Teranyar

    Road To BWF 2020, Festifal Wayang Besar di Tempat Wayang Tertua, Keur Kaum Milenial ?!

    7 February 2020 10:27
    UNESCO bisa saja mencabut wayang menjadi Warisan Tak Benda Dunia karena minimnya pagelaran wayang.


    Untuk memperkenalkan wayang kepada kaum milineal, Bandung Wayang Festival (BWF) 2020 akan kembali dipertontonkan pada Juli tahun ini. Dan, sebagai pengantarnya pada 8 - 9 Februari 2020 di Cihampelas Walk akan digelar Road to BWF.

    Isu utama yang di angkat yaitu tentang keragaman yang disalurkan melalui media seni Wayang. Mulai dari latar belakang budaya, agama, serta cerita yang akan dimainkan. Juga beberapa ragam visual, filosofi pendekatan baru untuk menyampaikan pesan moral kepada penikmat wayang.

    Pada gelaran tersebut akan menampilkan 3 acara utama, yakni pagelaran Wayang Potehi Rumah Cinwa, Wayang Ringkak dan Wayang Tavip. Selain itu akan ada workshop pembuatan wayang limbah, workshop alat musik tradisi serta Wayang Daun Singkong.
     
    Road to BWF sendiri didukung penuh oleh Coklat Kita Napak Jagad Pasundan, yang berkomitmen melestarikan seni dan budaya serta meningkatkan nilai tambah bagi itu semua. Gelaran BWF sendiri, sebetulnya pertama kali dipertontonkan pada 22-23 April 2011. Saat itu sebanyak 900 - an seniman Wayang mengikuti gelaran tersebut.

    Wayang sejatinya sudah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Tak Benda Dunia pada 7 November 2003. Sayangnya pagelaran wayang cukup langka ditemui dewasa ini.

    Direktur wayang festival, Hermawan Rianto mengaku khawatir dengan langkanya pagelaran wayang saat ini. Pasalnya UNESCO, bisa saja mencabut wayang menjadi Warisan Tak Benda Dunia karena minimnya pagelaran wayang.

    Pria yang akrab disapa Hengki ini juga menjelaskan soal pemilihan kota pagelaran, yakni Kota Bandung. Kota ini dipilih karena wayang tertua berada di kota Kembang.
    "Apabila tidak dilaksanakan, wayang bisa dicabut sebagai warisan. Kami berpendapat bahwa festival wayang besar ditempat tertua, kami membuat BWF sebagai City event," ujar Hengki di Hanggar KopiSunda, Jalan Anggrek pada Kamis (6/2/20) sore.


    Perwakilan Coklat Kita, Tries Pondang mengatakan pihaknya sangat mendukung pagelaran tersebut. Menurutnya kegiatan ini bisa menjadi wadah hiburan dan edukasi bagi para kaum milineal. 
    "Kita juga mendukung yang berbasis budaya maupun nasional dan internasional. Kami, dari Coklat Kita mendukung BWF pada 8 dan 9 Februari. Kami di BWF buat pojok, selain wadah ada hiburan dan edukasi," ujar Tries lagi.

    Tries berharap kegiatan ini bisa membantu melestarikan wayang yang kini semakin sulit ditemui. Tak hanya itu, ia menilai mengenalkan wayang kepada kaum milineal merupakan tantangan yang cukup berat. 
    Kendati demikian, Tries yakin kalau gelaran ini akan disambut baik oleh kaum milineal karena menghadirkan acara dengan kemasan anak muda.

    "Tantangan terbesar itu, ya untuk anak-anak muda. Bagaimana kita membuat cerita masuk ke anak muda, seperti bahasa dan banyak humor tapi banyak pesan. Kita ingin merangkul, tapi bagaimana cara mengemasnya," tambah Tries.
    Senada dengan Tries, Hengki menambahkan kalau pagelaran ini akan sangat bermanfaat bagi semua lapisan. Ia berharap para penikmat wayang bisa membantu para seniman wayang dari segi ekonomi.

    "Dari seluruh kegiatan itu tujuannya ialah kelestarian. BWF membuat panggung agar semua wayang bisa manggung, penonton kita harapkanbisa berikan potensi ekonomi. Apabila potensi yang kita lestarikan tanpa ekonomi yang kuat akan percuma," ucap Hengki.

    Ada 3 acara utama pada gelaran Road To BWF ini, di antaranta wayang Potehi Rumah Cinwa, Wayang Ringkang (45 Dalang) Tantan Sugandi, pengajar SMK 10 Bandung dan Wayang Tavip, dari pengajar ISBI yakni M. Tavip
     
    Selain itu akan ada workshop pembuatan wayang limbah, workshop alat musik tradisi (Suling dan Karinding), serta wayang Daun Singkong oleh Pojok Bapak Jagad Pasundan, Rampak Kendang Kendangers, Karinding Cekas Kasunda, Jehan 'Kabayan' Jago Sulap, Calung NJP dan booyh @ Zeni Nugroho Art Studio, Galeri Putra Giri Harjaz dan Lukisan
    Kaca Kusdono Rastika. (Bobotoh.id/FY - FT : FY)

    Ayo Dibeli