Teranyar

    Rilis Single di Tengah Pandemi, The Panturas Jadi Terdakwa di DCDC Pengadilan Musik

    13 November 2020 10:47
    DCDC Pengadilan Musik edisi 43 kali ini menghadirkan The Panturas yang menjadi terdakwa.
    DCDC Pengadilan Musik edisi 43 kali ini menghadirkan The Panturas yang menjadi terdakwa.
    DCDC Pengadilan Musik kembali hadir pada Kamis (12/11/2020). Digelar di Kafe Panas Dalam, Jalan Ambon, Kota Bandung, DCDC Pengadilan Musik edisi 43 kali ini menghadirkan The Panturas yang menjadi terdakwa.

    DCDC Pengadilan Musik sendiri dipimpin oleh Hakim Man Jasad dengan Panitera Eddi Brokoli, serta Dua Jaksa Penuntut yakni Budi Dalton dan Pidi Baiq. The Panturas didampingi oleh penasehat hukum Ruly Pasar Cikapundung dan Yoga PHB.

    The Panturas diadili lantaran mengeluarkan single di tengah pandemi virus Covid-19. Di depan jaksa penuntut, mereka diminta pertanggungjawabannya terkait ide dan karya yang mereka buat.

    The Panturas merilis single yang berjudul Balada Semburan Naga. Single tersebut bercerita tentang percakapan dua orang pria, yang pertama adalah pria muda yang hendak berkencan dengan seorang gadis.

    The Panturas sendiri beranggotakan Kuya (drum), Abyan Zaki (vokal, gitar), Rizal Tauftk (gitar), dan Bagus Patrias alias Gogon (bas).

    Aliran musik mereka yang mengusung rock selancar kontemporer sendiri dipertanyakan oleh dua jaksa penuntut yakni Budi Dalton dan Pidi Baiq. Lebih lagi, nama The Panturas pun juga dipertanyaan terkait filosofinya.

    "Nama 'Pantura' terinspirasi dari band Amerika The Ventures, tetapi kami pelesetkan secara lokal menjadi The Panturas. Pantura sendiri juga identik dengan nama kawasan pantai utara di Jawa," ujar Abyan, salah satu personel The Panturas.



    Jaksa penuntut lainnya, Pidi Baiq juga mempertanyakan mengapa The Panturas merilis single di masa pandemi Covid-19 ini. Akan tetapi, The Panturas berdalih single ini dibuat untuk menjawab tudingan bahwa mereka lebih sering menjual merchandise dibandingkan berkarya lewat sebuah lagu.

    Meski dicecar banyak pertanyaan oleh jaksa penuntut, The Panturas yang didampingi oleh penasehat hukum mereka berhasil lolos dan karyanya dinyatakan layak untuk dikonsumsi publik.

    Ditemui seusai acara, Perwakilan ATAP Promotions, Gio Vitano pun menjelaskan mengapa DCDC Pengadilan Musik tetap digelar di masa pandemi sekarang ini. ATAP Promotions sendiri bekerja sama dengan Djarum Coklat Dot Com (DCDC) untuk menggelar acara ini.

    Dijelaskan Gio, pemilihan The Panturas sebagai terdakwa kali ini tak terlepas lantaran mereka akan merilis single pada 13 November ini. Lebih lagi, The Panturas merupakan band yang unik karena mereka membawakan musik bergenre rock selancar kontemporer meski mereka tergolong kelompok milenial.

    "Jadi di Pengadilan Musik ini mereka kami bongkar terkait perilisan single di masa pandemi, evennya kami lakukan secara streaming karena memang kondisi pandemi ini kami harus tetap menjalankan protokol kesehatan, sehingga digelar tanpa penonton. Penonton cukup di rumah saja menonton secara streaming," ujar Gio Vitano.

    "Musik rock selancar ini yang sebelumnya disangka telah punah di Indonesia pun ternyata menemukan geliar baru lewat single The Panturas ini," paparnya. (Bobotoh.id/RF)