Teranyar

    Punya Sosmed? Think Before You Speak ! #ViralkanKabarBaik

    3 November 2018 13:11
    Masih dari workshop Instagram bertajuk ""Conten Preneur Di Era Revolusi Digital" yang digagas BobotohID, "Conten Preneur Di Era Revolusi Digital" yang digagas BobotohID, dosen salah satu universitas swasta di Bandung, Rochsan Rudyantho selaku narasumber memberikan ilmunya kepada kita semua khususnya teman-teman bobotoh yang aktif menggunakan media sosial.

    Adalah "Think Before You Speak". Menurut Kang Apuy, kata "Think" yang terdiri dari 6 huruf mempunyai arti masing-masing.

    Ieu Rame Lur :

    6 Dampak Positif Sosial Media, Apa Aja? Simak Yuk... #ViralkanKabarBaik

    Gomez : Ayo Bobotoh, Masyarakat Bandung & Jabar Doakan Persib ! 

    "Curhat masalah pribadi. Memang, saat ini media sosial dijadikan semacam buku harian untuk para pemiliknya. Tapi kita juga harus membatasi curhat masalah pribadi yang seperti apa? Terus-terusan bercerita soal kesedihan, kemarahan, atau mengeluh akan berbagai hal hanya akan membuat reputasi kita buruk"
    - Rochsan Rudyantho


    Yang pertama adalah True. Ada baiknya bobotoh melakukan penelusuran terlebih dahulu terkait informasi atau konten yang diunggah atau yang akan dibagikan kepada netizen. Apakah konten tersebut benar atau hoaks?

    Banyak informasi yang beredar merupakan hoax (bohong) atau sudah disunting oleh banyak tangan. Kita harus mampu menelaah kebenaran isi media sosial. Misalnya dengan membiasakan mengecek ke beberapa sumber berbeda yang terpercaya: situs berita, ensiklopedi, atau bertanya langsung kepada sumbernya. Kita juga sebaiknya tidak mudah untuk menerima permintaan pertemanan dari orang-orang yang tidak kita kenal, bahkan ketika memiliki mutual friend. Tidak semua profil dapat dipercaya!

    Huruf kedua yaitu H berati Helpful. Kang Apuy berharap, teknologi hendaknya digunakan untuk kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain. Ketika kita mengunggah sebuah informasi, foto atau video, mari kita pikirkan apakah materi tersebut bermanfaat dan mungkin dapat menolong teman dan keluarga kita yang menerimanya.

    Huruf ketiga yaitu I berarti Inspiring dan Illegal. Maksudnya, sadari adanya hak cipta. Ketika kita akan memuat atau membagi tulisan atau foto, tanyakan kembali: Apakah si empunya sudah setuju? Biasakan diri untuk menu- liskan sumber materi yang ingin diunggah ke media sosial. Misalnya: kredit foto: [nama empunya/sumber], sumber: [nama situs/buku/penulis]. Mintalah izin di media sosial dengan cara menulis di komentar atau mengirimkan pesan pribadi. Ketahui juga bahwa ada yang dikategorikan termasuk dalam konten illegal atau melawan hukum, contohnya konten yang mengandung pornografi , ujaran keben- cian, penipuan hingga ancaman atau intimidasi.

    Huruf N yang berarti Necessary. Kita biasanya memiliki kecenderungan berbagi semua hal di media sosial. Ke mana kita pergi, apa yang kita pikirkan, sampai terkadang tidak sadar ingin berbagi sesuatu yang bersifat pribadi. Mari kita berpikir lagi, sedemikian perlukah kita mengunggah konten tersebut? Buatlah skala prioritas. Perlukah konten tersebut dimuat? Dari skala 1 – 10, di manakah posisi konten ini? Jika kurang dari 5, mari pikirkan ulang kepu- tusannya. Ingatlah selalu, bahwa apapun yang diunggah ke media sosial akan tetap berada di sana. Jejak digital akan selalu tercatat dan dapat ditelusuri dengan mudah.

    Huruf selanjutnya adalah K yang berarti Kind. Hal utama yang penting untuk kita ingat adalah untuk selalu mengunggah hal-hal yang tidak jahat. Apa gunanya kita mempostikan konten yang hanya akhirnya hanya mencederai perasaan orang lain? Tidak hanya konten berupa teks, tetapi juga foto dan video. Mari kita saling menghormati dan menghargai keberadaan netizen lain. Hidup terlalu pendek untuk kita habiskan saling menyakiti.

    Ieu Rame Lur :

    Saat Menglawan Bali Utd, Mali Merasakan Sesuatu Yang Aneh....

    BFC Menglawan Persib Digelar Sore Hari, Begini Reaksi Gomez... 


    Selain "Think Before You Speak", ada juga etika dalam bermedia sosial. Kang Apuy mencontohkan, yang pertama adalah memulai konfik. Perang kata-kata sangat mungkin muncul di media sosial dan sebenarnya hal ini cukup sering terjadi, contohnya saja perkelahian antar selebriti. Tapi kemudian apa yang terjadi? Mereka malah jadi bahan olok-olok pengguna media sosial yang lain, karena mengumbar perkelahian di forum umum.

    "Yang kedua adalah curhat masalah pribadi. Memang, saat ini media sosial dijadikan semacam buku harian untuk para pemiliknya. Tapi kita juga harus membatasi curhat masalah pribadi yang seperti apa? Terus-terusan bercerita soal kesedihan, kemarahan, atau mengeluh akan berbagai hal hanya akan membuat reputasi kita buruk," katanya.

    Yang ketika Mengejek orang lain dan menyebut namanya. Lewat tag dan mention, kita bisa menyebut nama seseorang dan menuliskan pesan untuknya di muka umum. Tapi jika kita mengejeknya dengan harapan menjatuhkan reputasinya, artinya kita malah melakukan hal yang sama pada diri kita sendiri. Jika ada masalah, selesaikan secara langsung. Membawa permasalahan ke depan umum, adalah sikap yang kekanak-kanakan.

    Selanjutnya, menjelekkan orang lain tanpa menyebut nama. Ada juga orang yang terbiasa menulis “no mention”, tapi kemudian menjelek-jelekkan pihak tertentu. Hal ini juga sangat menganggu dan bisa merusak reputasi, karena orang lain akan melihat Anda sebagai orang yang hanya berani bicara di belakang.

    Berbagi foto pesta gila-gilaan. Kamu mungkin dikenal sebagai si penggila pesta, tapi batasi juga penyebaran foto pesta gila-gilaan kamu di media sosial. Bukan tidak mungkin, keluarga, atasan atau manajemen perusahaan melihatnya dan bisa mensalahartikan karena mereka tidak mengerti konteks dari foto kamu

    Yang terakhir bersikap terlalu ekstrem. Sah-sah saja jika Anda punya pandangan agama dan politik tertentu. Tapi bersikap terlalu ekstrem dengan mengagungagungkan pendapat Anda kemudian menjatuhkan opini orang lain, sama saja merusak reputasi Anda sendiri.

    Ayo Dibeli