Teranyar

    Pasti Kudu Turun, Kan Ada Ulama Stunting

    5 July 2021 21:29
    BKKBN Jabar
    Profesor Tegaskan Stunting Butuh Pendekatan Multidisiplin. BKKBN Ajak 100 Profesor Cari Cara Cepat Turunkan Stunting
    Tok...! Palu itu sempat diketok cukup keras, Pemerintah ingin angka kekerdilan pada anak ataw stunting turun secara radikal, dari 27,6 prosen pada 2019 lalu jadi hanya 14 prosen pada 2024 mendatang, titik !

    Dan, Senin, 5 Juli 2021 tak kepalang tanggung BKKBN menyieun webinar maraton, langsung bertanya ke ulama Stunting. Nanya ka 100 profesor lintas sektor. Pok, Pek, Prak ! Warbiyasah.

    Tiga guru besar anggota Asosiasi Profesor Indonesia, Meutia Hatta Swasono dari UI, Hardinsyah dari IPB University, dan Hendriati Agustiani dari Unpad jadi bagian dari 100 profesor yang dimintai sarannya keur upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia.

    “Di sinilah kerja sama antara pihak peneliti di bidang kedokteran dengan bidang antropologi dapat bekerjasama. Dalam perencanaan dan pelaksanaan program gizi untuk mencegah stunting misalnya," tutur Meutia Hatta.

    Jelas Meutia, mereka dapat menyampaikan komunikasi kesehatan yang mudah dicerna, gampang dipahami oleh kader dan masyarakat melalui kerjasama dengan ilmuwan komunikasi yang mengetahui infografis yang tepat dan efektif.

    Juga ilmuwan antropologi bisa memere masukan mengenai aspek sosial-budaya masyarakat yang memungkinkan masyarakat menerima dengan baik pesan-pesan komunikasi kesehatan yang direncanakan.

    "Dari ilmuwan psikologi diperlukan pemahaman mengenai tipe kepribadian masyarakat yang perlu diberi program pemenuhan gizi,” tambahnya.

    Secara kheuseus, dalam kerjasama penelitian antardisiplin terkait bidang antropologi dan bidang psikologi, ilmuwan psikologi dapat menjembatani peranan mertua dan peranan ibu dalam memutuskan pemberian makanan terbaik untuk bayi dalam periode 1.000 hari pertama kelahiran.

    Juga, bersama-sama menemukan cara-cara mengurangi potensi konflik mental antara pihak yang berkuasa dan yang tertekan dalam hubungan antarwarga dan rumah tangga penerima program.

    Sementara itu, profesor Hardinsyah menekankan pentingnya pemenuhan gizi sejak awal 1000 hari pertama kelahiran. Ceuk profesor, perbaikan gizi dimulai dari ibu hamil, ibu menyusui, pemberian ASI, dan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, aman, dan bergizi.

    Hardinsyah memere contoh rendahnya konsumsi telor di Indonesia. Padahal, sebuah riset menunjukkan memere satu butir telur setiap hari selama enam bulan pada anak 6-9 bulan, mampu menurunkan stunting hingga 47 persen dan underweight 74 persen. !

    “Gizi seimbang dengan pengayaan tertentu pada pangan sumber protein, terutama telur, ikan, dan susu dapat mencegah stunting," ujarnya.

    Juga, perbaikan gizi ibu hamil dapat dilakukan melalui penguatan fungsi keluarga. Melalui peningkatan peran suami dan anggota keluarga untuk memberikan perhatian, doa, kasih sayang, perlindungan, dan memberikan prioritas makanan, dan minuman bagi pemenuhan gizi bumil serta mengurangi beban kerja dan meminimalkan stres bumil.

    Dan, Hendriati Agustian, guru besar Fakultas Psikologi Unpad menekankan stunting dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya orang tua memegang peranan penting dalam membentuk perilaku makan dari anak melalui pola asuh dan gaya makan. Di sinilah pentingnya pola asuh orang tua terhadap anaknya.

    “Orang tua dapat memberi pengaruh besar pada kebiasaan makan anak-anak. Tindakan orang tua mengacu pada harapan menyiapkan anak menghadapi kehidupan," papar profesor Hendriati.

    Karena itu, peran parenting dalam pencegahan stunting sangat signifikan. Ini menyangkut kesiapan calon ibu dan calon ayah dalam menghadapi kehamilan. Dalam hal ini kesiapan kesiapan fisik maupun psikologis.

    Jadi, bisakan angka kekerdilan pada anak ataw stunting turun secara radikal, dari 27,6 prosen pada 2019 jadi hanya 14 prosen pada 2024 mendatang ?! Pasti kudu turun, kan ada ulama stunting ! (Bobotoh.id/HR-NJP)