Teranyar

    Sebelum Melegenda dan Jadi Topskor di Persik, Gonzales Pernah Tolak Tim Oranye di "Kota Macet"

    6 April 2021 13:10
    Cristian Gonzales mengaku sempat mendapat tawaran dari "klub oranye di kota macet" sebelum gabung Persik Kediri. (Foto: Topskor)
    Sebelum menjadi legenda dan bermain apik dengan Persik, ternyata Gonzales pernah digoda oleh salah satu klub berwarna oranye yang bermarkas di 'kota yang sangat macet'.






    Cristian Gonzales hingga saat ini mungkin masih bisa disebut sebagai striker berdarah asing tersubur yang pernah berkiprah di kompetisi sepak bola Indonesia. Sejak datang pertama kali ke Indonesia dengan membela PSM Makassar pada Liga Indonesia 2003 lalu, tercatat Gonzales telah memainkan 308 partai dengan koleksi 239 gol.

    Dalam catatan prestasi pribadi, Gonzales sendiri pernah menyabet gelar topskor pada kompetisi Liga Indonesia 2005, 2006, 2007/2008 dan 2008/2009. Ditambah lagi ia pun juga pernah menjadi topskor pada ajang Piala Indonesia 2010 dan Piala Presiden 2017.

    Namun, yang paling diingat dari Gonzales tentunya adalah pada saat dirinya berkostum Persik Kediri. Namun, sebelum menjadi legenda dan bermain apik dengan Persik, ternyata Gonzales pernah digoda oleh salah satu klub berwarna oranye yang bermarkas di 'kota yang sangat macet'.

    "Saya tidak usah sebut nama timnya. Yang pasti warna kostumnya oranye dan kotanya sangat macet," kenang pemain yang dijuluki El Loco itu, seperti dikutip Bobotoh.id dari kanal Youtube Jebreeetmedia TV.

    Namun, sebelum ada tawaran dari tim berwarna oranye tersebut, Gonzales mengaku telah lebih dahulu menyetujui tawaran secara lisan dari manajer Persik Kediri saat itu, Iwan Budianto. Gonzales bertemu Iwan di Kediri usai Persik tampil di ajang Copa Dji Sam Soe. Sehabis pertemuan, El Loco langsung pulang ke Surabaya.

    "Di tengah perjalanan, saya mendapat telepon dari seorang petinggi klub yang bermarkas di kota macet itu dan meminta saya untuk bertemu," terang El Loco.

    Setelah berkonsultasi dengan sang istri, El Loco pun akhirnya datang ke tim berwarna oranye tersebut. Namun, setelahnya ia justru lebih memilih tawaran dari Persik Kediri.

    "Saya ke kota macet itu atas persetujuan istri. Setiba di sana, saya langsung disodori kertas kontrak untuk dipelajari di apartemen yang telah mereka sediakan."

    Keesokan harinya, El Loco sempat mengikuti latihan reguler tim oranye itu. Sepulang latihan, ia kembali ke apartemen dan menemui sang istri.

    "Saya memutuskan untuk kembali ke Surabaya dan menerima tawaran Persik. Alasan saya bukan soal nilai kontrak karena tawaran tim itu lebih besar. Ini soal hati nurani, karena saya sebelumnya sudah deal secara lisan dengan Pak Iwan," papar El Loco. (Bobotoh.id/RF)