Teranyar

    Suporter Meninggal: Jangan Pernah Mengabaikan Larangan!

    25 September 2018 17:50
    Rivalitas dua klub besar Indonesia, yang merepresentasikan dua provinsi di pulau Jawa, yakni Persib Bandung (Jawa Barat) dan Persija (Jakarta), kembali memakan korban jiwa. Salah seorang anggota The Jak meregang nyawa setelah dikeroyok oknum suporter Persib Bandung sebelum laga yang mempertemukan kedua kesebelasan dimulai, Ahad (23/09/2018).

    Ialah Haringga Sirilia (23 th), suporter Persija yang menjadi korban. Menurut keterangan suporter di TKP, sekitar pukul 13.00 korban dikejar beberapa suporter tim Maung Bandung. Ia sempat meminta bantuan kepada pedagang bakso, namun oknum suporter lain mengeroyoknya, memukuli dengan balok, piring, ataupun botol, hingga tewas. Beberapa suporter yang diduga terlibat dalam pengeroyokan telah diamankan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

    Ieu Rame Lur:

    Polisi Menghandeueulkan Panpel Tidak Memasang Layar Lebar!

    Polisi: Tak Ada Kalimat Tauhid di Pengeroyokan Haringga!

    Setelah kejadian tersebut, bermacam reaksi dan penghakiman bermunculan. Petinggi klub—baik Persib maupun Persija—pemain sepak bola senior, Gubernur Jawa Barat, bahkan pentolan Bonek, semua sepakat mengatakan tak setuju sekaligus mengutuk tindakan anarkis yang dilakukan oknum suporter tersebut. Masyarakat beramai-ramai menyalahkan Panpel serta keamanan.

    Tak sedikit pula yang sampai mengusulkan agar kompetisi sepak bola Tanah Air dibekukan. Pertandingan sepak bola yang harusnya menjadi tontonan menghibur berubah mencekam lagi menyeramkan. Siapa yang patut disalahkan, dan di mana akar permasalahannya?

    Ieu Rame Lur:

    Supardi Mengutuk Keras Pengeroyokan Di GBLA!

    Hadiah Istimewa dari Bobotoh Untuk Opah Gomez!

    Rasanya naif dan tak bijak bila kita hanya menyalahkan sebelah pihak tanpa mengkaji dahulu secara jauh. Sebelum laga dimulai, jauh-ajuh hari pihak klub masing-masing juga keamanan telah mengingatkan agar suporter Persija tidak bertandang ke GBLA, markas tim Maung Bandung. Pelarangan tersebut tentu bukan tanpa alasan, bukan intimidasi, apalagi sebuah lelucon yang boleh diabaikan.

    Pasalnya, melihat data dan histori, kedua pendukung kesebelasan memang tak pernah akur. Mereka sering bentrok, bahkan tak jarang memakan korban jiwa. Sejak tahun 2012 tercatat ada 7 korban jiwa, baik dari Bobotoh maupun The Jak.

    Lalu, mengapa seorang The JakMania berada di kandang tim Maung Bandung yang dikenal sebagai rival bebuyutan tim Persija? Apa yang dilakukannya? Mengapa nekat datang dan mengabaikan imbauan?

    Perlu diketahui, sebelum insiden, korban sempat menulis pesan di Twitter, yang berbunyi: “Jangan biarkan macan berjuang sendirian, ayo jangan kendor @Persija_Jkt.”

    Tanpa bermaksud menyalahkan korban, hanya sebagai pelajaran ke depan supaya kejadian demikian tidak terulang, mestinya imbauan-imbauan semacam itu tidak diabaikan. Lebih-lebih, konon sebelum kejadian korban sempat berswafoto di sekitar stadion sembari menunjukkan identitas sebagai anggota The Jak. Itu adalah tindakan konyol, bahkan menantang maut.

    Menonton serta mendukung tim kesayangan boleh-boleh saja, tetapi tak boleh konyol. Adapun mengenai pembekuan kompetisi, hal itu prematur, gegabah, serta terlalu cepat.

    Pertaruhannya terlalu besar. Sebagaimana dimaklumi, kompetisi bukan sekadar adu kekuatan, adu gengsi, dan adu modal para klub, tetapi juga wadah serta usaha pemerintah untuk mencetak sekaligus mengembangkan talenta-talenta sepak bola Tanah Air. Lebih jauh, agar Timnas kita bisa berunjuk gigi di kancah internasional. Membekukan kompetisi berarti membunuh talenta-talenta. Singkatnya, menjauhkan kita dari prestasi.

    Terlebih masyarakat sangat haus gelar internasional. Di samping itu, hal demikian akan semakin membuat sepak bola kita tertinggal dari negara lain. Apalagi kita sedang bermimpi untuk menjadi peserta sekaligus tuan rumah Piala Dunia.

    Bijaksananya, yang harus dilakukan bukan menuntut pembekuan kompetisi. Melainkan dengan mendewasakan serta memahamkan setiap elemen, baik masyarakat, aparat, perangkat pertandingan, juga klub. Semua harus bersinergi. Menyingkirkan panji-panji, mengesampingkan kepentingan.

    Hidup ini bukan sekadar tentang Persib dan Persija, bukan melulu Arema serta Persebaya. Lebih besar dari itu, kita sedang dalam persaingan dengan bangsa lain dalam segala bidang, termasuk sepak bola. Hal-hal konyol semacam itu hanya akan menghambat kemajuan.

    Kita harus ingat, bahwa kita Indonesia. Satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. Sedang menapak menuju bangsa yang besar. Yang memiliki prestasi di segala bidang. (Bobotoh.ID/RCK)


    Ditulis oleh Deri H.D.

    Redaksi mengundang Bobotoh untuk menulis. Kirimkan tulisan sepanjang 1-2 halaman Microsoft Word atau 250-500 kata ke email idbobotoh.redaksi@gmail.com.

    Redaksi berhak melakukan penyuntingan atas setiap tulisan yang ditayangkan dengan tidak mengurangi atau mengubah esensinya.Tulisan tidak harus sependapat dengan kebijakan redaksi sepanjang tidak menyinggung unsur SARA dan bernada hasutan/provokasi.

    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli