Teranyar

    Peduli Lingkungan dan Dorongan Budi Cilok Punya Alasan Mengapa Jangan Nyampah!

    19 May 2021 11:13
    Budi Cilok saat hadir di acara Ipok Meti presented by Kopi Tubruk Gadjah. (Bobotoh.id/AH)
    Berawal dari kejengahannya lantaran selalu terkena banjir di tempat tinggalnya di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Budi Cilok menggerakkan dirinya sendiri untuk peduli terhadap lingkungan.
    Dari hari ke hari, kita kerap kali melihat lingkungan yang kurang asri. Tak hanya diperkotaan, kini di pedesaan pun mulai terkena dampak dari pencemaran lingkungan.

    Hal itu juga dirasakan oleh Budi Cilok, musisi yang juga bergerak aktif dalam kepedulian terhadap lingkungan. Berawal dari kejengahannya lantaran selalu terkena banjir di tempat tinggalnya di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Budi Cilok menggerakkan dirinya sendiri untuk peduli terhadap lingkungan.

    Cerita tersebut diungkapkan oleh Budi Cilok saat berbincang di acara Ipok Meti presented by Kopi Tubruk Gadjah yang ditayangkan di kanal Youtube Bobotoh TV.


    "Saya bergerak untuk peduli akan sampah itu semenjak saya bosan kebanjiran di Dayeuhkolot. Karena terlalu sering kebanjiran itu, saya berpikir bahwa ada yang harus diperbaiki dari tanah dan air. Tetapi tentunya saya tidak bisa membersihkan sungai Citarum, mau bagaimanapun yang harus diperbaiki adalah dari diri kita pribadi. Contohnya ketika kita makan, apa yang setidaknya akan menjadi sampah itu harus kita pilah dan diselamatkan. Jadi harus seperti itu terlebih dahulu, karena kalau marah ke orang lain itu akan susah," ungkap Budi Cilok.



    Dirinya menyebut, peduli lingkungan tak harus selalu dimulai dalam skala besar. Seperti contohnya bisa dimulai dengan cara memilah sampah dan peduli akan lingkungan di tempat tinggal sendiri terlebih dahulu. Menurut Budi Cilok, hal kecil tersebut akan berdampak besar jika memang dirinya dan banyak orang lain bisa menghormati dan menghargai alam.

    "Saya bisa lebih dibilang aktivitas lingkungan, seperti contohnya setiap pagi saya dan istri saya selalu memilah sampah. Jadi saya suka memilah sampah dari lingkungan-lingkungan saya sendiri terutama, belajar bersih intinya. Saya juga lagi belajar bersih, tidak mengotori tanah, tidak terlalu merusak tanah dan juga tidak merusak apa yang sudah ada," tutur Budi Cilok.

    "Saya beranggapan bahwa ketika kita mengotori tanah, artinya mengotori diri kita sendiri. Jadi saya belajar untuk bersih, belajar sopan ke tanah dan air. Kalau berbicara komunitas, saya masuk ke komunitas mana saja, dari satu ke komunitas yang lain saya selalu berbicara mengenai sampah. Tapi tadinya saya hanya berawal dari sendirian saja," ujar Budi Cilok.



    Kini, Budi Cilok juga mengaku dirinya aktif keliling ke karang taruna di pedesaan Jawa Barat untuk membagi pengalamannya agar masyarakat peduli lingkungan dan alam sekitarnya sendiri. Usaha itu pun berhasil, di mana ada pedesaan yang awalnya kumuh dipenuhi sampah-sampah, perlahan-lahan atas dasar kemauan dari masyarakat itu sendiri bisa menciptakan desa yang asri dan enak untuk dilihat.

    "Saya aktif bersama karang taruna, jadi saya sering silaturahmi bersama karang taruna kurang lebih dua tahun ini di Jawa Barat. Tentunya banyak dampak positif setelah saya selama dua tahun ini keliling ke karang taruna, di tahun kedua saya bertemu dengan kampung yang keren-keren dan bersih. Dari awalnya yang banyak sampah, kampungnya itu jadi bersih dan tertata, jadi enak dilihat. Jadi untuk membicarakan lingkungan itu harus berawal dari rumah dan desa masing-masing." terang Budi Cilok. (Bobotoh.id/RF)