Teranyar

    Personil Kami Bergerombol Dan Selalu Membogaan Strategi. Karena Kami Kumpulan Serigala, Parahyena !

    29 February 2020 07:50
    Mereka ini unik, berawal dari kampus lalu ke profesional dan kemarin mereka mengadakan showcase dan festival untuk menyatukan beberapa unsur musik, maka dari situ mereka layak



    Ratusan Coklat Friends tumplek di acara DCDC Pengadilan Musik edisi 41 yang diselenggarakan di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon, Kota Bandung pada Jumat (28/2/20) malam. Persidangan kali ini menyeret band pop folk asal Bandung, Parahyena.
    Parahyena harus menjawab seluruh pertanyaan dari Jaksa Penuntut Umum, Budi Dalton dan Pidi Baiq. Kali ini Parahyena akan dibela oleh Rully Pasar Cikapundung dan Yoga PHB. Pemimpin sidang masih tetap dipimpin oleh Presiden Republik Gaban, Man Jasad.
    Seluruh Coklat Friends tampak enjoy menikmati jalannya persidangan. Tawa ceria serta tepuk tangan menghiasi jalannya persidangan yang diatur oleh Eddy Brokoli sebagai Panitera.
    Grup ini berdiri sejak 11 Juli 2014. Berawal dari pertemanan di kampus ISBI di Bandung, akhirnya tercetus sebuah ide untuk membuat sebuah band dengan ramuan musik sederhana namun memberi kesan menyenangkan. Kultur musik yang berbeda dari tiap personilnya justru menjadi sebuah keseruan yang membangun warna musik Parahyena itu sendiri. 
    Saat disidang, personil Parahyena, yakni Sendy Novian (gitarlele, vokal), Fariz Alwan (bangsing), Radi Tajul (gitar), Iman Surya (violin), Saipul Anwar (kontrabass) dan Fajar Aditya (cajon), menjelaskan awal mulanya berdiri band tersebut.  

    "Awal terbentuk 11 juli 2014, awalnya bukan Parahyena namanya, tapi cucu and the nagkal nangka. Karena ada satu sahabat yang melamun di pohon nangka, pada intina teu ngajual. Terus hasil forum keluar nama Parahyena, sampai sekarang," ucap Sandy.

    Ketika Jaksa Penuntut Umum bertanya soal pemilihan mengenai hewan Hyena, giliran Imam Surya atau yang akrab disapa Ceceng menjawab. Menurutnya nama Hyena cukup mudah didengar bagi rekan-rekannya. Selain itu ada beberapa sifat Hyena yang sangat erat kaitannya dengan seluruh personil. 
    "Nama hyena sudah cukup enak ditelinga kami. Para itu kumpulan, Hyena itu binatang seperti srigala di Afrika. Jadi ada beberapa sifat dari hewan tersebut yang sangat erat dengan kami, contohnya bergerombol dan selalu punya startegi untuk mengambil buruan yang sudah didapat singa. Jadi spiritnya yang kita diambil," timpal Imam. 
    Karya perdananya dirilis 2016 yang berjudul Ropea, Parahyena juga diminta menjabarkan apa karyanya tersebut. Menurut Ceceng, arti Ropea ialah memperbaiki, maksudnya memperbaiki beberapa fenomena seni yang tengah beredar di kampus ISBI.
    "Bahasa Indonesianya memperbaiki. Mengenak-enak. Ada beberapa alasan saat kita memilih untuk tema album,  kita membuat karya dari idiom dan sound di kampus, banyak fenomena seni. Ada juga background berbeda dari personil Parahyena. Dari situ menciptakan beberapa arti dari temen-temen lainnya, dan kata Ropea mewakili," ujar pria yang akrab disapa Ceceng tersebut.
    Dalam album tersebut, ada single yang hits lebih dulu. Lagu tersebut berjudul 'Penari'. Sandy mengatakan, karyanya tersebut dibuat tidak terlalu lama. Pasalnya ia sudah menabung beberapa lirik saat hendak menciptakan lagu.
    "Jadi penari ini prosesnya cukup pendek tapi untuk lirik sudah lama, Sandy sudah nabung lirik sebelum ada Parahyena. Saat aransemen beberapa kali langsung jadi dan record. Itu juga karya pertama," ujar Sandy. 
    Terlebih lagi pemilihan lagu 'Penari' tersebut diambil dari kesamaan seluruh personilnya. Menurut Sandy seluruh personil Parahyena sangat suka saat melihat penari.
    "Karena memang di kampus iklimnya begitu, beberapa disini suka aja sama penari. Jadi lihat seorang penari teh suka we," ujar Ceceng. 



    Perwakilan DCDC, Dikki Dwisaptono mengungkapkan, pemilihan Parahyena sebagai tersangka di DCDC Pengadilan Musik kali merupakan bentuk support DCDC atas karya yang sudah diluncurkan oleh Parahyena.
    Dikki menambahkan banyak keunikan yang dituangkan melalui karya dari Parahyena. Salah satunya menurit Dikki perpaduan musik tradisional dan modern yang khas sangat melekat di band Parahyena. 
    "Edisi 41 ini kita mengangkat band folk dari Bandung asal kampus ISBI, ini merupakan band kampus indie yang coba kenalkan di Pengadilan Musik,"
    "Keunikannya mereka ini, mereka sempat buat showcase. Dan memadukan musik unsur-unsur tradisional dan modern," ucapnya. 
    Sedangkab dari ATAP Promotion, Uwie Fritriani menuturkan pemilihan tersangka di DCDC Pengadilan Musik tak lepas dari peran timnya. Apalagi tim tersebut sudah memantau karya band tersebut dari jauh-jauh hari, sehingga dari karyanya, band tersebut bisa dihadirkan di DCDC Pengadilan Musik.
    Sedangkan Parhyena sendiri, tambah Uwie cukup mewakili beberapa band yang baru saja lahir. Terlebib lagi Parahyena sempat mengadakan showcase dan festival pada beberapa waktu lalu
    "Karena mereka mewakili teman teman band yang baru. Pasalnya mereka band yang baru sekitar 2014-2015. Mereka mewakili band-band muda yang memikiki spirit . Ditambah lagi mereka ini unik, berawal dari kampus lalu ke profesional dan kemarin mereka mengadakan showcase dan festival untuk menyatukan beberapa unsur musik, maka dari situ mereka layak," tuntasnya. (Bobotoh.id/FY - FT : FY)

    Ayo Dibeli