Teranyar

    Sanksi: Hikmah dan Pelajaran Musim Ini!

    6 November 2018 21:34
    Sebuah ajakan untuk merefleksikan berbagai kejadian yang dialami Persib dan Bobotoh di Liga 1 2018
    Mengambil hikmah di balik kematian Haringga hukuman untuk Persib dan hal apa saja yang terjadi di musim ini khusus untuk publik sepak bola Bandung.

    Sejenak saja kita melupakan kerumitan yang ada di sisa musim ini dan jauh menatap ke depan ke musim berikutnya untuk menjadi yang lebih baik. Iini hanya sebatas opini dari bobotoh yang mencintai Persib sejak lama.

    Ieu Rame Lur:

    Jam Pertandingan Persib vs PSMS Dimajukan!

    Alhamdulillah, Persib Menang, Bobotoh Dapat Voucher Umroh!

    Terkhusus agar kejadian tahun ini tidak terulang kembali di musim depan alangkah baiknya jika nanti kita kembali berhadapan dengan Persija, dan saat kita sebagai tuan rumah , kita bisa merefleksikan diri. Mengevaluasi diri tidak usah kembali bertanya yang menjadi awal atau polemik perseteruan itu apa dan siapa tapi yang jelas kita harus menyadari bahwa kita pernah berbuat salah terhadap mereka.

    Kita harus akui dan itu memang fakta, untuk memperbaiki itu semua butuh kelapangan hati, berbesar hati dari pihak kita (bobotoh). Saya berharap kita bisa menjadi pelopor ataupun inspirator untuk suporter lain di Indonesia, tentunya untuk hal hal yang positif.

    Ieu Rame Lur:

    Selain Denda & Larangan Bermain, Komdis PSSI Meragragkeun Sanksi Pengurangan Poin!

    Disanksi 50 Juta Oleh Komdis, Begini Reaksi Gomez

    Saya sangat setuju terhadap usul salah seorang pengamat sepakbola untuk mencoba mendatangkan suporter tim tamu atau dalam hal ini suporter Bandung dan Jakarta. Sebaiknya kita berinisiatif mengundang mereka, tidak apa apa kita coba dari hanya beberapa orang atau sampai puluhan dengan kawalan yang ketat dari kepolisian dan suporter itu sendiri. Ini untuk pembelajaran bahwa di dalam satu stadion supaya kita terbiasa dengan perbedaan meskipun itu musuh bebuyutan (sebuah tim).

    Jangan berharap Jakarta memulai lebih dulu. Kita saja yang lebih dulu itu lebih baik , hitung-hitung kita menebus dosa terdahulu yang konon menjadi titik awal pertengkaran ini, dan yang menjadi bodoh kita telah terbawa begitu jauh dari sebuah salah faham yang berakibat meluasnya konflik sampai hal di luar sepakbola itu sendiri.

    Tidak ada yang mau meminta maaf dan melakukan rekonsiliasi, semua berpegang teguh pada asumsi tentang rivalitas kompetisi yang harus ada pihak pemenang dan pecundang. Padahal kan hakikatnya sepakbola adaah hiburan dan suatu olahraga untuk menyehatkan badan. Untuk memberikan semangat lebih dalam bemain maka dibentuk suatu kompetisi agar seluruh stakeholder mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

    Kembali kepada suporter, rekonsiliasi hanya berlaku untuk para petinggi di masing-masing kubu suporter. Sedang akar rumput seakan dibiarkan sesat dalam rasa, saling caci, saling menyudutkan dan saling sindir di dunia nyata maupun dunia maya.

    Dengan diundangnya pihak suporter Jakarta, selain dari penebusan dosa di masa lalu itu juga menjadi wadah agar citra Bandung kembali baik. Kembali harum. Bandung yang nyaman untuk siapapun yang datang berkunjung. Dan kita juga di suatu saat bisa dengan nyaman untuk datang ke Gelora Bung Karno, seperti dahulu kala. Bbaik itu untuk mendukung Persib maupun tim nasional kita semua pasti merindukan itu.

    Bayangkan jika seisi GBK hanya di isi Jakmania dan Bobotoh saja yang bersatu itu sudah cukup untuk memberi atmosphere menyeramkan bagi tim lawan. Menjadi cerminan bahwa sepakbola di negeri ini sangat digandrungi. Menjadi bukti kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara sepakbola.

    Tidak usah terlalu banyak misalkan hanya 50 orang saja dengan pengawalan ketat jaminan dari berbagai pihak dan yang lebih penting bahwa di stadion harus di sediakan tribun khusus untuk tim tamu. Kita harus mencontoh dari negara lain seperti Liga Inggris.

    Seketat apapun persaingan mereka tapi tetap tim tamu dikasih jatah tribun dan itu sudah menjadi hak mereka dan kewajiban keamanan untuk menjaga kondusifitas. Mereka bukanlah orang yang dengan begitunya mudah diatur. Mereka juga sama punya masa kelam seperti yang kita alami sekarang. Tapi waktu dan keinginan untuk memperbaiki diri menjadikan mereka liga paling kompetitif dan paling baik di jagat raya.

    Apakah kita mau menuju ke sana? Menjadikan rivalitas hanya 90 menit saja?

    Saya yakin bobotoh sudah banyak yang berfikiran dewasa hanya segelintir orang yang masih ingin bermusuhan dengan Jakmania. Apalagi generasi ini bukan yang terlibat langsung terbentuknya perselisihan ini. Bukan.

    "Kenapa kita mau menerima warisan kebencian? Cukuplah warisan mencintai klub saja yang kita terima. Selebihnya rasa nasionalisme kita yang harus kita tonjolkan. Lupakan Persib, lupakan Persija, anggap saja bahwa keduanya tidak lebih dari tim sepakbola, sedangkan Persatuan Indonesia itulah lebih utama. "
    - Angga Alterego


    Ini memang jalan yang berat tapi sampai kapan kita takut untuk mencobanya? Memelihara permusuhan ini sampai ada Rangga atau Haringga lain kah? Saya yakin secara perlahan meskipun perubahan nya tidak signifikan tapi perubahan itu pasti terjadi asalkan kita tetap konsisten untuk memperbaiki diri.

    Jangan lihat orang lain, dimulai dari kita sendiri. Cukup dengan mengganti chant chant makian bagi kubu Jakmania dengan chant chant bagi tim kita sendiri. Menurunkan spanduk rasis terhadap Persija ataupun Jakmania. Itu saja lebih dahulu.

    Jika itu konsisten dilakukan itu akan menjadikan kita lupa bahwa kita pernah berseteru dengan mereka dan itu akan menjadi karakter bobotoh yang baru. Bobotoh yang berevolusi menjadi suporter yang lebih dewasa dan menjadi panutan bagi suporter lainnya di Indonesia.

    Jangan menunggu federasi yang mendamaikan kita, tapi kita harus memulai dan menyelesaikannya tanpa federasi, karena jika hanya menunggu federasi akan sangat lama. Toh sampai sekarang federasi masih belum 'sembuh'.

    Memang apa yang terjadi sekarang sangat tidak mengenakan bagi seluruh Bobotoh dan Persib hukuman dan keculasan federasi sepertinya sangat tidak adil. Tapi coba kita mengambil perspektif lain agar kita juga mengevaluasi diri mengambil hikmah seperti judul saya di atas tadi, bahwa dengan fanatisme berlebihan dari kita yang terwakili beberapa orang yang terlibat dalam pemukulan Haringga kemarin itulah sebab yang menjadikan momentum menuju juara Persib hilang. Tim ini terperosok jatuh ke dalam lembah hukuman sasaran hujatan dan sorotan banyak pihak yang tentu saja itu akan berimplikasi pada mental para pemain, offisial, dan bobotoh pada umumnya.

    Semua yang beroptimis juara dan berbahagia nanti di akhir musim sirna dalam sekejap. Namun kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang telah berbuat pengeroyokan tersebut , karena kita hanya berasumsi setelah kejadian. Kita tidak ada pada saat kejadian, walaupun kita ada di TKP, mungkin kita hanya seperti yang lainnya, hanya mendokumentasikannya dan menontonnya.

    Itupun kalau kita tidak tersulut ke dalam emosi massa, yang tadinya tidak ada niat memukul dalam sekejap kita menjadi pemberani. Dengan hukuman yang sangat berat ini semoga kita bisa menjadi lebih sadar bahwa apapun yang kita lakukan itu akan berdampak pada tim yang kita cintai.

    Opini saya agar di tempat kejadian pembunuhan Haringga nanti dibuat sebuah monumen agar Bobotoh bisa tersadar untuk tidak melakukannya lagi setiap kali Bobotoh datang ke stadion. Jangan lupa dibuatkan banner bertuliskan ajakan untuk tidak melakukan hal serupa. Apapun bentuk tulisannya, yang terpenting bisa menggugah hati setiap bobotoh agar sadar bahwa setiap tindak tanduk negatif yang mereka lakukan akan merugikan tim.

    Poin dari semua narasi ini ialah:

    1. Berikanlah slot untuk Jakmania hadir di stadion berapa saja dulu. Mau 50 atau 100 orang, jamin keamanannya agar tidak adalagi suporter Persija yang menyusup dan pihak bobotoh pun tidak melakukan sweeping. Jika itu memberikan progres bagus, secara bertahap ditambah hingga mencapai slot suporter tim tamu yang ideal sesuai regulasi.

    2. Jangan berharap kita akan langsung mendapatkan balasan serupa dari Jakmania. Tunggu prosesnya saja sampai mereka percaya kepada kita bahwa kita ingin memperbaiki hubungan ini.

    3. Buatkan di tempat kejadian pengeroyokan Haringga suatu monumen perdamaian yang bisa memberi kesadaran kepada bobotoh untuk tidak melakukan hal serupa. Bila perlu pasang foto lawas bahwa dulu Bobotoh dan Jakmania pernah satu tribun bareng.

    4. Khusus jika menjamu Persija, di luar stadion atau di pintu masuk panpel sebaiknya mengingatkan Bobotoh jika berulah maka Persib lah yang terkena dampaknya. Harus sebanyak mungki dan kalau bisa besar tulisannya.

    5. Teruslah memberi edukasi terhadap sesama Bobotoh lainnya terutama generasi muda nya agar permusuhan ini segera mereda bahkan mungkin dihentikan pada generasi ini. Semua yakin permusuhan ini akan menemukan muaranya. Namun apa salahnya juga kita membuat percepatan proses atau akselerasi agar kita cepat sampai di muara tanpa adanya korban jiwa lagi.

    Jika kubu Jakmania tidak sama berbenah seperti kita, lambat laun mereka juga akan cape sendiri memelihara permusuhan ini sendirian karena tidak kita layani dan muara perdamaian itu akan terjadi dengan sendiri dan perlahan. Tapi saya pribadi berkeyakinan bahwa di pihak Bobotoh atau Jakmania pasti berusaha maksimal mengatasi ini, hanya segelintir orang yang ingin terus bermusuhan.

    Percayalah jika niat kita baik Tuhan pun akan membantu kita dan mewujudkan niatan itu menjadi sebuah kenyataan. (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis oleh Angga Alterego yang berakun Twitter @prfromaga

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Ayo Dibeli