Teranyar

    Persib & Homegrown Player

    2 January 2019 12:50
    Persib Bandung harus memperhatikan para pemain muda binaanya untuk memperkuat tim di masa mendatang. Tentu tetap harus memperhatikan hal lainnya agar tim tetap seimbang lahir batin
    Di setiap awal musim kompetisi, rumor transfer pemain Persib di kalangan bobotoh selalu saja riuh dan menjadi konsumsi pasar yang lumayan ramai menghasilkan ratusan sampai ribuan like & retweet di setiap per-kode-an di ranah media sosial. Siklus tersebut selalu berulang setiap musimnya, reaksi reaktif bobotoh (terutama di babakan eige) dan masifnya populasi bobotoh mendukung hal ini selalu berulang dan berulang.

    Di awal musim 2019 ini yang layak dicermati adalah gosip tentang kembalinya para petualang pesepakbola Bandung dan Pasundan yang mengembara di sejumlah klub di Liga 1. Tentu saja nama Abdul Aziz Lutfi yang paling menyedot atensi, Kapten Tim PON Jabar yang dirasa sudah cukup pantas untuk mengambil tongkat estafet sebagai kokojo pesepakbola pituin di Persib pasca pensiunnya Ebol dan meredupnya sinar Atep Seven.

    Ieu Rame Lur:

    Seragam Sekolah Pintar Cegah Siswa Bolos Sekolah

    Kontrak Indra Dengan Persib Masih Panjang!

    Dalam deretan gosip yang berhembus bukan hanya Abdul Aziz saja yang merupakan homegrown Player. Erwin Ramdani, Alfath Fatir, Asep Berlian, (walau kemudian dua nama ini extend kontrak di Madura), Zalnando dari SFC pun sempat mengemuka.

    Di luar nama-nama tadi masih ada  Frets Butuan dan EV yang merupakan pemain non-homegrown. Sebenarnya di musim 2018 kemarin pun tercatat sudah ada setidaknya 10 nama homegrown player di skuad uyuhan 2018. Dengan 4 debutan (Aqil Syafiq, Indra Mustaffa, Jardel, Puja Abdillah). Dari 4 nama tadi hanya Indra Mustafa yang lumayan mencatatkan minute play dan kepercayaan pelatih.

    Ieu Rame Lur:

    Agung: Berjalan Menyatu Dengan Alam!

    Sebentar Lagi Pemain PSMS Medan Ini Akan Menawis Tanda Tangan Bersama Persib

    Sebelum membahas lebih jauh, kita masuk ke definisi dari homegrown terlebih dahulu, homegrown diartikan sebagai “grown or produced at home or particular local area”. Dalam konteks ini bisa diartikan sebagai pemain yang dihasilkan dari akademi (youth system) sendiri atau dalam area yang lebih luas pemain asli binaan Tatar Pasundan.

    Di Eropa nun jauh disana, homegrown player sudah dibakukan dalam aturan yang mengikat, minimal 8 (8/25 ~ 32%). Pemain harus dari homegrown player (dengan minimal 4 pemain dari binaan akademi sendiri dan 4 pemain lainya boleh dari homegrown player dari negara yang sama).

    Aturan ini dilaksanakan untuk melindungi pemain muda di tengah tuntutan prestasi mendapatkan trofi dengan mendatangkan pemain pemain bintang. Di sisi lain juga memaksa klub Eropa sana untuk memperkuat akademi dan youth development system.

    Di Indonesia regulasi ieu baru dipake di Piala Jendral Sudirman dengan memaksa setiap klub memasukan pemain U-23 di daftar susunan pemain dan ada minimal minute play yang diharuskan (lebih ekstrim sih tapi kurang terarah).

    Balik deui ka sepakbola Bandung dan Pasundan, Jawa Barat dan Bandung dikenal menghasilkan pemain pemain dengan talenta terbaik dengan ciri khas tersendiri (lebih cenderung stylis dan elegan) dalam artian lain bukan cuman maen alus, tapi kudu gaya oge. Sudah mengenal kultur sepakbola Persib jadi added value bagi para pituin alias homegrown player.

    Homegrown Persib era modern mah patokana selalu ka class of 86 na Marek Janota, banyak bintang lokal lahir di era tersebut dan puncaknya adalah rentetan prestasi Juara Perserikatan 1990 & 1994, Liga Indonesia 1994/1995. Trend ngumbara heula ka tempat lain sambil mematangkan mental seolah geus jadi hal nu biasa (rasana banyak pisan legend nu ngambil langkah ieu, Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, Yaris Riadi, Eka Ramdani contoh contohna).

    Setelah operasi pengembalian bakat bakat sepakbola Bandung di musim 2019 nanti, aya PR-PR gede kahareupna terkait generasi Juara U-16 dan U-19 di musim 2018 kamari, regenerasi dengan tanpa mengorbankan prestasi (sepeninggal class 86 persib seolah kehilangan prestasi hingga berakhir di 2014 dengan homegrown coach “Djanur from Malausma Majalengka”).

    Aya PR untuk mensinkronisasi hasil dari youth development sytem dengan tuntutan besar prestasi untuk klub besar seperti Persib. Beckam, Qolba, Wandi, Tri Puji, Syafril Lesta, Jovan, Jardel, Josell (jika mereka memutuskan untuk ngumbara). Mungkin akan jadi bahasan di bursa transfer 2025 jika euweuh solusi tentang hal ieu.

    Manajemen sabenerna sudah aya beberapa langkah kemajuan , kontrak jangka panjang untuk pemain muda, youth academy mulai dapet perhatian lebih, peminjaman pemain untuk pemain potensial yang dirasa kurang mendapat minute play, Team satellite di Liga 3 (Maung Anom). Semua dilakukan untuk lebih memberi kesempatan kepada pemain muda.

    Masalah selanjutnya adalah menghasilkan pemain muda di Indonesia belum sepenuhnya menguntungkan selain untuk prestasi team sendiri, belum adanya budaya transfer pemain antar klub belum bisa memacu setiap klub untuk menghasilkan pemain homegrown berkualitas samodel Atalanta di Italia atau West Ham United di England sana. Klub bisa meunang pundi-pundi 'cuan' ti produksi pemain muda.

    Setidaknya Persib sudah memulai sebuah virus yang baik untuk youth system development di ekosistem Sepakbola Nasional (boleh bangga sih mengenai hal ieu mah Klub aing selalu jadi patokan ketika tim lain bahkan belum memikirkannya, sarana latihan Klub, caffe & official menchandise store adalah contoh lain untuk kasus inih).

    Semoga kahareupna Persib-pun jadi team pertama yang memanen hasil dari bibit-bibit yang dihasilkannya sendiri seperti pribahasa Sunda “beunang lauk-na herang cai-na” Para pemain pituin jadi Pemaen nu aralus, prestasi dan prestise klub kajaga.

    “Ari diarah supana, kudu dirawat catangna” kalo mengharapkan hasil yang baik kudu dirawat dan dijaga. Dan aya proses maintenance agar supaya bisa tercapai hasil maksimal-na.

    Bekasi, 1 Januari 2019 (Bobotoh.ID/RCK)

    Penulis seorang Bobotoh Bekasi, Tatang Hendriana yang beraku medsos Tatang Hendriana di Facebook dan @TatangHendriana di IG dan Twitter

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.
    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli