Teranyar

    Persibku Sayang Persibku Malang !

    31 October 2018 16:09
    Performa Persib menurun drastis di empat laga terakhir dengan hanya mampu meraih 1 point dari total 12 point yang seharusnya diraih dengan mudah oleh tim Maung Bandung. Setelah terakhir mampu membuat Macan Kemayoran menjadi kucing di laga yang ditunggu-tunggu bobotoh dan penggila bola se-antero dunia, yang katanya laga bertajuk El Clasicco nya Indonesia itu berakhir suka cita untuk bobotoh.

    Namun, tak selang beberapa jam. Kabar duka datang akibat beberapa oknum bobotoh mengeroyok hingga tewas salah satu supporter Persija yang nekat datang ke Bandung. Seketika berita kematian supporter viral di media massa dan media sosial selama dua minggu lamanya. Menjadi ajang adu mulut dan provokasi di dunia maya hingga dibahas di beberapa acara televisi ternama dan kebanyakan menyudutkan salah satu kubu supporter yang sebenarnya tak tau apa-apa.

    Tawa menjadi duka, hegemoni kemenangan yang harusnya bergema di lini masa menjadi trending topic pun tiada. Semua memberitakan kematian supporter tetangga. Dan bersiaplah kini badai besar pun di depan mata.

    Badai Besar itu Bernama Sanksi PSSI

    Benar saja hal ini justru dimanfaatkan segelintir orang di dalam federasi yang tak ingin Persib juara. Dengan segala tipu daya, aktor sepak bola yang memanfaatkan kuasa dengan dalih supremasi hukum sepak bola mulai mematahkan sebelah kaki sang pemegang singgasana. Ya, mereka secara halus menghadang Persib juara.

    Sanksi yang didapatkan Persib tak tanggung-tanggung. Tak boleh bermain di Pulau Jawa dan disaksikan oleh bobotoh hingga akhir musim 2018 serta laga kandang maupun tandang di setengah musim 2019 tanpa kehadiran bobotoh pun menjadi tambahannya. Eits belum selesai, pemain yang sejatinya bertarung di dalam lapangan pun tak luput mendapat sanksi, mereka Ezechiel Ndouassel, Jonathan Bauman, Bojan Malisic dan Patrich Wanggai mendapat hukuman dilarang bermain dengan durasi hukuman yang berbeda beda. Heran memang. Aturan yang saya tahu Komdis hanya bisa menghukum pemain dikarenakan luput dari pengamatan wasit di kala pertandingan itu berlangsung. Jadi apakah Liga Indonesia sudah tidak perlu wasit?

    Belum lagi Panpel Persib Budi Bram yang dihukum dua tahun tidak boleh ikut serta dalam laga kandang Persib. Jika kita melihat ke pertandingan antara Persib vs Persija 2×45 menit berjalan lancar tidak ada permasalahan sedikitpun. Kejadian berada di luar area stadion bahkan dua jam sebelum pertandingan itu berlangsung.

    Menurut saya hukuman ini tidak adil jika dibandingkan dengan hukuman yang diberikan kepada Arema yang membuat kerusuhan di Kanjuruhan beberapa waktu yang lalu. Ketika itu Aremania tumpah ruah ke dalam lapangan serta melakukan kekerasan yang mengakibatkan pelatih kesayangan kita semua Abah Gomez mengalami sedikit pendarahan di bagian pelipisnya. Dan apa hukumannya? Pasti semua sudah tahu. Hanya penutupan tribun Timur di laga kandang Arema dan itupun hanya beberapa laga saja. Sungguh tidak adil, bung!

    Sportivitas yang dijunjung tinggi dalam olahraga memang sudah ternoda. Sejatinya para pelaku telah tertangkap dan sudah dijerat hukum sesuai porsinya. Sanksi yang diberikan federasi kepada Persib hanya membuat rivalitas antar supporter semakin meruncing ke depannya dan tidak tahu kapan keluar solusinya.

    Wajar bobotoh meradang, hastag #BandungMelawan membanjiri lini masa seketika putusan Komdis dirilis. Tak hanya itu Bobotoh melakukan aksi di sekitaran Gedung Sate, menuntut keadilan dari federasi terhadap sanksi yang diberikan. Semua elemen bobotoh bersatu menyuarakan keadilan. Mereka menamakan aksi tersebut dengan tema "Bandung Melawan Part 1". Jelas akan ada aksi berikutnya jika suara mereka tak didengar federasi.

    Namun sayang, hingga kini hasil banding dan desakan bobotoh yang menyerukan keadilan belum menemukan titik terang. Tak tahu kapan kabar baik itu muncul ke permukaan.

    Menurut saya sanksi yang diberikan bukan malah menjadi solusi carut marutnya perselisihan antar supporter di negeri ini. Jika kita flashback ada banyak kejadian sepak bola yang memakan korban nyawa. Tapi, apakah PSSI melakukan perlakuan yang sama kepada pelaku dan klub bersangkutan seperti hal nya yang diberikan kepada Persib?

    Alih-alih keputusan komdis PSSI menjadi momentum perbaikan sepak bola Indonesia, PSSI seolah hanya ingin berposisi menjadi hakim dan itupun hakim yang buruk tanpa merasa permasalahan yang sudah keterlaluan ini pun ada andil dari sikap PSSI yang seolah lepas tangan, menutup mata dibalik banyak kepentingan dan seakan tak berdosa.

    Dari saya, semoga permasalahan yang sudah kelewat batas ini segera menemukan jalan keluar. Revolusi PSSI menjadi harga mati. Tidak ada rangkap jabatan di dalamnya yang dapat menimbulkan kecurigaan semua elemen. Adanya terobosan yang dapat memecahkan masalah panjang yang sulit ditemukan solusi tidak hanya sanksi, sanksi dan sanksi berupa materi. Yang terpenting semoga keadilan untuk Persib segera datang, lawan semua kemustahilan, bagi saya Persib sudah menjadi juara di hati saya dan di hati semua Bobotoh sa-alam dunya.

    Terus berjuang hingga titik darah penghabisan karena lawanmu bukan hanya di dalam lapangan melainkan mereka orang-orang berkuasa yang ada di dalam ruangan.

    Jangan pernah takut Sib! karena BAGIMU PERSIB JIWA RAGA KAMI.*

    *Penulis adalah seorang bobotoh asal Bandung bernama Ilham Nurkamal dengan akun instagram ilhamnurkamal

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.


    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli