Teranyar

    Warbiyasah, Bisa Turun Lebih Rendah 20 Prosen !

    6 July 2021 17:08
    Ceuk Hasto, mereka ternyata melakukan peningkatan gizi pada ibu dan anak baru lahir. Di sisi lain mereka juga melakukan peningkatan kualitas lingkungan, seperti kebersihan, air, dan sanitasi.
    "Ketika pemerintah, BKKBN menjadi bagian kecil dari umara, kita bertanya kepada ulama. Nah, ulama stunting ini para profesor. Kita harus belajar kepada para profesor." 
    - Hasto Wardoyo, Nakoda BKKBN


    Meno'ong dari negara yang sudah terlebih dahulu sukses menurunkan faktor resiko stunting, jelas sangat dibutuhkan untuk mengindentifikasi kesamaan metode yang digunakan.

    “WHO sudah memiliki kerangka kerja dalam penanganan stunting, yakni menempatkan masyarakat dan faktor sosial jadi semacam dasar yang menjadikan faktor-faktor berikutnya itu sangat terpengaruh,” jelas nakoda BKKBN, Hasto Wardoyo dalam webinar “100 Profesor Bicara Stunting” pada Senin, 5 Juli 2021.

    Hasto pun menyebut studi terbaru tentang penurunan stunting di lima negara: Nepal, Etiopia, Peru, Kirgistan, dan Senegal. Harapannya para profesor bisa mempertimbangkan studi-studi cerita sukses mereka, yang dalam waktu cukup singkat bisa menurunkan angka stunting.

    Warbiyasah yang terjadi di Peru ! Bisa turun jauh lebih rendah dari 20 prosen sebagai standar WHO dalam waktu singkat. Di 2008 angkanya masih mendekati 30 prosen, kemudian 2014 sudah di bawah 20 prosen.
     
    "Kelima negara tadi secara umum mengalami penurunan signifikan dengan berbagai macam cara mereka. Saya berharap sekali nanti bisa diidentifikasi apa-apa yang punya keseragaman dari mereka,” ujar Mantan Bupati Kulonprogo ini.

    Ceuk Hasto, mereka ternyata melakukan peningkatan gizi pada ibu dan anak baru lahir. Di sisi lain mereka juga melakukan peningkatan kualitas lingkungan, seperti kebersihan, air, dan sanitasi.

    Hasto pun mengakui, soal keterbatasan literatur secara statistik yang sama metodenya sangat sedikit. Padahal bisa membandingkan dari banyak faktor, semisal faktor penyebab langsung dan tidak langsung. Faktor lain, bisa dito'ong juga soal kemiskinan yang juga berpengaruh.

    Jelas Hasto, stunting sangat berpengaruh pada masa depan Indonesia. Ini terjadi karena untuk mencapai kemajuan butuh SDM unggul. Faktanya, saat ini proporsi pemuda cukup besar. Padahal, rasio ketergantungan saat ini sangat rendah. Proporsi ini manjadi peluang raihan bonus demografi lebih maju diterima.

    “Ini buah dari perjalan panjang pembangunan penduduk di Indonesia. Penurunan fertilitas dan mortalitas hingga sampai pada satu titik penduduk produktif lebih besar,” papar Hasto.

    Bagi Hasto, momentum kudu dipertahankan. Penduduk muda sangat menentukan. Caranya...ya dengan menyiapkan tenaga berkualitas, berdaya saing. Tanpa upaya itu, wussss.....bonus demografi akan lewat begitu saja. Tanpa bisa dinikmati sebagai bonus kesejahteraan.

    “Oleh karenanya, para remaja menuju dewasa sangat penting. Mereka yang akan menjadi pasangan baru, melahirkan generasi baru. Mereka yang akan menjadi penentu," tegasnya.

    Kuncinya sangat jelas, mereka tidak menikah muda, mereka tidak putus sekolah, dan mereka tidak jadi pengangguran. Sehingga bisa mencapai bonus demografi. Jika tidak, maka akan menjadi bencana.

    "Namun, bisa menjadi berkah dan menjadi modal pembangunan. Di sini bisa sejahtera atau sengsara. Itulah mengapa kita harus menciptakan generasi yang bebas stunting,” tandas Hasto.

    Hasto menekankan bahwa stunting bukan satu-satu masalah kualitas SDM. Ada masalah lainnya, mental disorder atow gangguan jiwa meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi masalah autisme, napza, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

    “Itulah pentingnya para profesor, para senior. Agar kita mendapat masukan dari para ahli. Saya yakin para ahli, profesor, akan sangat lebih mudah menganalisis permasalahan-permasalahan ini," tambah Hasto begitu yakin.

    Jadi tidak salah, malah kudu diacungi jempol soal bertanya ke 100 profesor ini. Karena belajar kepada para profesor, kajian-kajian komprehensif bisa segera didapatkan. (Bobotoh.id/HR-NJP)