Teranyar

    Usulan Penggabungan Zona Waktu Indonesia, Mengiluan Ke WITA

    28 October 2018 16:29
    Indonesia Marketing Association (IMA) mengusulkan agar tiga zona waktu di Indonesia menjadi satu. Semua zona waktu tersebut disamakan menjadi Waktu Indonesia Tengah (WITA).

    Pendiri IMA Hermawan Kartajaya mengatakan seruan untuk bersatunya zona waktu tersebut sengaja digelar di Kota Bandung dan bertepatan Hari Sumpah Pemuda karena dianggap sebagai tonggak sejarah untuk segala pergerakan di Indonesia.

    Ieu Rame Lur:

    Patrich Wanggai Ogah Pikirkan Bali United

    Gomez : Kekalahan Ini Memang Menjadi Tanggung Jawab Saya

    Hermawan menjelaskan kajian untuk menyatukan Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia Timur (WIT) sudah dimulai sejak 2005 dengan melibatkan sejumlah ahli. Salah satu tujuannya ialah percepatan ekonomi, khususnya untuk wilayah timur Indonesia.

    "Dari sisi bisnis pasti menguntungkan, kemudian dari sisi energi PLN tentu ada penghematan, penerbangan juga dari sisi waktu lebih gampang. Jadi banyak hal yang bisa ditingkatkan dari sisi daya saing, ekonomi, politik dan sosial," ucap Hermawan usai deklarasi Satu Zona Waktu seperti dilansir Detik.com, Ahad (28/10/2018).

    Ieu Rame Lur:

    Salah Seorang Pemainnya Diminati Tim Liga Thailand, Ini Kata Gomez

    Dukungan Bobotoh Buat Persib Termotivasi !

    Melihat dari sisi waktu, menurut Hermawan, Singapura yang sejajar dengan Indonesia atau Hongkong yang lebih timur bisa menjadi satu zona waktu sama dengan WITA. Sehingga hal itu akan menjadi rujukan agar satu zona waktu tersebut mengikuti WITA.

    "Kajian ini sudah dilakukan sejak 2005 mulai dari sisi ekonomi dan lain-lain, lengkap. Kita harap dari segi politik semakin solid, sosial, kultur semakin kuat. Mudah-mudahan satu waktunya dengan Singapura dan Hongkong (WITA)," katanya.

    Deklarasi diikuti oleh sejumlah unsur itu dihadiri oleh perwakilan Kantor Staf (Kastaf) Kepresidenan. Usai deklarasi, semua dokumen termasuk hasil kajian diberikan untuk dibahas menjadi suatu kebijakan.

    "Mudah-mudahan ini bukan hanya didengar oleh pemerintah, tapi mendapat dukungan dari masyarakat secara keseluruhan," ujar Hermawan. (Bobotoh.id/RCK)

    Loading...


    Cik, Naon Komentarna?





    Ayo Dibeli