Teranyar

    Setelah Skandal Dana 100 Ribu Dolar Singapura: Exco PSSI Terbelah Dua Faksi!

    24 December 2020 17:06
    Exco PSSI kini disebut terbelah menjadi dua faksi setelah skandal dana persahabatan 100 dollar Singapura. (Foto: PSSI)
    Kini, lahirlah faksi yang melawan Iwan Bule dan kawan-kawan.






    Setelah Skandal Dana Persahabatan 100 Ribu Dolar Singapura

    AKHIRNYA,EXCO PSSI TERBELAH DUA FAKSI


    Setelah borok-borok pengurus PSSI menguak kemana-mana, adanya jual-beli jabatan Manajer Tim Indonesia U-20. Dari pantauan mBah Coco, sambil cek ombak di kawasan Senayan. 15 Anggota EXCO PSSI yang terpilih dalam Kongres PSSI, 2 November 2019 di Hotel Shangrila, Jakarta, mulai retak terbelah dua kubu.

    Sebetulnya, saat Kongres PSSI 2 November, kubu Iwan Bule, sebagai Ketua Umum terpilih, dan kubu Iwan Budianto, gembong “kartel” sepakbola nasional, sudah saling salah-salahan dan saling marah-marahan. Karena, ada gerbongnya Iwan Bule nggak ke angkut, begitu pula gerbongnya Iwan Budianto pun, ada yang tertinggal. Karena, nggak kuat setor duwit, bro!

    Setelah terpilih, di kongres, ada 12 anggota EXCO PSSI, di luar ketum Iwan Bule, dan dua waketum, Cucu Somantri dan Iwan Budianto. Mereka adalah Yoyok Sukawi, Dirk Soplanit, Endri Erawan, Haruna Soemitro, Hasnuryadi Sulaiman, Juni Rahman, Pieter Tanuri, Sonhadji, Ahmad Riyadh, Hasani Abdul Gani, Yunus Nusi, Vivin Cahyani.

    Dari 15 anggota EXCO PSSI 2019 – 2023, menurut mBah Coco, banyak faksi dan banyak yang berkepentingan. Entah itu, karena seolah-olah di PSSI banyak uang, atau banyak yang harus diperebutkan. Nyatanya, Nirwan Bakrie, Erick Thohir entah siapa lagi, saling ngotot untuk memasukan orang-orangnya.

    Namun, dalam seminggu ini, sejak mBah Coco meluncurkan artikel berjudul, Iwan Bule Dkk menerima Uang 100 Ribu Dolar Singapura, edisi akun facebook, Cocomeo Reborn, 17 Desember 2020 lalu. Akhirnya, pergumulan dan keresahan, di antara para anggota EXCO terkuak.

    Kemudian, mBah Coco mengulas polemik jual beli jabatan Manajer Tim Indonesia U-20, dari calo-calo pengurus PSSI, kepada Dodi Alex Noerdin, yang saat ini sebagai Bupati Musi Banyuasin periode 2017 – 2022, dengan uang muka sebesar 100 ribu dolar Singapura. Yang dilakukan, di kantor PSSI, Mall FX Sudirman, lantai 14, pada 22 Juli 2020, menjadi liar.

    Dalam artikel tanggal 19 Desember 2020, yang judulnya Iwan Bule Bisa Dihukum Lima Tahun. Dan, berlanjut artikel, edisi 20 Desember yang berjudul, Mengapa Menpora Bergeming? Hingga edisi 22 Desember bertajuk, Dimana Satgas Anti Mafia Bola, Sekarang? Akhirnya berbuntut, anggota EXCO PSSI, pecah jadi dua faksi.

    Dari CCTV mBah Coco, jika awalnya, kubu duet Iwan Bule – Iwan Budianto, masih unggul, karena punya mayoritas anggota EXCO sebagai pendukung, seperti Cucu Somantri, Yoyok Sukawi, Dirk Soplanit, Endri Erawan, Haruna Soemitro, Juni Rahman, Pieter Tanuri, Sonhadji, Yunus Nusi, dan Vivin Cahyani.

    Semenjak, Cucu Somantri dibuang dari gank “kartel” duet Iwan Bude – Iwan Budianto. Serta,  terkuak kasus jual-beli jabatan Manajer Tim Indonesia U-20. Maka, sebagian orang-orangnya Iwan Bule, hengkang.

    Kini, lahirlah faksi yang melawan Iwan Bule dan kawan-kawan. Mereka, adalah Cucu Somantri, Yoyok Sukawi, Hasnuryadi Sulaiman, Juni Rahman, Sonhadji, Ahmad Riyadh, Hasani Abdul Gani. Artinya, posisinya saat ini, 8 EXCO gank Iwan Bule versus 7 faksi Cucu Somantri.

    Jika melihat kondisi terbaru, situasi EXCO PSSI. Maka, menurut mBah Coco, beberapa gank Iwan Bule, akan mudah pindah kubu ke faksi Cucu Somantri dan kawan-kawan. Kalau prediksinya, hanya satu anggota EXCO PSSI yang pindah ke faksi Cucu Somantri dkk. Sudah sah, menggelar perhelatan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, yang akan digelar Februari 2021, saat Kongres Tahunan. Hasilnya, tinggal menunggu “lonceng kematian”.

    Desas-desus yang bersliweran di kuping mBah Coco. Sudah ada kelompok yang ancang-ancang mendorong Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono. Baru saja sore ini, sudah ada yang menghadap ke Achsanul Qosasi, pemilik Madura United yang kini, jadi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Bahkan, minggu lalu, ada juga yang nyambangi La Nyala Mattalitti.

    Dari kelompok pemilik suara. Saat Achsanul Qosasi menjadi kandidat, maka sebagai klub-klub anggota Liga 1 Indonesia, sangat mudah goyah. Karena, selama ini, kelompok kartel, hanya punya tujuh klub, Persija Jakarta, Persib Bandung, Bali United, Arema Malang, Madura United, PSS Sleman dan PSIS Semarang.

    Ketika, Madura United milik Achsanul, dan PSIS Semarang yang batal dijual oleh Nirwan Bakrie, dari CCTV mBah Coco, adalah pasangan duet dari anggota Partai Demokrat. Achanul awal berkibar namanya, karena anggota DPR RI 2004 – 2009. Sedangkan, Yoyok Sukawi, pemilik PSIS Semarang, barusan jadi anggota DPR RI juga dari Demokrat.

    Dari para anggota klub Liga 2 Indonesia, Julius Raja, CEO PSMS Medan pernah bicara, siap-siap memboyong banyak voters untuk goyang Iwan Bule, jika Kongres Tahunan PSSI digelar Januari atau Februari 2021.

    Belum lagi, “Godfather Sepakbola Indonesia”, Andi Darussalam Tabussala, jika kembali “turun gunung”, maka sepak bola kembali terkena “gempa bumi”, akibat manuver-manuver, yang akrab disapa ADS. Apalagi, kalau mBah Coco, ikutan kasak-kusuk. Bisa jadi, taktik strategi yang sudah dirancang setiap kandidat, bisa kocar-kacir.

    Intinya, kalau para kelompok-kelompok pendukung Basuki Hadimujono, Achsanul Qosasi dan La Nyalla Mattalitti bisa menyakinkan kandidatnya. Jika, para voter juga semakin terbelah jadi dua kubu. Maka, nasib Iwan Bule dkk sebagai pemilik tunggal “gank kartel”, segera lari tunggang-langgang. Bijimane?

    ---
    Penulis: mBah Coco