Teranyar

    Menilik Operasi Senyap Manuver Manajemen Persib

    2 November 2018 14:49
    Sebagai bobotoh Persib, topik keseharian saya sekarang ini hampir selalu membicarakan mengenai sanksi Persib dari Komdis PSSI. Pun dengan di kehidupan nyata, berbagai media sosial yang saya miliki pun tak henti-hentinyanya membicarakan topik yang tak jauh beda dari apa yang saya sebutkan tadi.

    Beberapa lama berselang, setelah sekitar seminggu setelah sanksi dikeluarkan Komisi Displin (PSSI) dan manajemen Persib mengajukan banding, topik pun menjadi berganti: Bagaimana keputusan banding?.

    Satu, dua, hingga tiga minggu sanksi dikeluarkan, juga banding yang telah diajukan, sama sekali tak ada desas-desus apapun mengenai apa, bagaimana dan kapan hasil banding tersebut akan dikeluarkan. Mengesalkan tentunya ketika saya, ataupun juga teman-teman lainnya melihat Persib bermain pincang dan harus bermain tanpa beberapa pemain intinya. Juga menyedihkan ketika lima pertandignan berturut-turut Persib tak kunjung meraih kemenangan, salah satu akibatnya : efek dari sanksi-sanksi yang berjatuhan.

    Oleh karena itu, tulisan ini saya buat sebagai salah satu keresahan saya dan juga semoga bisa menjawab keresahan teman-teman bobotoh semua, ataupun juga jika berkenan satu hati dengan keresahan dan pendapat saya di tulisan yang saya buat ini.

    “Pergerakan Senyap” Manajemen Persib

    Saya banyak membaca di media sosial mengenai teman-teman bobotoh yang jengah dengan tingkah laku manajemen yang seolah diam tak merespon sanksi atau cenderung manggut- manggut saja. Rasa penasaran saya mulai muncul dari sini, apakah benar manajemen Persib begitu adanya?

    Berbagai sumber berita telah saya, termasuk ketika saya menemukan berita tentang konferensi pers manajemen Persib yang mempersoalkan tindakan Gomez yang dianggap terlalu menyudutkan pihak manajemen Persib.

    Setelah berita itu muncul, banyak kicauan dan argument bermunculan tentang:

    1. Kenapa di konferensi pers itu tidak ada sedikitpun penjelasan mengenai reaksi manajemen Persib terkait sanksi Komdis PSSI?

    2. Kenapa manajemen Persib tak membeberkan banding yang diajukan?

    3. Kenapa manajemen Persib seolah pasrah dan diam tak bersuara soal sanksi yang memberatkan Persib?

    Ya, kenapa, kenapa, dan kenapa. Itulah yang menjadi pertanyaan banyak dari teman-teman bobotoh. Disini saya akan beropini menurut pemikiran saya.

    Tentunya, berkoar melalui konferensi pers lalu disebarkan oleh media luas akan sangat riskan. Loh, riskan kenapa? Opininya begini: ini kan Persib sedang "merayu" PSSI dalam hal ini Komisi Banding, lalu kenapa harus bercuap ini itu ke khalayak yang halnya rahasia?

    Atau juga bisa menggunakan opini ini: Kamu punya teman, lalu kamu mengharapkan sesuatu yang baik dari si teman kamu itu, walaupun si teman kamu itu punya keburukan, masa sih kamu mau ceritain keburukan dia di depan orang banyak? Bukannya kamu lagi "merayu" supaya dapat sesuatu "hal baik" dari dia?

    Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa Persib adalah klub sepak bola yang bernaung dibawah PSSI, (mau tidak mau) sehingga harus menghormati keputusan dan aturan yang berlaku di PSSI.

    Begitu kira-kira.

    Bagi saya, manajemen Persib sudah melakukan hal yang tepat. Saya yakin mereka melakukan suatu pekerjaan yang sangat keras untuk mengatasi sanksi dari Komdis (Komisi Disiplin) PSSI dan mengemas "senjata jitu" melalui memori banding yang diajukan ke Komding (Komisi Banding) PSSI.

    Saya mengerti bagi kalian teman-teman bobotoh pasti gerah dengan apa yang kalian lihat. Saya pun sama, awalnya. Tapi setelah menilik logika lebih dalam, melalui opini yang saya beberkan diatas, saya berubah pikiran menjadi yakin bahwa manajemen sedang melakukan sesuatu di belakang layar.

    Pun dengan sebutan bahwa manajemen Persib seperti pasrah terhadap sanksi yang diberikan kepada tim. Karena saya seorang yang selalu ingin cari tahu, saya juga berusaha menelisik, juga sembari ditambah dengan logika dari saya.

    Hal pertama yang saya tahu adalah ketika manajemen Persib mengumpulkan beberapa tokoh bobotoh di kantor Persib belum lama ini. Kalau tidak salah ada sekitar 20 orang dari mereka yang diundang. Pembahasannya (katanya) tak jauh tentang penjelasan pergerakan manajemen terhadap sanksi dari Komisi Disiplin PSSI dan juga menjelaskan banding yang sudah dikirimkan kepada Komisi Banding PSSI.

    Sang bos besar, Glenn Sugita, melalui akun twitternya juga sudah membeberkan secara rinci terkait bagaimana sikap Persib terhadap sanksi yang dijatuhkan. Tak perlu saya jelaskan secara rinci apa yang disebutkan pak Glenn di twitternya. Tapi disitu, beliau sempat mengunggah sebuah foto yang dimana terdapat sebuah kertas yang mungkin jumlahnya ratusan, atau mungkin bisa juga ribuan, yang disebut merupakan draf memori banding yang diajukan oleh Persib kepada Komisi Banding PSSI.

    Opini saya menilik, wah, dari postingan itu, bisa diibaratkan mereka yang ada didalam sana bak penjual jamu yang mahir, meracik dan meramu jamu dengan jeli supaya pas untuk dinikmati. Dalam hal ini, saya bermaksud, pasti manajemen Persib sangat serius meramu draf memori banding itu. Karena kasus yang dihadapi pun bukan main-main.

    Tak menutup kemungkinan juga manajemen telah mempelajari secara rinci aturan FIFA soal prosedur keamanan stadion, mengacu pada salah satu sanksi yang diberikan Komdis PSSI lantaran Panpel Persib dianggap lalai menjalankan tugasnya ketika ada suporter dari Persija Jakarta yang tewas di luar stadion. Mungkin ini sudah banyak dibahas, tetapi saya juga mau mengulas, dalam aturan FIFA, kejadian kekerasan yang terjadi diluar stadion bukanlah tanggung jawab dari si panitia pelaksana. Dari sini teman-teman yang bisa menalar sendiri. Apalagi kejadian tewasnya suporter Persija kemarin berjarak -+165m dari Stadion GBLA. Dan hal itu, pastinya saya yakini ada dalam draf banding dari manajemen Persib.

    Saya meyakini juga langkah pasti yang dilakukan manajemen terkait sanksi larangan bobotoh untuk menonton ke stadion hingga paruh musim 2019, juga sanksi larangan Persib bermain di Bandung. Logika saya berpikir: Manajemen pasti butuh pemasukan dari biaya tiket untuk membayar gaji para pemain. Pastinya mereka tidak akan tinggal diam dari ini. Karena jika mereka diam saja, habislah Persib, tanpa pemasukan apa-apa, yang ada hanya pengeluaran terus menerus lantaran harus melakukan partai kandang usiran yang memakan biaya banyak mulai dari akomodasi dan juga biaya sewa stadion. Belum lagi biaya away tim yang hitungannya ratusan juta, juga bahkan mungkin ada yang menyentuh angka miliyar.

    Selain Persib, banyak sekali orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari pertandingan kendang Persib, juga mengalami kerugian karena tidak bisa melakukan aktivitas ekonomi pada saat Persib melakukan pertandingan kandang, misalnya pedagang kaos, pedagang minuman, tukang parkir, dan orang-orang yang mempunyai keterkaitan secara ekonomi dengan pertandingan kendang Persib

    Lalu, bagaimana dengan sanksi kepada Ezechiel, Bauman, Bojan, juga Fernando Soler?

    Kabar burung ini saya dapat belum lama ini. Kabar itu menyebutkan bahwa manajemen Persib hampir setiap hari, bahkan dalam satu hari terus berkali-kali menanyakan terkait hasil keputusan banding. Tak perlu saya sebutkan siapa yang dituju dari penjelasan saya ini, tapi yang jelas, yang mereka "ganggu" setiap hari oleh pertanyaan keputusan banding tersebut adalah kepada orang yang berwenang di PSSI. Tetapi semua ada aturan mainnya, tidak bisa seenaknya melakukan protes. Kalaupun melakukan protes, semua ada aturan mainnya, tidak bisa seperti parlemen jalanan yang melakukan protes tanpa aturan.

    Disini saya berhuznudzan, mungkin saja, pihak berwenang di PSSI kebingungan untuk kapan, apa, dan bagaimana keputusan yang harus mereka keluarkan. Walaupun sampai akhirnya hasil banding tersebut (untuk pemain dan Soler) keluar dan tak ada yang berubah. Lagian juga percuma, keputusannya juga baru keluar setelah semua sanksi (kecuali Soler) selesai. Atau memang Persib sedang di “kerjai” oleh komisi disiplin? He he he.

    Gerakan #Seruikeun

    Tagar ini pertama kali diramaikan oleh bobotoh. Muncul sebagai bentuk perlawanan dan kekesalan bobotoh terhadap keputusan “edan eling” dari PSSI, dimana bobotoh meminta agar Persib menjalani sisa kandang kompetisi 2018 ini di Serui, Papua.

    Aspirasi #Seruikeun dipercaya sebagai aksi 'counter attack' terhadap sanksi PSSI. Gilanya, keputusan “edan eling” dibalas dengan perlawanan aspirasi yang “edan eling” juga.

    Kenapa bisa disebut begitu? Kita semua sama-sama tahu, Perseru Serui setiap bermain kandang di Marora, Serui tak pernah sekalipun disiarkan secara langsung oleh stasiun pemegang hak siar Liga 1 2018. Kerugian tersendiri tentunya bagi Perseru yang tentunya mendapat jatah paling sedikit mengenai dana pembagian hak siar.

    Rugi bagi Serui, justru Persib ingin mengikuti. “Kumaha teu edan, sok?”. Pasalnya, jika Persib bermain di Marora, pemegang hak siar tidak bisa menyiarkan secara langsung.

    Apalagi Persib menjadi satu-satunya tim yang hampir semua laganya disiarkan langsung oleh televisi (kecuali main di Serui). Tentunya banyak “keuntungan” yang diraup dari Persib akan hal itu. Tetapi karena terlanjur dikerjai, Persib hampir saja mengerjai balik jika saja jadi berkandang di Marora. Keputusan batal berkandang di Marora lantaran lapangan disana dianggap tak memadai untuk Persib bermain baik. Pastinya riskan untuk prestasi Persib.

    Lalu, bagaimana respon manajemen? Para petinggi Persib juga nampaknya merasakan apa yang dirasakan oleh para bobotoh. Saya sempat melihat salah satu kicauan Direktur PT PBB, Teddy Tjahjono melalui akun pribadi twitternya. Teddy yang nampak setuju dengan aspirasi bobotoh juga tak malu menyuarakan “#Seruikeun “ di akunnya. Bukan hanya satu atau dua, Teddy yang saya nilai nampak gusar pun beberapa kali berkicau tentang keputusan banding yang tak kunjung keluar,hingga kicauan tentang "skenario' sang juara liga, yang mungkin telah diketahuinya.

    Bagi saya, hal ini bisa jadi acuan. Dibalik “senyapnya” manajemen Persib, sama dengan apa yang dirasakan oleh bobotoh, nyatanya terkadang mereka gundah gulana juga dengan sanksi yang dijatuhkan kepada Persib. He he he.

    Dalam artian garis besarnya, secara tak langsung Teddy juga mengindikasikan adanya perlawanan dari manajemen Persib terhadap sanksi PSSI. Meskipun di hadapan khalayak mereka tetap ingin terlihat senyap.

    Tak Ada yang Berjuang Sendirian

    Lebih lanjut disisi yang lain, saya juga terkesan dengan tangan dingin Mario Gomez tentang "How to treat the team". Bayangkan saja, Persib yang diawal musim sempat diragukan (atau mungkin sangat diragukan) untuk bertengger di klasemen atas justru terbantahkan oleh bagaimana cara Gomez membawa tim ini menjadi jauh lebih baik.

    Hingga akhirnya sanksi berjatuhan, Gomez mungkin telah jengah (cenderung stress) memikirkan para pemainnya yang dilarang bermain karena sanksi. Bayangkan saja, 7 pemain. 7 pemain inti. Kurang banyak apalagi? Real Madrid tanpa Cristiano Ronaldo di musim ini pun agak pincang loh. Padahal itu baru satu pemain. Belum lagi kalau 7 pemain, Real Madrid mungkin hanya jadi tim pemanis daftar degradasi diawal musim Liga Spanyol ini.

    Dan keyakinan saya juga meyakinkan bahwa tidak ada yang berjuang sendiri bagi siapapun yang mau Persib maju. Gomez, pemain, manajemen, bobotoh, semuanya adalah satu kesatuan yang pastinya menginginkan Persib lebih baik, juga tangguh. Terutama dalam menghadapi kasus sanksi yang dirasakan pahit oleh semua elemen diatas.

    Hanya mungkin cara penyampaiannya yang berbeda. Gomez dan pemain yang berjuang di lapangan, bobotoh yang tak henti-hentinya terus memberikan dukungan juga masukan, dan manajemen yang melakukan "operasi senyap" menghadapi persoalan ini.

    Semoga apa yang kita lihat di akhir musim tetap sama, melihat Persib dengan bangga mengangkat piala juara. Sembari menepis (atau boleh juga menertawakan) permainan kotor diluar sana yang tak henti-hentinya menjatuhkan Persib. Hidup Persib!*

    *Dari saya, penulis yang hobi makan nasi dengan lauk pauknya, berakun sosial media @renofrinaldi.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli