Teranyar

    Polisi Tangkap Mantan Polisi: Dimana Satgas Antimafia Bola Sekarang?

    22 December 2020 16:20
    Satgas Antimafia Bola. (Foto: CNN Indonesia)
    Menurut mBah Coco, seharusnya, skandal sepakbola akhir tahun 2020, bisa dijadikan momentum, Satgas Anti Mafia Bola Jilid 3 melakukan gerakan serius, langsung memanggil semua orang-orang yang ditulis mBah Coco.






    Polisi Tangkap Mantan Polisi

    DIMANA SATGAS ANTI MAFIA BOLA SEKARANG?

    Tadi malam, mBah Coco, japri-japrian dengan Andi Chairil, Direktur Produksi Trans7. Pertanyaannya, apakah skandal 100 ribu dolar Singapura, bisa diangkat menjadi tema eksklusif di Mata Najwa? Dan dijawab, “Udah sempat dibahas, tapi terlalu sempit bahasan jual-beli posisi tersebut untuk 90 menit, dan Pengurus PSSI pasti gak hadir.”

    Sejak PSSI dikuliti ditelanjangi Mata Najwa, apa berani pernah hadir? Bahkan, saat Fachri Husaini diundang pun, akhirnya Ratu Tisha, saat jadi Sekjen PSSI marah-marah kepada pelatih Tim Indonesia U-16. Menurut mBah Coco, ngapain ngurus PSSI yang semuanya tak punya nyali, tak paham bola dan terkesan bisu alias ga-gu, kalau diajak bicara sepakbola. Beraninya, cuman buat rilis doang, pengecut banget, coy !!!

    mBah Coco coba menawarkan diri, bahwa yang hadir, cukup mBah Coco, Achmad Haris (tangan kanannya Dodi Alex Noerdin) dan Eddy Syah (agen pemain). “Ngga fair, kalau tanpa PSSI, dan terlalu sempit bahasan untuk talkshow 90 menit lebih,” jawab Andi Chairil.

    Penawaran mBah Coco kepada Andi Chairul, bijimane kalau PSSI selalu pengecut dan cemen. Maka, undang saja Menpora Zainuddin Amali, karena dalam skandal ini, ada pembicaraan, dana skandal untuk kebutuhan membayar sewa mobil Shin Tae-yon, pelatih tim Indonesia U-20 asal Korsel. Dan, juga ada dana untuk program entertaint Iwan Bule, jika melakukan kegiatan. Trus dijawab Andi Chairil, “Tapi PSSI harus tetap ada,” tegasnya.

    Jika, ada CCTV dari Hotel Fairmont, ada CCTV di kantor PSSI lantai 14, dan ambil CCTV di restorant Hurricane’s Grill, seharusnya waktu bisa lebih dari 90 menit. Trus mBah Coco menjelaskan, bahwa durasinya mudah diperpanjang. Dijawab lagi, oleh Andi Chairil, “Kemudian kalau cuma bahas soal itu, cukup 40 menit maksimal udah selesai.”

    Karena, mBah Coco terbiasa ngotot dan selalu ngotot, maka masih berani mencerca Andi Chairil, “Belum tentu, bro. Acara ini, bisa dua jam lebih asalkan gue produsernya.” Dan, hanya dijawab Andi Chairil, “hahahahahahahahaah...”

    Intermezo di atas, adalah obrolan iseng-iseng tapi serius. Bagi mBah Coco, Andi Chairil adalah satu profesi, ketika sama-sama di RCTI. Andi Chairil produser RCTI Sports dan Bulutangkis. Sedangkan, mBah Coco, pencipta program “Planet Football” sekaligus produsernya.

    Kebetulan, saat presentasi program ciptaan mBah Coco, Andi Chairil satu-satunya saksi hidup, ketika program “Planet Football” ini nyaris dibuang. Jika, mBah Coco nggak melawan manajemen RCTI saat itu. Tantangan mBah Coco, jika program PF tiga bulan ke depan, nggak ada spot iklan, silahkan mBah Coco dipecat. Ternyata, program “Planet Football” jadi program favorit RCTI di jamannya. Bahkan, sampai hari ini, PF masih ditayangkan di MNCvision.

    Makanya, dalam obrolan tadi malam, mBah Coco, berani menantang Andi Chairil, jika Mata Najwa mau tayangkan skandal sepakbola akhir tahun ini, sewa saja mBah Coco, sebagai produser, secara gratis. Dan, saat jadi nara sumber pun, mBah Coco nggak tertarik dibayar, semuanya serba gratis. Dan, dijamin acaranya bisa ditayangkan lebih dari 90 menit. Heheheheheheh !!! Bahkan, untuk jadi viral sangat gampang.

    Cerita di atas, selain banyak “joke”, juga bisa menjadi pelepas rindu mBah Coco. Karena, teringat program Mata Najwa, berjudul “PSSI Bisa Apa, Jilid 1 dan 2”, yang ditayangkan di Trans7, 20 Desember 2018. Dampaknya, PSSI kocar-kacir, karena di program ke-2 itu, yang hadir Tito Karnavian, sebagai Kapolri dan Menpora Imam Nahrawi. Sehingga, lahirnya Satgas Anti Mafia Bola Jilid 1, 2 dan terakhir Jilid 3.

    Saat program Mata Najwa, di episode “PSSI Bisa Apa Jilid 2, yang hadir orang-orang yang terlibat langsung, atur mengaatur skor, dan juga yang tertitpu saat dijanjikan. Contohnya, ketika  manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani, anaknya bupati Barjanegara Budhi Sarwono, yang sudah dijanjikan bisa lolos “32 Besar Nasional” ke Liga 2, dan juga mendapat jatah tuan rumah partai terakhir menuju “32 Besar Nasional”,, cenderung masalah penipuan.

    Namun, ketika merembet kemana-mana, setelah Johar Lin Eng dan mBah Putih, juga ikutan jadi tersangka, dan kemudian dipenjara. Ternyata, Satgas Anti Mafia Bola, tak mampu membongkar kasus-kasus yang sebenarnya, yaitu atur mengatur skor, dan mengatur pertandingan di Liga 1 dan 2 Indonesia 2018.

    Hasilnya, di persidangan, semua hanya terkait masalah penipuan. Termasuk, Ketua Umum PSSI, Joko Driyono pun, Satgas Anti Mafia Bola, jeblog. Padahal, saat itu, Satgas Anti Mafia Bola Jilid 1, sudah mengantongi kasus Iwan Budianto dan Haruna Sumitro, yang telak-telak main suap menyuap. Iwan Budianto dan Haruna nggak ditangkep, Joko Driyono yang membackup Iwan Budianto dan Haruna Simitro, malah jadi tersangka dan dipenjara. Kebolak-balik, aneh !!!

    Pertanyaan mBah Coco. Apa bedanya antara kasus Djohar Lin Eng, mBah Putih yang sulit dibuktikan di pengadilan, dengan skandal jual-beli jabatan, yang sudah ada bukti permulaan, yaitu kwitansi? Ditambah, artikel mBah Coco, 17 Desember 2020, yang runtun menjelaskan pertemuan ke pertemuan. Hari, tanggal, jam, lokasi serta siapa saja orang-orang yang hadir, semuanya dengan mudah dilacak gunakan CCTV?

    Pembentukan Satgas Anti Mafia Bola Jilid 1, berdasarkan Surat Perintah Kapolri Nomor 3678 tanggal 12 Desember 2018. Pembentukan satgas, berdasarkan masukan masyarakat di media online, cetak, dan televisi terkait adanya praktik pengaturan skor dalam pertandingan sepak bola di Tanah Air.

    Mabes Polri dan Polda Metro Jaya, membentuk Satgas Anti Mafia Bola, dengan 145 orang, langsung dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Sedangkan, Satgas Anti Mafia Bola Jilid 2, berakhir 20 Desember 2019.

    Ketika Satgas AntiMafia Bola Jilid 3, diresmikan Kapolri Jenderal Adham Aziz, diresmikan 1 Februari 2020, tujuan utamanya, untuk mengantisipasi persiapan Tim Indonesia U-20. Menurut Wakapolri, Komjen Gatot Eddy Pramono, Jilid 3 sudah siap bekerjasama, dengan Menpora, PSSI, dan anggota klub Liga 1, 2 dan 3. Sayang, batas waktu tugas Satgas Anti Mafia Bola Jilid 3, hanya enam bulan, hingga Agustus 2020.

    Menurut mBah Coco, seharusnya, skandal sepakbola akhir tahun 2020, bisa dijadikan momentum, Satgas Anti Mafia Bola Jilid 3 melakukan gerakan serius, langsung memanggil semua orang-orang yang ditulis mBah Coco. Sayangnya, sejak Agustus 2020, kelanjutan Satgas anti Mafia Bola Jilid 4, nggak ada kabar. Makanya, PSSI seenak jidatnya sulit ditangkap oleh Satgas, karena nggak ada kelanjutan, bubar atau ada Jilid 4?

    Sesuai dengan judul di atas, Kemana Satgas Anti Mafia Bola? Jawabnya....ke laut aje. Jika, ujug-ujug harus dilanjutkan ada Jilid 4. Maka, mBah Coco siap dipanggil polisi kapan pun. Maklum, pasalnya, sejak Februari 2020 sampai hari ini, Satgas Anti Mafia Bola jilid 3, mati suri, nggak ada kejelasan.

    Jadi, ngapain ada Satgas Anti Mafia Bola Jilid 1, 2 dan 3, tapi nggak ada yang serius. Karena, menurut mBah Coco, jika POLRI serius mau ikutan membangun sepakbola nasional. Maka, prediksinya, Iwan Bule sangat mudah dijadikan tersangka, dalam skandal sepakbola akhir tahun ini.

    Semua kasus-kasus yang terjadi di sepakbola nasional, sejak dibentuk Satgas Anti Mafia Bola, dari Jilid 1, 2 dan 3. Maka, skandal jual beli manajer Tim Indonesia U-20 ini, paling gampang. Karena, bukti permulaan sudah ada. Kalau yang sebelumnya, semua abu-abu dan tak terbukti di persidangan.

    Puncaknya, jika Satgas Anti Mafia Bola Jilid 4 kembali diresmikan, sangat amat kelewat gambang, menjebloskan Iwan Bule, Iwan Budianto, Yunus Nusi, Rudy Kangdra, Joko Purwoko, Achmad Haris dan Dodi Alex Noerdin, dijadikan tersangka dan saksi, dalam peristiwa jual beli jabatan  Manajer Tim Indonesia U-20.

    Mudah-mudahan, Jilid 4, ujug-ujug nongol dan eksekusi keberaniannya menangkap mantan polisi......hehehehehehe !!!


    ---
    Penulis: mBah Coco