Teranyar

    Peringatan Hari Bahasa Ibu, Ieu Ceuk Wartawan Mangle

    21 February 2019 10:32
    Jangan sampai gengsi atau malu menggunakan bahasa Sunda walau harus bercampur dengan bahasa Indonesia
    21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu Internasional atau International Mother Language Day. Hari Bahasa Ibu Internasional ini ditetapkan pada tanggal 17 November 1999 silam oleh badan PBB, UNESCO.

    Dalam kesempatan ini, Bobotoh.id berbincang dengan Dede Syafrudin, salah seorang Bobotoh yang juga wartawan majalah mingguan bahasa Sunda, Mangle.

    Ieu Rame Lur:

    Tandang Malang, Puluhan Bobotoh Memapag Persib Di Bandara!

    Badan Wasit Independen, Geus Siap?

    Menurut Dede, hari bahasa ibu atau 'poe basa Indung' itu memang penting. "Tetapi yang lebih penting adalah kita mau menggunakan bahasa Sunda atau bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari dengan anak atau dengan anggota keluarga yang lain," tutur Dede melalui aplikasi pengolah pesan Rabu malam 20/2/2019.

    "Bila situasinya seperti itu tidak masalah, yang penting tidak kehilangan ciri khas Sundanya. 'Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman', karena bahasa Sunda sekarang juga kan berbeda dengan bahasa Sunda 'hana nguni hana mangke'"
    - Dede Syafrudin, Bobotoh/Wartawan Majalah Bahasa Sunda Mangle



    Menurutnya lagi, jangan merasa malu untuk mengajarkan berbahasa Sunda kepada anak cucu sendiri, padahal sehari-hari berprofesi sebagai peneliti bahasa Sunda, budayawan, atau doktor ilmu kesundaan.

    Ieu Rame Lur:

    Aya Loker Di PSSI. Minat?

    Office Boy Oge Dimanfaatkan Djokdri

    Dede juga berpendapat, bila penggunaan bahassa Sunda yang dicampur dengan bahasa Indonesia dan atau sebaliknya justru memperkaya bahasa itu sendiri.

    "Bila situasinya seperti itu tidak masalah, yang penting tidak kehilangan ciri khas Sundanya. 'Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman', karena bahasa Sunda sekarang juga kan berbeda dengan bahasa Sunda 'hana nguni hana mangke', tutur Dede lagi mengutip istilah dari naskah kuno Carita Parahiangan.

    "Untuk gunem catur (berbincang) dalam bahasa SUnda, jangan merasa gengsi. Jangan takut salah , jangan terlalu berpatokan dengan undak-usuk basa Sunda," sarannya lagi.

    Menurut Dede, komunikasi harus cair apalagi dengan teman atau rekan sejawat. Jangan ragu untuk menggunakan bahasa yang dianggap 'kasar' atau 'loma' akrab untuk berkomunikasi.

    "Karena bicara itu memiliki nada, maka akan dapat diketahui pembicaraan itu dalam suasana akrab atau dalam bahasa kasar. Apalagi dengan teman, lebih cair. Mengatakan aing-silaing lebih cair dibanding kuring-anjeun," papar Dede lagi.

    Ketika disinggung peran Persib atau media sosial Bobotoh yang menggunakan bahasa Sunda saat berinteraksi di ranah media sosial, Dede berpendapat positif.

    "Bagus lah, biarkan di ruang publik mengalir seperti apa adanya. Nanti bila memang harus dikoreksi barulah dipindah ke ruang diskusi," tutupnya. (Bobotoh.id/RCK. Foto: IST)


    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli