Teranyar

    PERSIB Ataoe (M)Bati!

    30 October 2018 17:32
    Setelah dihantam gelombang sanksi yang tak kunjung usai, kini memasuki akhir Liga 1 ieu, PERSIB didera berbagai permasalahan baik di dalam lapangan, luar lapangan jeung di jero tubuh PERSIB sorangan.

    Racikan skuad uyuhan ala Abah Gomez tetap konsisten sejauh ini. Para pemain di lapangan maen make hate, make getih. Maung tarung make sihung. Alhamdulillah PERSIB masih bertahan di posisi ka-2 atau ka-3 tergantung versiklasemen liga orowodol atau versi FIFA.

    Ieu Rame Lur:

    Persebaya Tumbang di Jayapura!

    11 Menit Berbahaya Dalam Penerbangan Pesawat!

    Geus puguh ning di luar lapangan mah loba nu nista maja utama ningali PERSIB juara, di jero lapangan wasit oge loba teuing lalajo sinetron india tibatan lalajo bagaimana kualitas wasit memimpin pertandingan di liga luar negri. Eh masalah datang deui ti jero PERSIB sorangan. Manajeman (terkesan) masih konsisten dalam hal loba lila dalam mengambil keputusan nu pernah saya bahas di Musuh Dalam Selimut Itu Bernama... 

    Permasalahan diatas seolah menandakan ada masalah dalam komunikasi kita semua. Komunikasi pupuhu fans PERSIB dengan akar rumput masih sok aya nu eror, termasuk kasus kajadian pengeroyokan kamari. Komunikasi antara manajemen jeung staff dan pelatih siga nu tersendat. Komunikasi klub jeung federasi komo, poek!

    Ieu Rame Lur:

    Pelatih Jepang U19 Buka Peluang Latih Klub Indonesia

    Laga Pembuktian Maung Bandung

    Kini tulisan saya eta kabuktian. Jajaran manajemen konsisten dengan sikapnya yang (terkesan) serba tanggung, serba lambat dan serba ragu jeung terus berulang. Setidaknya menurut (saya dan) Abah Gomez. Ieu tangtu berdampak pada pemain, pelatih, official dan klub secara umum.

    Kondisi ieu jelas bakal ngaruksak PERSIB, menggerogoti dari dalam. Pelatih dan pemain nepi ka ngarasa sorangan, asa teu boga sasaha anu nangtayungan, menenangkan dan menguatkan tim ketika tim sedang terpuruk! Meski hal ini dibantah oleh manajemen via konferensi pers, tetap hal ini menimbulkan tanya pada saya (dan mungkin anda) selaku bobotoh.

    Seolah ada mata rantai yang hilang dan terputus dalam hal komunikasi antara jajaran direksi, manajemen ke pelatih dan jajaran staffnya. Ini ibarat sebuah lelucon di tengah pincang dan sakitnya PERSIB! Bukannya mencari dan menjadi solusi, malah menghakimi!

    Apakah kendala bahasa? Kan geus aya Soler selaku penerjemah (sekaligus asisten pelatih)!? Apa PERSIB masih bingung soal kiblat dan fungsi managerial nu pernah saya bahas di Tinjauan Pra Musim: Persib Ngiblat Ke Mana? https://bobotoh.id/baca/tinjauan-pramusim-i-persib-ngiblat-ke-mana.

    Atau ini semua karena manajemen geus nyaho saha klub anu bakal jadi juara liga ayeuna nu siga sistem arisan sehingga lagi-lagi (terkesan) pasrah narima kondisi ieu?

    Kembali ke masalah banding, meski (kabarnya) memo banding sudah disampaikan beberapa hari setelah sanksi dijatuhkan, nyatanya hingga kini belum ada putusan dari komisi banding. Naha teu boga tim legal atau kuasa hukum nu bisa gerak cepat untuk berkoordinasi dengan KOMDING, meminta putusan atau sekedar audiensi dan menyatakan sudah sejauh mana progress banding tersebut?

    Naha PERSIB teu boga perwakilan anggota di PSSI baik di tingkat Asosiasi PSSI Kota (askot) Bandung, Asosiasi PSSI Provinsi (asprov) Jabar atau Executive Comitee (exco) PSSI nu bisa menjembatani ieu?

    Bukankah anggota Asosiasi PSSI terdiri dari berbagai elemen klub baik di tingkat kota maupun provinsi di Indonesia (dulu istilahnya pengurus cabang/ pengcab)? Mun aya, kamarana?

    Kondisi PERSIB ieu membutuhkan peran aktif ti kabeh elemen baik di dalam maupun di luar tubuh PERSIB itu sendiri. Khusus Askot Bandung, 24 November mendatang aya Kongres Luar Biasa (KLB) Askot untuk pemilihan ketua, wakil jeung exco baru. KLB ieu kesempatan bagi mereka insan yang peduli sepakbola khususnya di Kota Bandung untuk muncul dan menjadi solusi sekaligus jembatan antara klub di bawah naungan asosiasi kepada PSSI selaku induk federasi. Kabeneran ketua umum Askot Bandung saat ini adalah Kang Yana Mulyana, Wakil Walikota Bandung.

    Cik Kang, punten bantos PERSIB melalui jalur diplomasi. Tak perlu ikut #buligirday siga Kang Emil kapungkur. Cukup sampaikan aspirasi kami selaku bobotoh, jembatani PERSIB dan PSSI sebagai induk federasi.

    Sejauh ini baik Askot Bandung maupun Asprov Jabar oge terkesan tiis-tiis wae. Entah karena konflik lamanya dengan PT. PBB? Askot ieu kan nu jadi PT. PERSIB 1933!

    Panjang caritana lamun ngarunut informasi asal usul PT. PBB jeung kepemilikan saham konsorsium terhadap PERSIB jeung tidak dilibatkannya klub-klub yang dulu bernaung di bawah PERSIB hingga akhirnya mereka membentuk PT. PERSIB 1933. Mangga bootoh googling!

    Pasca PT. PBB mengambil alih kepemilikan PERSIB, memang terdapat banyak perbaikan di sana-sini terutama bagaimana mereka mengelola brand dan market value PERSIB menjadi semakin besar. Perbaikan yang (menurut saya) lebih ke arah bisnis, ngala bati. Ti mulai membership, official merchandise jeung sajaba na. Bahkan terkadang dimanfaatkan untuk muatan politis tertentu.

    PT. PBB ieu jelas lain Syekh Mansour-nya Manchester City. Pas mengakuisisi saham mayoritas City, Syekh Mansour langsung berkata “We are building a structure for the future, not just a team of all stars”.

    Visi nu edun pisan nepi quotes ieu dipajang di kantor City. Lain ngan sakukur ngabangun skuad bertabur bintang, tapi struktur untuk masa depan!

    Guna mendukung visi tersebut, Syekh Mansour ieu langsung ngabajak Ferran Soriano dan Txiki Begiristain ti Barcelona. Ferran Soriano ditugaskeun sebagai CEO, ngurus sagala anu berhubungan jeung perusahaan/ kesebelasan City. Txiki Begiristain jadin direktur sepakbola, scouting pemaen dan membuat akademi sepakbola La Masia ala Barca di City. Teu kagok, City oge ngabajak sakalian jeung Pep Guardiola-na.

    Ieu contoh visi seorang pemilik perusahaan yang diterjemahkan dan dilaksanakan dengan baik oleh para bawahannya. Hasilnya ayeuna geus jelas. City jadi salah satu raksasa sepakbola di Eropa.

    PERSIB kumaha? Mangga bobotoh jawab nyalira! Ayeuna kieu weh, adakah unsur bobotoh atau mantan pemain PERSIB didalam tubuh PT. PBB selaku pemilik dan pengambil kebijakan? Adakah perwakilan bobotoh maupun mantan pemain yang suaranya didengar manajemen atau PT. PBB?

    Apakah PT. PBB sudah mensosialisasikan visi dan misi mereka dalam bentuk blueprint atau masterplan target dan pengembangan PERSIB untuk 10, 15, 50 tahun ke depan?

    Perlukah kita selaku bobotoh melakukan crowdfunding, penggalangan dana untuk membeli saham PT. PBB dan masuk kedalam jajaran manajerial hanya “sekedar” untuk didengar dan diakui juga sebagai pemilik PERSIB yang sah secara hukum? Atau “sekedar” untuk menjadi jembatan dan penghubung mata rantai yang hilang dalam tubuh PERSIB ayeuna? Atau untuk “sekedar” mempertahankan Abah Gomez dan skuad yang ada saat ini?

    Perlukah kita meniru langkan FC United of Manchester (bukan Manchester United!) dalam urusan fans yang mampu mengelola sebuah klub sepakbola? Atau meniru langkah fans Porsmouth yang menggalang dana dan membangun akademi sepakbola profesional yang mandiri? Atau memetik ilmu dari Ebbsfleet United dan Slough Town dalam hal fans yang melakukan penggalangan dana dan membeli sebuah klub sepakbola? Mangga googling!

    Meski PERSIB sudah menjadi badan hukum perseroan terbatas dimiliki oleh para pemegang saham, perlu kita sadari PERSIB sejatinya bukanlah milik PT. PBB, PT. PERSIB 1933, Askot Bandung atau Asprov Jabar! PERSIB adalah milik bobotoh, kebanggaan urang sararea masyarakat Tatar Sunda.

    Value PERSIB beserta bobotohnya sangatlah menggiurkan bagi kalian para pengusaha. Kalian adalah pemancing dan kami hanyalah kakap-kakap bagi kalian.

    Sadarilah, bagi kalian PERSIB atau BATI, tapi bagi kami PERSIB atau MATI!

    SING ENGGAL DAMANG SIB! (Bobotoh.id/RCK. Foto: AH)

    Ditulis oleh Riky Arisandi, Bobotoh Yang Sedang Berkelana Di Tanah Papua.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Ayo Dibeli