Teranyar

    "Tendjo", Tani Kota di Pesantren Sempit Lahan

    23 February 2021 16:53
    Karena ingin djoega bekali pengetahoean dan pengalaman bertjotjok tanam  kepada para santrinja, Pimpinan ponpes terseboet mengadjak para santrinja oentoek bertani dengan merekajasa lahan sempit jang dimilikinja.

    Belakangan ini hari para pelakoe tani di Indonesia saperti  kehilangan naloeri tjotjok tanam lantaran berbagai alasan, oetamanja  koerang edoekasi dan inovasi. Tidak heran apa bila  sekarang ini ada adjakan boeat kaoem santri oentoek ambil peran di pertanian, karena pesantren poenja akar koeat dalam bangoenan bangsa. Demikian  jang pernah dioengkap Kementrian Pertanian.

    Kemenag poen soedah djalin sepakatan dengan fiha-fihak lain dalam kembangkan pertanian di pesantren. Sinergi ini langsoeng di bawah kendali Wakil Presiden KH Ma’roef Amin dengan tema "Akselarasi Ketahanan Pangan Berbasis Pesantren".

    Namoen, apa boleh boeat, tidak semoea ponpes miliki lahan tani loeas , tapi ingin poela mengembangkan dan adjarkan keterampilan tani kepada para santri. Seperti Apa jang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al I'anah Rantjaherang  di  TJibogo Bawah , Kota Bandoeng. Karena ingin djoega bekali pengetahoean dan pengalaman bertjotjok tanam  kepada para santrinja, Pimpinan ponpes terseboet mengadjak para santrinja oentoek bertani dengan merekajasa lahan sempit jang dimilikinja.

    Diadjaknjalah sekira 45 santri oentoek mengembangkan OErban Farming  di ponpes terseboet.  Lahan dan bahan oentoek bertjotjok tanam jang  ada dibikin seoptoimal moengkin . Media tanam poen diwadahi dengan pot dari  barang-barang bekas, sehingga mendoekoeng poela konsep daoer oelang  sampah-sampah anorganik. Sementara oentoek memperloeas  lahan atap ataoe loteng kobong para santri itoe poen dimanfaatkan oentoek menata pot atawa polybag berbagai tanaman.

    Ada beberapa djenis pohon jang ditanam di itoe loteng seperti sawi-sawian, selada, tjabe rawit hingga djagoeng. Di djeda waktoe para santri mereka giliran merawatnja. Poepoek jang diboetoehkan diperoleh dari olahan poepoek tjair organik jang djoega boeatan sendiri.  Pastja panen urban farming ini soedah bisa hasilkan oentoek bantoe keboetoehan noetrisi para santri di ponpes terseboet, selebihnja  ada djoega jang didjoeal di lingkoengan sekitar.

    “Urban farming jang dikembangkan di sini kami seboet Téndjo,”  toetoer Ahmad Loeqoni, pimpinan ponpes terseboet. Téndjo dalam bahasa Soenda berarti lihat dan istilah ini beroepa akronim djoega dari “loténg hédjo,” atawa loteng jang menghidjaoe oleh pepohonan.

    Hingga kini  ponpes Al I'anah Rantjaherang masih kembangkan Téndjo dengan harapan bisa semakin bermanfaat bagi baik oentoek para santri maoepoen warga sekitar dalam rangka membangoen kemandirian pangan di Kota Bandoeng.

    ---
    Penulis: Adi Raksanagara