Teranyar

    Pilkada dan Rusaknya Nama Bobotoh

    11 December 2020 19:28
    Eko Maung, Pengamat Hukum Olahraga Indonesia melihat fonomena tersebut sejak Pilkada Jabar tahun 2008.

    Di tengah pandemi virus corona, pemerintah, DPR dan KPU tetap sepakat melanjutkan pemungutan suara Pilkada serentak 2020, Rabu (09/12) kemarin. Berbicara tentang Pilkada atau politik tentu banyak pihak yang terlibat, tak terkecuali suporter khususnya bobotoh. Melihat variabel terpenting dalam politik adalah popularitas dan sepak bola menjadi olahraga yang popular di masyarakat. Tentu banyak politikus yang tak menyia-nyiakan hal tersebut dan merapat ke sepakbola untuk mendapatkan dukungan massa.

    Eko Maung, Pengamat Hukum Olahraga Indonesia melihat fonomena tersebut sejak Pilkada Jabar tahun 2008. “Danny Setiawan ini cukup vulgar didukung oleh segelintir orang yang mengatas namakan bobotoh, kita perhatikan, apalagi pada saat itu adiknya Danny Setiawan, Yossi Irianto mungkin kan masih pejabat Dispenda di Kota Bandung, dia juga merupakan Manajer Persib.”paparnya.

    Selain Danny Setiawan, sekelompok bobotoh juga pernah mengklaim mendukung nani Risada pada  pemilihan Wali Kota Bandung tahun 2013 dan Yance pada Pilkub Jabar. Namun dukungan dari sekelompok ini tidak serta merta membuat mereka memenangkan jabatan.  Eko Maung, menyampaikan bobotoh pengalamannya ketika membicarakan bobotoh dalam dunia politik dengan beberapa politikus.

    “Ada 2 hal yang menyedihkan, yang pertama ketika bobotohnya dianggap murahan, gampang diiming-imingi hal-hal politik, merapat kemudian tertarik sama aksi-aksi politik, bobotoh dianggap sama seperti kerumunan lain sama ormas dan begitu-begitulah. Hal menyedihkan kedua karena bobotoh dianggap remeh, karena bobotoh dianggap tidak memiliki pengaruh signifikan yaitu tadi buktinya, karena banyak juga caleg-caleg lalu calon-calon dalam Pilkada ini kalah ketika didukung dengan bobotoh.” Pungkasnya. (Bobotoh.id/AD)