Teranyar

    Terlibat Pengaturan Skor, Dua Klub Liga 1 Terancam Degradasi!

    25 January 2019 10:44
    Vigit Waluyo mengakui ada tiga klub yang terlibat pengaturan skor. Dua klub itu baru saja promosi ke Liga 1
    Dua klub Liga 1 terancam degradasi, padahal keduanya baru saja promosi dari Liga 2. Hal tersebut terungkap dari hasil pemeriksaan Vigit Waluyo oleh Satgas Anti Mafia Bola di Mapolda Jawa Timur, Kamis kemarin, (24/1/2019).

    "Klub yang dengan saya hanya PSMP Mojokerto Putra (PSMP), kemudian Sleman (PSS) dengan Kalteng Putra juga. Mereka meminta saya membantu memenangkan pertandingan," kata Vigit seperti dilansir Detik.com, Kamis 24/1/2019.

    Ieu Rame Lur:

    Yana Umar Ungkap Maksud 'Tribute To The Legends' VPC

    Kisi-Kisi Pemain Asia & Lokal Yang Dipikahayang Persib!

    Pada musim 2018 lalu, PSMP, PSS, dan Kalteng Putra musim lalu berlaga di Liga 2. Hanya PSS dan Kalteng yang kemudian mampu promosi ke Liga 1 2019. PSS keluar sebagai juara Liga 2, sementara Kalteng menempati peringkat ke dua.

    "Saya jelaskan sedikit bahwa kebetulan jawaban itu ada di kubu PSSI sendiri. Artinya, di dalam ini mereka yang lebih paham tentang awal penjadwalan sampai eksekusi"
    - Vigit Waluyo, Pengelola PSMP Mojokerto


    Vigit menjalani pemeriksaan di Mapolda Jatim, pada hari Kamis kemarin (24/1/2019). Wakasatgas Anti Mafia Bola Brigjen Pol Krishna Murti memimpin pemeriksaan itu.

    Ieu Rame Lur:

    Kapan Bojan Malisic Kembali? Begini Cenah Penjelasannya

    Pengakuan Lain Vigit Waluyo: Setor Uang Ke Komite Wasit PSSI


    Salah satu pertanyaan yang muncul dalam agenda itu adalah tentang dugaan pengaturan skor pertandingan hingga skenario klub juara telah disusun sebelum kompetisi berjalan. Vigit menuding PSSI yang memiliki wewenang. Dia bilang PSSI sangat memahami hal ini.

    "Saya jelaskan sedikit bahwa kebetulan jawaban itu ada di kubu PSSI sendiri. Artinya, di dalam ini mereka yang lebih paham tentang awal penjadwalan sampai eksekusi," kata Vigit lagi.

    Adapun masalah pengaturan skor, PSSI sudah mengatur sanksi yang membahas masalah tersebut. Hal itu tertuang di Kode Disiplin PSSI Pasal 64 tentang Korupsi.

    Pada Ayat 1 Pasal 64 berbunyi:

    "Siapa saja yang melakukan tingkah laku buruk terlibat suap, baik dengan cara menawarkan, menjanjikan atau meminjam keuntungan tertentu dengan memberikan atau menerima sejumlah uang atau sesuatu yang bukan uang tetapi dapat dinilai dengan uang dengan cara dan mekanisme apapun kepada atau oleh perangkat pertandingan, pengurus PSSI, ofisial, pemain, dan/atau siapa saja yang berhubungan dengan aktivitas sepak bola atau pihak ketiga baik yang dilakukan atas nama pribadi atau atas nama pihak ketiga itu sendiri untuk berbuat curang atau untuk melakukan pelanggaran terhadap regulasi PSSI termasuk Kode Disiplin PSSI ini dengan maksud mempengaruhi hasil pertandingan, harus diberikan sanksi,"

    Mengacu pada pelanggaran suap tersebut, PSSI membuat tiga jenis sanksi. Hal itu diatur di Ayat 5 yang berbunyi:

    Klub atau badan yang anggotanya (pemain dan/atau ofisial) melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam ayat (1) dan pelanggaran tersebut dilakukan secara sistematis (contoh: dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa anggota dari klub atau badan tersebut) dapat dikenakan sanksi:
    a. diskualifikasi, untuk klub non-Liga 1 dan non-Liga 2;
    b. degradasi, untuk klub partisipan Liga 1 dan Liga 2; dan
    c. denda sekurang-kurangnya Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).

    Dengan peraturan seperti itu, maka PSS dan Kalteng Putra terancam hukuman di poin 2 Ayat 5 Pasal 64 tentang Korupsi yang tertuang dalam Kode Disiplin PSSI. PSS dan Kalteng Putra yang baru saja promosi ke Liga 1, terancam terdegradasi dan kembali ke Liga 2. (Bobotoh.ID/RCK)

    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli