Teranyar

    (Mungkin) Mimpi Itu Mulai Pupus

    31 October 2018 11:14
    Sejak 8 tahun lalu, saya mengikrarkan diri sebagai bobotoh yang nun jauh dari Bandung namun hati tetap biru. Di tempat saya berada, #settongdhere adalah sebuah identitas, akan tetapi saya memilih untuk #persibsalawasna. ***

    Sejak insiden berdarah di GBLA, seluruh masyarakat penikmat sepak bola maupun tidak, sangat menyayangkan atas insiden tersebut. Sejak itu, talkshow sering ditayangkan, mulai dari para tokoh elit, beberapa suporter hingga para keluarga korban didatangkan di jamuan acara televisi, untuk menyatakan fakta, pendapat, hingga kesan sedih dari keluarga korban. Sedih, iya. Marah, iya. Namun siapa mau kejadian ini terus terulang, lagi dan lagi.

    Namun kenyataannya, sepak bola memang keras bagi suporter garis keras. Padahal dari beberapa itu, masih banyak ribuan suporter yang ingin menikmati senja di dalam stadion, atau istirahat dari lelahnya bekerja dengan nyetadion. Ah, ngomongin kejadian itu bikin luka yang setengah kering kembali menganga.

    PSSI, selaku federasi tertinggi sepak bola segera melakukan tindakan, yaitu menghentikan sementara kegiatan pertandingan Liga selama waktu yang belum ditentukan. Sedangkan dari pihak pemerintah sendiri memberi waktu dua minggu. Apa selanjutnya yang dilakukan PSSI tersebut di luar ekspektasi masyarakat (untuk lebih berbicara kepada orang banyak), penghentian sementara itu hanya untuk mengeluarkan “Sanksi untuk PERSIB BANDUNG”. Gerak cepatnya federasi hanya untuk mencari siapa yang harus BERTANGGUNG JAWAB atas insiden tersebut.

    Dampaknya bagi Persib Bandung, tidak akan ada suara gemuruh di stadion hingga separuh musim depan. Letih para pemain karena harus gonta-ganti stadion yang jaraknya harus lompatin pulau dan laut. Dan dengan tanpa pemain pilarnya yang sedang “naik daun”. Itu adalah ganjaran bagi klub yang punya basis suporter besar di muka bumi ini. Persib tidak salah punya suporter sebanyak itu dan memang tidak dibatasi, hanya saja ini menimbulkan gesekan-gesekan baru yang tanpa disadari oleh federasi atas sanksi yang sebagian pihak menilai, sanksi yang dijatuhkan ini bukan langkah konkrit yang tepat atau jika bisa dibilang keliru.

    Pasca sanksi dikeluarkan, Persib sudah memulai pertandingan pada pekan ke-24 dengan bertanding di Pulau Kalimantan, dengan dipilihnya sebagai markas Persib sementara adalah Stadion Batakan, Balikpapan. Selanjutnya, tentu tanpa suporter Persib Bandung. Stadion steril dari aktivitas bentuk dukungan dalam bentuk apapun: spanduk, nyanyian, koreo bahkan tepuk tangan dan suara riuh penonton tidak ada. Semua tidak akan sama. Persib saat itu kalah dari Madura United 2-1, posisi puncak pun rawan.

    Selanjutnya, pertandingan kandang ke dua tanpa penonton digelar di markas Bali United, Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali. Persib melawan sahabat karibnya, Persebaya Surabaya. Meski posisi kedua tim berbeda jauh di klasemen, namun kedua tim tidak ingin menyianyiakan pertandingan tersebut. Persib ingin menjaga posisi klasemen atas, sedangkan Persebaya ingin menjaga diri agar tidak terperosok ke posisi bawah. Persebaya tentu mendapat keuntungan dengan tidak adanya suporter dari tuan rumah, mereka akan berkonsentrasi penuh untuk mencuri poin. Sedangkan Persib tentu memiliki beban sebagai pemuncak klasemen. Ini yang tidak diharapkan, Persib kalah di kandang untuk kesekian.

    Harapan untuk juara tahun ini semakin berat, Persib harus merelakan posisinya terlebih dahulu diambil alih oleh klub tertua di Indonesia, PSM Makassar, karena bertambahnya terus poin mereka. Mimpi itu sedikit demi sedikit mulai terkikis, meskipun Persib tentu harus tetap menjaga optimis dan mimpi untuk dapat merengkuh gelar juara di tahun ini. Menambah koleksi bintang ketiga nya, harapan seluruh Bobotoh tentunya.

    Persib belum bisa menambah poinnya setelah gagal mencuri poin di Makassar, dan terakhir adalah bermain imbang dengan Bali United dengan Persib selaku tuan rumah ((tanpa penonton)) kembali di Stadion Batakan, Balikpapan. Hasil yang tidak diharapkan oleh para pemain, pelatih dan ribuan bahkan jutaan Bobotoh di seantero negeri, posisi yang sudah tidak dipuncak.

    Padahal, pekan-pekan sebelum ini (untuk tidak menyebut sebelum kejadian berdarah tersebut), ada rasa sukacita di hati para Bobotoh termasuk saya sendiri, bahwa Bobotoh optimis Persib dapat merengkuh piala musim ini. Namun dengan kenyataan yang ada sekarang, kita tetap harus menjaga optimis, meskipun di putaran awal, tidak ada ekspektasi untuk dapat berada di posisi puncak. Malah kami (Bobotoh) melihat sebelah mata pada skuad Persib tahun ini yang berbeda pada masa keemasan alias “The Golden Era” yang diimpikan oleh pihak manajemen pada musim lalu, dan ternyata melenceng jauh dari magisnya kata “Golden” tersebut.

    Selama pertandingan kontra Bali United tadi malam (30/10), saya melihat para pemain Persib kehilangan gairah permainannya di atas lapangan tanpa ada dukungan langsung dari Bobotoh. Lapangan serasa tidak ada daya pikat yang kuat, yang berbeda ketika ada riuhan suporter yang memenuhi stadion. Saya hanya dapat menebak seperti itu meskipun yang mengetahui kondisi di lapangan adalah para pemain sendiri dan pelatih. Tentu ini sangat disayangkan bahwa Persib harus bekerja ekstra keras lagi untuk dapat merebut kembali posisi puncaknya yang bertahan beberapa pekan. Ini akan menjadi perjalanan kompetisi yang berat.

    Meskipun mimpi yang sempat dibangun itu sedikit demi sedikit mulai pupus (jika tidak ingin mengatakan “harus” dipupus), namun seperti yang sudah saya tulis di awal, bagaimanapun kondisi Persib saat ini, Persib juara atau tidak tahun ini, saya tetap #persibsalawasna meski dengan sedikit sakit dan sedih atas kenyataan ini.*

    *Penulis adalah seorang bobotoh bernama Ziza Ramdani


    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli