Teranyar

    Persib : Mes Que Un Club

    27 October 2018 20:30
    Sebelum bercerita secara panjang dan lebar (dan juga mungkin membosankan), saya meminta izin para pembaca untuk membaca cerita yang saya tulis ini. Tulisan ini berjudul "Persib: Mes Que Un Club" tulisan ini menarik untuk dibahas, setidaknya untuk saya pribadi.

    Kamis pagi (25/10/18) kemarin saya merasakan hawa yang kurang bersemangat. Mungkin sebagian bobotoh yang lain juga ada yang sama merasakan. Penyebabnya tak lain adalah lantaran kekalahan Persib Bandung dari tuan rumah PSM Makassar di hari sebelumnya. Terasa amat disayangkan lantaran PSM adalah rival terdekat Persib di klasemen puncak saat ini (sebelum Persija menang di kemudian hari).

    Bulan Oktober ini bisa dikatakan mungkin sebagai bulan yang kurang mengenakan bagi kalangan bobotoh atau pecinta Persib. Bagaimana tidak, empat kali bertanding, Persib ibaratkan keok tak tersisa. Hanya satu poin yang didapat dari kandang Persipura. Madura United, Persebaya Surabaya, dan juga PSM Makassar, sama sekali tak memberi ruang untuk Persib mendulang poin.

    Awal Petaka

    Semuanya pasti hafal. Kejadian bermula setelah Persib sukses mengalahkan Persija Jakarta pada 23 September lalu --- yang akhirnya menjadi kemenangan terakhir Persib hingga saat ini. Itu berarti, dalam medio satu bulan lebih, Persib sama sekali tak mencicipi rasa kemenangan. Semuanya juga pasti hafal penyebabnya apa. Tak lain dan tak bukan yakni sanksi berat (yang bahkan bisa disebut berlebihan) yang diberikan oleh Komdis PSSI, buntut dari laga melawan Persija Jakarta.

    Terhitung beberapa pemain Persib seperti Jonatan Bauman (sanksi 2 laga), Ezechiel Ndouasel (sanksi 5 laga), Bojan Malisic (sanksi 4 laga), Ardi Idrus (teguran keras), juga interpreter Fernando Soler (sanksi hingga akhir musim 2018). Ditambah sanksi Persib yang harus menjalankan laga tanpa penonton hingga paruh musim 2019 dan menjalankan sisa laga kandang Liga 1 2018 diluar Bandung. Juga ditambah Ketua Panpel, Budi Bram Rachman yang dihukum dilarang beraktifitas di lingkungan PSSI selama 2 tahun karena meninggalnya suporter Persija, Haingga Sirila.

    Keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI itu tertuang dalam surat hasil sidang per tanggal 1 Oktober 2018, dan dijatuhkan berdasarkan investigasi Tim Pencari Fakta selama satu pekan. Tak hanya saya, khalayak bobotoh lain pun pasti bertanya: Apa yang sebenarnya hasil kerja dari Tim Pencari Fakta? Jawaban dari yang berwenang pun enggan untuk menerangkan. Akhirnya, poin- poin hasil dari penyelidikan tim pencari fakta pun dikubur untuk tak diketahui isinya.

    Gairah & Amarah Bobotoh yang Luar Biasa

    Sanksi dikeluarkan, Publik Jawa Barat menunjukkan amarahnya. Beberapa daerah di Jawa Barat menggelar aksi untuk menyatakan protes atas keberatan sanksi yang dijatuhkan oleh PSSI melalui Komdis-nya. Aksi #BandungMelawan juga aksi-aksi #Melawan lainnya dengan tegas menunjukkan kekecewaan bobotoh, yang jelas tak rela Persib mereka seperti dipermainkan. Dari pribadi, hati saya bergetar.Bagaimana tidak, aksi besar ini tak ada bayaran sepeserpun bagi para elemen yang meramaikannya. Semua murni atas dasar amarah dan rasa cinta mereka terhadap Persib.

    Saya merasa melewatkan sesuatu yang prestisiun karena saya pribadi tak mengikuti aksi ini langsung dikarenakan tak sedang berada di Bandung, atau daerah Jawa Barat lainnya. Untuk kalian yang
    mengikuti aksi ini, saya ingin menyampaikan: "Edan!", "Juara!" atau kata-kata lainnya yang menggambarkan keluar-biasaan seseorang.

    Situasi ini menggambarkan layaknya Persib bukanlah hanya sebuah klub sepak bola. Sisa dari kata-kata ini, silahkan bagi kalian para pecinta Persib yang menggambarkan. Yang keluar pasti adalah seputar rasa kecintaan yang luar biasa.

    Situasi Pasca Sanksi

    Pasca sanksi dijatuhkan, manajemen Persib cepat bereaksi dengan langsung mengajukan banding dengan poin-poin sanksi yang dianggap terlalu memberatkan.

    Akan tetapi, sekitar tiga minggu lebih pasca Persib mengajukan banding, tak ada tanda-tanda hasil banding akan keluar. Hanya ada sedikit proses ketika pemain-pemain tersanksi, Fernando Soler & perwakilan manajemen Persib dipanggil untuk bertemu dengan Komisi Banding PSSI. Hasilnya, abu-abu, alias tak tahu. Hasil banding justru terkesan sengaja diulur-ulur, bahkan hingga hampir semua sanksi berakhir. Alasannya? Sekali lagi, tak tahu. Dan hanya mereka- mereka (penguasa) yang tahu.

    Situasi ini nampaknya hampir membuat Pelatih Mario Gomez "depresi". Setelah banyak mengkritik kebobrokan federasi, Gomez juga "menyemprot" reaksi manajemen yang terkesan santai dalam menghadapi sanksi. Menurut saya, Gomez mungkin jengah karena bisa saja dirinya menganggap hanya ia saja yang menanggung beban sanksi kepada para pemainnya. Sementara tuntutan kemenangan di setiap laga harus tetap dijalankan. Gomez diibaratkan seperti seorang yang sedang bermain kartu yang dituntut menang meskipun tanpa "Kartu AS-nya".

    Semoga dalam 'senyapnya', manajemen Persib tengah melakukan langkah konkret untuk menyelamatkan tim Persib yang telah dilucuti habis-habisan oleh mereka yang berwenang di federasi dan liga.

    Mengutip pernyataan Mario Gomez belum lama ini, kurang lebih Gomez menyebut: "Jika Bobotoh mengatakan situasi ini adalah ulah PSSI, bukan, bukan mereka. Menurut saya PSSI bersih. Federasi ini bersih. Tapi ada orang-orang yang bermain." Agaknya seperti begitu.

    Kurang lebih, Gomez juga berkata: "You must know him, you must know the face. Face. (Kamu harus mengetahui dia, kamu harus tahu siapa dia)". Kira-kira begitu yang saya ingat. Di kesempatan tersebut Gomez beberapa kali menyebut kata "face" yang sangat mungkin ia hafal betul orang tersebut.

    Saya pribadi tidak mengetahui apa yang diketahui Gomez. Juga saya tidak mengetahui siapa orang yang harus dihafalkan wajahnya setelah ia berkata "You must know the face."

    Selama ini, sebagai orang yang melihat "permainan" diatas sana secara "abu-abu", kita hanya bisa menuduh, menuding, dan menyebut federasi-lah sebagai dalang utama dari pelemahan tim Persib sekarang. Dengan tentunya, saya pribadi (dan mungkin kalian juga) tidak mengetahui pasti siapa pemeran dalang yang sangat mahir tersebut. Mungkin, sekarang "si dalang" dan "si big boss" tengah tertawa terbahak menertawakan jatuhnya Persib, juga sembari menuntun "si pemenang tender" untuk maju ke tempat yang telah dipesan.

    Persib, Mes Que Un Club (Lebih dari Sekedar Klub)

    Musim 2018 ini seperti layaknya musim yang penuh adrenalin. Musim yang sangat menguji mental tim Persib, juga bobotoh-nya. Mungkin saya tak salah menyematkan kata "Mes Que Un
    Club" kepada Persib.

    "Mes Que Un Club" sendiri mengartikan lebih dari sekedar klub. Hampir semua pasti sudah hafal sematan kata tersebut terkenal dari klub asal Catalonia, FC Barcelona. "Mes Que Un Club" disematkan lantaran FC Barcelona kerap kali menjadi media sebagai pembela gigih hak-hak demokratis dan kebebasan di Catalonia sana. Semboyan "Mes Que Un Club" disebut merupakan pemikiran dari pendiri Barca, Joan Gamper. Gamper berkata alasan berdirinya klub adalah karena olahraga, namun pada garis lainnya, klub juga harus menjadi organisasi pro-Katalan dan aktif membela negaranya yakni Catalonia.

    Tak ada salahnya, sematan "Mes Que Un Club" juga sepertinya layak untuk disematkan kepada Persib. Tentunya bukan hanya menilik dari kejadian-kejadian yang belakangan ini terjadi. Melainkan dari puluhan, ratusan, atau bahkan mungkin ribuan kejadian yang pantas menyebutkan bahwa Persib adalah identitas urang Sunda, yang jika diusik maka masyarakat tatar Sunda akan tak tinggal diam.

    Yang saya yakini, dan juga mungkin khalayak banyak, Persib tak akan pernah sendiri. Akan selalu ada panji-panji pembela dibelakangnya yang mengatas namakan diri sebagai Bobotoh. Bobotoh sendiri-lah yang menurut saya pantas menyebutkan Persib dengan sematan "Mes Que Un Club", layaknya Barcelona dengan publik Catalonia-nya.

    Dari keras dan (mungkin) sarkasmenya tulisan ini, penulis sama sekali tak menuduh siapa yang dimaksud atau yang terlibat dalam kasus besar ini. Penulis hanya manusia biasa yang hobi memakan nasi dan lauk pauknya, berakun sosial media @renofrinaldi.

    --------------------------------------

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli