Teranyar

    Voters Biang Kerok Kehancuran PSSI

    17 November 2020 15:49
    PSSI.
    mBah Coco, mencoba membedah asal muasal, mengapa sepak bola nasional Indonesia, dalam 20 tahun terakhir, selalu tercipta goncang-ganjing kekrisuhan?

    Sepakat atau tidak, suka atau tidak, benci atau sayang. mBah Coco, hanya ingin mempertegas caruk-maruknya organisasi PSSI, yang kini dikelola Mochamad Iriawan, alias Iwan Bule, karena nyaris 100% orang-orang yang terpilih di EXCO PSSI 2019 – 2023, tak ada yang paham dunia dan filosofinya.

    Perang-perangan, dan saling dendam antara petinggi PSSI, yang baru-baru ini terjadi. Seperti, sumpah serapahnya Iwan Budianto, sebagai wakil Ketua Umum, yang menghujat ketum PSSI, Iwan Bule, goblok dan penakut. Pasti ada sebab musababnya. Dan, cepat atau lambat akan merembet kemana-mana.

    mBah Coco, mencoba membedah asal muasal, mengapa sepak bola nasional Indonesia, dalam 20 tahun terakhir, selalu tercipta goncang-ganjing kekrisuhan? Kemudian saling jegal menjegal, dan mencoba membangun ‘kartel”. Puncaknya, lahir kongres demi kongres PSSI, yang membuang energi dan waktu.

    Padahal, gol-nya organisasi PSSI atau lembaga-lembaga sepakbola negara di bawah FIFA dan AFC, adalah mencetak pemain nasional, dan kemudian cita-citanya, Tim Nasional Indonesia. Puncaknya juara Asia Tenggara, juara Asia dan juara Piala Dunia. Nggak ada target lainnya, selain berambisi meraih gelar juara.

    Mengapa judul di atas, bahwa biang kerok morat-maritnya organisasi PSSI, adalah para pemilik suara atau voters?

    mBah Coco, mencoba kilas-balik sejarah “money politic” dalam Kongres PSSI 2003 di Hotel Indonesia, saat Nurdin Halid, dalam detik-detik terakhir, atau hanya dikasih jedah 30 menit. Mampu meraup 183 suara, sedangkan Jacob Nuwa Wea 167 suara, dan total 359 anggota PSSI. Satu suara lain, dalam pemungutan suara tahap kedua ini, abstain.

    mBah Coco melihat langsung, peristiwa suasana Kongres PSSI tersebut. Suasannya, terkesan seperti “rumah judi”. Di mana saja, ada transaksi yang sangat memalukan. Siapa saja bisa melakukan “jual beli suara”. Ada transaksi di WC, di kamar hotel dan di belakang pintu, ada terang-terangan di hall hotel. 

    Khususnya dari kubu Nurdin Halid. Suasana Kongres PSSI yang dipimpin Tondo Widodo, benar-benar “bar-bar” dalam melakukan “money politic”, hanya dalam waktu 30 menit waktu jedah istirahat. Pasukan “superman” Nurdin Halid mampu menguasai lebar lapangan Kongres PSSI, sebagai Presiden PSSI ke-13, musim 2003-07.

    Dari sinilah, awal muasal Nurdin Halid membangun cara-cara pemilihan ketua umum PSSI dengan membeli suara para pemilik suara (voters) yang waktu itu berjumlah 359 anggota PSSI. Saat Nurdin Halid, keluar dari penjara, tahun 2007, Kongres PSSI di Makassar, langsung aklamasi menunjuka kembali Nurdin Halid, sebagai penghuni “kursi panas” 2007 – 2011.

    Tahun 2009, Kongres Tahunan PSSI, mengubah Statuta PSSI, khusus untuk peserta kongres, dari 359 anggota PSSI, menjadi 105 pemilik suara. Terdiri, 34 Asprov (dulu namanya masih Pengprov), 18 klub anggota Liga Indonesia, 28 klub Divisi Utama, 20 klub Divisi Dua, serta satu voters masing-masing asosiasi wasit, pelatih, pemain, futsal, wanita.

    Sejarah jual beli suara, untuk para pemilik suara, sejak jaman Nurdin Halid, masih mewabah hingga dijawan Iwan Bule dkk, saat terpilih di Kongres PSSI, 2 November 2019. Menurut mBah Coco, budaya jual beli suara dari para pemilik suara, adalah penyebab utamanya, organisasi PSSI dipimpin para ketua umum dan anggota EXCO “karbitan”.

    Hanya bemodal para cukong, untuk mendorong calon-calon ketua umum, dan gerbongnya, dalam anggota EXCO, menjadi pemicu utama. Sehingga, para pemilik suara, merasa sudah nyaman, ketika ‘disiram’ dengan uang Rp 100 sampai 250 juta.

    Pertanyannya, siapa yang menerima uang-uang “money politic” setiap kongres? Apakah pemilik klub, atau ketua Asprov, atau para pengelola asosiasi? Mengapa para pemilik suara, doyan sekali menjadi “pelacur” setiap ada kongres?

    Dampaknya, para pengurus yang terpilih sebagai anggota EXCO PSSI, terkesan asal-asalan, tak paham sepak bola, dan hanya terlihat cari duwit dari jual beli pertandingan. Kriteria-kriteria pra calon anggota EXCO, selama 20 tahun terakhir, hanya para gerombolan “kartel’, yang tidak jelas kompetensinya, tidak jelas sejarah dan riwayatnya di sepakbola.

    Menurut mBah Coco, jika dalam waktu dekat ini, ada Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, alangkah baiknya, para pemilik suara, semakin dewasa, semakin cerdas, untuk memilih para anggota EXCO PSSI. Bukan, hanya sekadar berharap uang sogokan, hingga akhirnya memilih “kucing dalam karung”, seperti Iwan Bule, Cucu Somantri, Iwan Budianto, dan 12 EXCO lainnya.

    Karena, jika masih selalu terjadi. Maka, yang dirugikan nomor satu, adalah para pemain, pemilik klub, wasit dan pelatih. Dan, tentunya pencita sepak bola nasional, yang sudah menpai 100 juta penggila bola di Tanah Air.

    Peristiwa Liga 1, 2 dan 3 tidak mendapat ijin dari pihak Polri. Sejatinya, akibat ketidakmampuan para petinggi PSSI bekerjasama, berkomunikasi dan memberi alasan yang nalar. Siapa yang salah memilih para 15 anggota EXCO PSSI, hingga nggak becus menggulirkan kompetisi? Jawabnya, para pemilk voters.

    Para voters, menurut mBah Coco hanya memikirkan dirinya sendiri secara sesaat, yaitu saat Kongres PSSI, dapat “siaraman rohani” sebesar Rp 100 sampai 250 juta. Namun, setelah itu, para voters tidak peduli sepak terjang para anggota EXCO PSSI. Dan, para pemilik suara, akhirnya pasrah, nggak bisa berbuat apa-apa, ketika ketua umum PSSI melanggar statuta demi statuta, sekaligus otoriter.

    Dan, kemudian diam-diam “ngrundel” ngomong di belakang. Para anggota EXCO PSSI yang kalah berargumentasi dengan Iwan Bule, akhirnya mencari momentum, menunggu kesalahan Iwan Bule. Seperti hujatan Iwan Budianto, yang mengatakan, Iwan Bule goblok dan penakut.

    Bagaimana mungkin bisa sehat, jika EXCO PSSI tak mampu menjalankan titah sepak bola : Fail Paly dan Respect? Aneh, jika ketua umum PSSI, Iwan Bule yang tak punya harga diri di depan korps-nya (Polri), masih dipuja-puja oleh pemilik suara?

    Sampai kapan, permainan sepak bola dianaktirikan, dan politik bolanya yang selalu mendominasi? Jika ini, tetap berlanjut, yang dirugikan adalah pemain, pelatih, wasit, pemilik klub (voters), dan pencinta bola di Tanah Air, yang hanya pasrah sebagai penonton para “badut-badut” PSSI. (bersambung).

    ---

    Penulis: mBah Coco