Teranyar

    PERSIB: Gugat Atau Minggat!

    16 October 2018 22:00
    Masih berkutat seputar perlawanan terhadap sanksi yang diterima PERSIB dan kita selaku BOBOTOH, hingga saat ini nyatanya manajemen klub seolah tak berdaya. Meski banding telah disiapkan dan diajukan, sanksi tetap berjalan.

    PERSIB dipaksa pincang, dikebiri, dijegal dan direnggut paksa oleh vonis yang tak jelas dasar hukumnya. Habis sanksi terbitlah perlawanan. Muncul spanduk dan aksi di seantero Jawa Barat yang mengecam federasi.

    Ieu Rame Lur:

    Timnas Hongkong Ditahan Imbang Timnas Indonesia!

    PT PBB Mengayakeun Nobar Persib vs Persebaya!


    Tagar di medsos yang menyuarakan pergerakan bobotoh juga silih berganti. Hasil pertandingan ditengah tsunami sanksi ieu uyuhan pisan. Sekali kalah dan sekali seri. Setidaknya pucuk masih digenggam meski mulai tak aman.

    Federasi kita mah peureum jeung seuri weh meureun. Mission accomplished. Mereka tutup mata dan telinga seolah tuli dan buta. Teuing iraha putusan banding kaluarna.

    Ieu Rame Lur:

    Mengantos Hasil Banding, Ini Penjelasan Petinggi Persib!

    Halo-halo Bandung Sambut Kedatangan Persib di Bali

    Setahun yang lalu, hari Kamis 12 Oktober 2017, seorang suporter klub bola bernama Banu Rusman menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Banu menjadi salah satu korban dalam kejadian tersebut.

    Banu merupakan suporter Persita Tangerang yang meninggal karena pendarahan di otak akibat pukulan benda tumpul. Pelakunya diduga para anggota TNI Kostrad berseragam suporter PSMS Medan.

    Harita tudingan langsung mengarah pada Edy Rahmayadi. Pada saat kejadian tersebut, Edy menjabat Ketua Umum PSSI sekaligus Pembina PSMS Medan sekaligus Panglima Kostrad sekaligus Ketua Umum PS TNI. Edan teu rangkap jabatan na? Ayeuna malah jadi Gubernur Sumatera Utara.

    “Saya akan usut tuntas persoalan kericuhan saat pertandingan PSMS (lawan) Persita. Yang bersalah dihukum. Saya tegaskan yang bersalah pasti dihukum,” demikian pernyataan Edy pada 12 Oktober 2017, melalui akun twitternya. Faktanya, setahun lebih kasus ini berlalu tanpa pernah menemui titik terang. Sanksi tak pernah dijatuhkan!

    Reformasi PSSI pasca di-banned FIFA nyatanya mimpi di siang bolong. Ketua Umum PSSI mah geus jelas sibuk. Wakil Ketua Umum PSSI kumaha? Iwan Budianto, merangkap CEO Arema. Joko Driyono, merangkap pemilik Persija.

    Bukannya mencari sosok yang netral, Ketua Tim Pencari Fakta PSSI, Gusti Randa merangkap jabatan sebagai anggota Exco PSSI yang secara emosional terkait jeung Persija, lahir dan besar di Jakarta, bahkan pernah jadi pengacara Persija basa jaman ISL jeung IPL. Mereka memilih untuk mencari-cari celah jatuhnya sanksi daripada mengevaluasi diri.

    Parahnya baik statuta PSSI maupun kode disiplin PSSI tidak menyinggung rangkap jabatan ini! Kode disiplin pada Pasal 87 tentang “Larangan rangkap jabatan bagi anggota Badan Yudisial PSSI” hanya menyebutkan “Anggota Komite Disiplin PSSI, Komite Banding PSSI, Komite Etik PSSI TIDAK BOLEH menjadi anggota Komite Eksekutif PSSI atau berada dalam jajaran komite-komite tetap PSSI lainnya”.
    Rangkap jabatan nu lain mah bebas ek sabaraha loba ge. Kalo presiden mau merangkap jadi ketum PSSI atau jadi pemilik klub pun bebas, teu dilarang ku PSSI! Presiden club kumaha? Tentu dipersilahkan masuk dan merangkap jabatan. Nanti giliran juaranya dikocok ya!

    Mengutip pernyataan Zen RS, board of director Pandit Football Indonesia, PSSI tak pernah merasa punya tanggung jawab, juga tak merasa punya dosa sama sekali, dalam seluruh kejadian kekerasan suporter yang sudah kelewatan ini.

    Padahal mereka punya banyak kewenangan untuk berbuat lebih baik guna memutus rantai kekerasan ini. PSSI merasa bukan bagian dari masalah, karena selalu hanya ingin berposisi sebagai hakim dan itu pun HAKIM yang buruk. Semoga tidak ada Haringga berikutnya. Namun jika muncul lagi Haringga-Haringga yang lain (semoga tidak), hari ini kita tahu bahwa PSSI adalah salah satu "pembunuhnya".

    Hal ini diperparah dengan pernyataan dan rekomendasi Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia nu sigana leuwih pas diganti jadi Asosiasi Pelawak eks-Pesepakbola Indonesia, Ponaryo Astaman. Cik atuh lah bang Bang Firman Utina, anda adalah Presiden APPI 2017-2021, kumaha eta anggota na bisa kitu, Bang?

    Mana progress National Disupte Resolution Chamber yang kalian gembar-gemborkan? Tengok Press Realease APPI yang cenderung mengurusi supporter daripada mengurusi kesejahteraan insan sepakbola, khususnya di liga 2 dan 3.

    Sampai 24 April 2018, Persegres masih menunggak utang gaji pemain. Gaji pelatih timnas, Luis Milla wae sempet ditunggak ku PSSI, dimana fungsi dan peran APPI? Asuransi kesehatan pemain sepakbola pasca meninggalnya Almarhum Choirul Huda yang kalian janjikan mana? Apakah asuransi kesehatan dari APPI sudah bisa diberlakukan pada kasus patah tulang metatarsal Robertino Pugliara kamari? Dengan segala hormat, Bang, berhentilah mengurusi hal yang bukan urusanmu!

    Ketika federasi dan asosiasi pesepakbola gagap dalam menjalankan tugasnya. Liga yang dikelola pasti akan merasa imbasnya. Perangkat pertandingan kualitas seadanya, jadwal pertandingan diubah semaunya, juara sudah ditentukan sebelum kompetisi selesai, konflik supporter tak pernah usai, prestasi internasional ngacai, benang kusut yang sulit diurai. Opsi solusi radikal bagi kita adalah PINDAH LIGA. Emang bisa? BISA PISAN LUR.

    Sabtu, 6 Oktober kamari, aya final Piala Singapura. Nu maen Albirex Niigata (Jepang) vs DPMM (Brunei). Albirex meunang 4-1 di final eta. Naha teu salah? Piala Singapura tapi nu maen klub Jepang lawan Brunei?

    Kompetisi resmi Singapura karek mulai taun 1995, memisahkan diri dari Malaysian Super League. Sejak 2003 kompetisi Singapura ieu ngabuka panto jang tim asing milu berkompetisi di kabeh kompetisi Singapura (Liga atau Piala Singapura). Albirex Niigata ieu malah geus jadi jawara di Singapura tilu musim terakhir.

    Federasi Singapura merasa bahwa keberadaan klub asing akan dapat memicu kompetisi internal dan kualitas para pemain mereka menjadi lebih baik. Berbagai fasilitas pun rasanya lebih baik tipada di Indonesia.

    Federasi Singapura? Rasanya euweuh pemberitaan buruk mengenai federasi mereka sejauh ini. Coverage pemberitaan maupun market value internasional pun rasanya lebih menjanjikan bagi tim sekelas PERSIB ketika bermain di Singapura ketimbang di negeri sendiri. Tinggal manajemen menyikapi.

    Kembali ke Indonesia, sanksi nyatanya tak memberikan efek jera, sanksi nyatanya tak menjadi pelajaran, sanksi hanya mengebiri, sanksi hanya bagi yang dibenci. Sekjen PSSI, Ratu Tisha tak bisa mengomentari hal terebut karena ranahnya pada supporter. Menurutnya INI BUKAN SALAH SEPAKBOLA ATAU SUPPORTERNYA, TAPI PADA INDIVIDU YANG MASIH HARUS DIPERBAIKI.

    Kenapa komentar anda ini tak berlaku bagi PERSIB? Kenapa anda membunuh sepakbola beserta suporternya daripada memperbaiki individu? Anda selaku Sekjen memiliki kuasa dalam menegakan law of the games dan kode disiplin yang anda buat!

    Saya selalu yakin dan percaya PERSIB dan PT PBB maupun bobotoh adalah oleh orang-orang kuat dan hebat yang mampu mencarikan solusi bagi borok federasi kita dengan laporan pada AFC maupun FIFA. Pengumuman sanksi Arema FC molor 2 hari dari jadwal yang dipublish pada media. Apakah sanksi menungggu lobi?

    Kita harus mendesak agar Tim Pencari Fakta transparan pada publik. Pun halnya dengan mekanisme sanksi yang dijatuhkan. Dasar hukumnya harus jelas, bukan berdasarkan rating pemberitaan media, asumsi atau emosi apalagi upeti.

    Kenapa kita tidak (atau belum) melakukan perlawanan secara hukum? Kaburu Opah Gomez kabur, kaburu pucuk klasemen digusur, kaburu bobotoh jenuh dan jengah, kaburu aya Haringga-Haringga nu lain. GUGAT atau MINGGAT.

    HIDUP PERSIB. (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Riky Arisandi, Bobotoh Yang Sedang Berkelana Di Tanah Papua.


    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.
    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli