Teranyar

    Sepak Bola Politik dan Politik Sepak Bola Indonesia

    10 December 2018 17:50
    Sepak bola Indonesia masih jauh dari harapan, karena di tiap akhir kompetisi masih saja seperti musim Liga 1 2017 sebelumnya, yang secara mengejutkan Bhayangkara FC menjadi juaranya.

    Di tahun ini tahun 2018 polemik itu terulang lagi dengan mengantarkan Persija Jakarta menjadi juara. Menjadi juara yang kontroversial, mulai dari wasit sampai perangkat pertandingan yang lainnya, juga sanksi/denda dadakan yang dijatuhkan oleh PSSI yang kurang masuk akal.

    Ieu Rame Lur:

    Kesaksian Warga Saat Jakarta Menanti Piala Liga...

    Skuad Persib Diliburkan, Gomez Bahas Rekrutmen Pemain Dengan Manajemen!

    Sang Gubernur Anies Baswedan sedikit naik pamor di berbagai media masa, dan akhirnya banyak para pengamat yang mengkait-kaitkan Liga Indonesia yang masih cenderung berbau politik.

    Putaran pertama merupakan hiburan yang sangat fair play di Liga 1, tetapi menginjak putaran kedua dan di penghujung kompetisi Liga 1, sepertinya morat marit untuk menuju titik tertentu supaya kompetisi diakhiri.


    Ieu Rame Lur:

    Tendangan A'la Eric Cantona Di Pertandingan PSM vs PSMS!

    Ini Alasan Yang Menyieun Jacksen Betah Di Barito Putera!

    Seperti sudah diprediksi oleh sang federasi atau operator liga untuk mensukseskan klub tertentu. Apakah ini hanya perasaan penulis saja? Tetapi penulis punya alasan tertentu karena di federasi tercecer berbagai pejuang yang biasa bergelut dengan politik. Apalagi dengan sangat jelas ketua PSSI juga sebagai Gubernur Sumut dan ini sangat mencolok sekali, di Level Liga 1 yang katanya Profesional.

    Sendi-sendi politik sering masuk ke berbagai elemen belakangan di negeri ini, dan yang sangat disayangkan hiburan masyarakatpun menjadi sasaran target para pejuang politik.

    Mungkin sah-sah saja tetapi, tetapi bagi penggemar, sepak bola merupakan hiburan masyarakat yang diandalkan juga sebagai sumber penghasilan yang sangat diharapkan oleh para pelaku sepakbola yang bergelut di bidangnya. Juga masyarakat umum yang mencari nafkah di bidang sepak bola, misal berjualan merchandise dan atau para pedagang asongan yang sering memenuhi stadion dan lainnya.

    Mungkin kita hanya bisa bermimpi untuk menuju sepakbola yang lebih baik. Karena ternyata di dalam kerangka sepakbola masih banyak para pejuang politik. Sehingga pertandingan sepakbola seperti pertandingan antar kubu/partai pengusung untuk mensukseskan salah satu di antaranya supaya ratingnya naik.

    Seolah-olah penghargaan sebagai juara tidak ada apa-apanya, tetapi rating para tokoh politik semakin meningkat, karena berada di ranah sepakbola yang merupakan hiburan olahraga yang sangat memasyarakat.

    Bermimpi sih boleh untuk menuju sepakbola Indonesia lebih baik, tetapi mimpi itu harus melalui proses untuk menyadarkan para pejuang politik umtuk melepaskan tujuannya.

    Untuk mensukseskan tujuan politik di ranah dunia sepakbola,dan itu merupakan harapan semua para pecinta sepakbola di negeri ini yang sudah lama ingin ada perubahan lebih baik terutama di PSSI yang masih jauh dari harapan, meskipun sudah berbagai cara untuk perbaikan, tetapi yang didalamnya belum sadar betul bahwa ini dunia sepakbola.

    Hobi atau mendadak hobi karena ada kaitannya dengan politik tertentu supaya langkah politiknya merasa berprestasi sehingga mendompleng salah satu klub supaya namanya tetap baik di hadapan masyarakat.

    Sangat ironis sekali karena sepakbola merupakan hiburan masyarakat yang sangat dinikmati oleh masyarakat. Berbeda dengan politik yang sebagian masyarakat sudah jengah mendengar juga melihatnya.

    Karena dalam politik kadang yang benar bisa salah dan yang salah bisa benar. Sehingga bertolak belakang dengan pertandingan sepakbola ketika di lapangan atau di luar lapangan yang benar harus dikatakan benar, yang salah harus katakan salah. Jadi jangan aneh banyak keganjilan di kompetisi sepakbola Indonesia. (Bobotoh.id/RCK)

    Ditulis Oleh Agus Kusdinar/Kompasiana

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Ayo Dibeli