bali United serta beberapa klub di Kalimantan.

    Tujuannya apa? Yaa biar label Liga Indonesia-nya masih terasa. Apa jadinya bila juaranya Persib terus?

    Persik Kediri teh bintang-na sama siga Persib, 2. Tapi bintang 2 eta level heboh na beda siga bumi jeung langit. Yang satu hilang ditelan bumi, sampai nyaris kita lupa apa warna jersey Persik Kediri. Yang satu lagi melambung tinggi di jagat dunia maya sehingga mengalahkan polpularitas Barca, Madrid, MU atau kesebelasan apapun yang ada di planet ini.

    Udah pernah dihukum gak boleh pakai jersey, malah aya buligir days. Dihukum tanpa penonton, udah enggak mempan. Dihukum pertandingan usiran, bobotoh datang keneh wae.

    Makana sekarang ditingkatkan level hukumanna. Tapi ceuk kuring mah gak ngaruh. Bobotoh tetap bobotoh. Bobotoh akan tetap melahirkan bobotoh generasi berikutna.

    Terlepas dari tragedi kemanusiaan Haringga, pertandingan Persib vs Persija seolah sudah disetting utk berlangsung keras. Banyak (bahkan banyak banget) friksi di babak pertama yang dengan tujuan memancing pemain Persib melakukan hal-hal yang akan berujung sanksi.

    Settingan tersebut sangat kentara. Setelah mencapai “target” potensi hukuman, terbukti semua hilang di babak II, pertandingan cenderung cool tidak riweuh seperti babak I.

    Pemain Persija menerima kekalahan asal setelah pertandingan banyak pemain Persib yang terkena sanksi. Menyusul Persib akan mudah dalam kondisi Persib pincang. Ketambah lagi ada momentum 'hadiah', seorang jakmania meninggal dikeroyok. Seolah proses menghentikan Persib untuk menjadi juara sudah selesai dilakukan.

    Persib tidak boleh juara terlalu dekat, euforia 2014 dan 2015 (Juara Piala Presiden) sudah cukup tinggi di tanah air. Membahayakan bisnis bila suporter kesebelasan lain tidak tumbuh. Kelompok suporter lain harus tumbuh seperti bobotoh, atau minimal menyerupai.

    Beut atuh anehna bobotoh mah, makin tersudut makin menjadi kecintaanna kepada Persib. Udah ada viral video pengeroyokan, sugan ada ortu yang melarang anakna mencitai Persib?

    Please tell me. Yang ada ge paling ngalelempeng wungkul, "Jang, mun lalajo Persib tong nepi ka gelut," kitu wungkul.

    Coba di Jakarta, berapa banyak ortu yang melarang anakna untuk masuk ke komunitas suporter Persija.

    Bila kita datang ke pusat keramaian kota-kota yang memiliki kesebelasan di Liga I, coba cari dalam 5 menit ada berapa orang yang memakai kaos/jersey atau apapun itu yang berkaitan dg kesebelasan di kota itu? Lantas bandingkan bila kita berada di BIP, alun-alun Bandung, liat sekeliling.

    Dalam waktu tidak terlalu lama pasti bisa menemukan 5-10 orang memakai pakaian yang bernuansa Persib. Jangan ditanya jumlah itu bila tiba PersibdDay. Gak usah kita liat jadwal Persib main, sudah sangat terasa aromanya dg banyaknya orang yang memakai baju Persib.

    Coba kita ke Jakarta, yg katanya The Jak saingana Bobotoh. Saingan naon? Nyaris enggak kelihatan ada sosok yang berjalan memakai baju orange. Begitu pula di Palembang, Banjarmasin, Balikpapan. Masih mendinglah di Malang atau Surabaya dan sekarang Bali.

    Oh iya kaliwat, kenapa lantas Persipura bisa juara berkali-kali. Ah itu kan jelas, ketika isu separatisme kencang di Bumi Cendrawasih, di situ pula Persipura berjaya. Kalau Papua adem ayem, teu kudu lah Persipura juara, giliran yang lain saja dulu.

    So sampai sini, menurut analisis bobotoh nu keur lieur, PSSI sesungguhnya telah melaksanakan tugasnya untuk mempersatukan bangsa Indonesia melalui penjatahan juara Liga Indonesia.

    Sugan beberapa tahun ke depan ada isu Kalbar memisahkan diri, so kita bisa liat Persipon Pontianak naik podium menerima piala Liga Indonesia. Aamiin

    Ini tugas PSSI dan PT. LI bagaimana membuat bisnis sepakbola merata di seluruh tanah air. Dan saatnya kita ucapkan selamat kepada PSSI yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

    #tos ah, tos bade boarding pesawatna hehe ...

    #persibday
    #persib tetap di hati
    #persib tetap juara
    #persib juara Liga Indonesia 2018 (Bobotoh.ID/RCK)

    Ditulis oleh Okke Permadhi

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.
    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli