Teranyar

    Yang Didapat Adalah Apa Yang Ditanam. Dan, Saya Terjerumus !

    18 August 2021 14:49
    Jadi pas iklan muncul, pas pulang ke kampung banyak yang bilang 'Tubruk kang...'. Intinya, tak mau pindah ke lain hati.
    Program Ipok Meti episode terakhir di Bobotoh.TV - Youtube menghadirkan salah seorang brand ambasador Kopi Tubruk Gadjah, aktor yang mendunia. Yang juga seorang pesilat, Yayan Ruhiyan.

    Pencak Silat menjadi bagian dan kebanggaan dari seorang Yayan Ruhiyan. Yang, ternyata dari olahraga ini membuat dirinya kenal dengan dunia luar.

    Tapi, alhmadulillah di filem pertama nya, Merantau. Yang sampai menembus Hollywood. Di 2009 pencak silat telah menembus dunia. Dan, 2007 menjadi bagian dari perform di Paris. Bareng guru silat dari Minang.

    Merantau adalah rumah yang melahirkan dirinya menjadi aktor. Dan, nama Yayan Ruhian mulai dikenal di dunia perfilman berkat penampilan apiknya sebagai Mad Dog dalam film The Raid.

    Pas masuk di festival, ternyata Merantai banyak dibicarakan. Dan, baru di filem The Rain, barulah orang mulai tertarik. Sampai-sampai penjualan tiket bisa sold out.

    Sebagai seorang pesilat dan sering melakukan shooting, Yayan awalnya tidak suka minum kopi. Sekarang pagi sore ngopi.

    "Nilai-nilai yang sangat dalam, ini saya rasa harus dipertahankan. Karena ini warisan leluhur. Termasuk minuman, semisal kopi," tuturnya yang berimbas rejeki menjadi salah seorang Brand Ambasador Kopi tubruk Gadjah.

    "Kopi ini berdasarkan racikan leluhur. Jadi yang bisa dekat dengan dirinya adalah penginggalan leluhur. Tapi perlu waktu yang tepat untuk menjadi booming, tambah yayan lagi.

    Orang Manonjaya, Tasik malaya ini awalnya santai saja karena mereka tidak banyak mengenal dirinya sebagai aktor. Karena sebetulnya ini bukan pilihan menjadi aktor.

    Karena jadi aktor bukan pilhan, awalnya hanya disuruh membuat untuk test camp, sebagai koreo fighting. Waktu itu Iko Uwais masih seorang atlit Silat.

    Terjerumus, begitu Yayan meno'ong soal kiprahnya di dunia akting ini. Namun apa yang didapat adalah apa yang ditanam. Untuk meraih keberhasilan dengan prestasi, latihan mereka 'gelo'.

    "Latihan atlit dan aktor yang samanya adalah fokus. Karena kalau fokus, cape, nikmat dan indah akan menjadi berkah," jelasnya.

    Jelasnya, banyak orang yang datang dan daftar ke perguruan nya akan kelihatan apakah dirinya ingin jadi pesilat atau aktor. Kalau mereka nanya pingin dilatih Yayan, berarti dia punya tujuan beda.

    Yayan yang mendirikan Perguruan Pencak Silat Tenaga Dasar lebih mengolah mengutakan teknik olah napas. Perguruan Pencak Silat ada di Bandung, Jogya, Sumatera dan Sulawesi.

    "Kalau ingin belajar silat, cintai dulu apapun. Tanpa kita datang pun terhadap apapun. Yang penting pertama kita kenal, kita cinta dan kita tulus. Begitupun buat bobotoh, meskipun tidak seperti itu, yang penting cintai dulu," ujarnya lagi.

    Penikmat kopi tubruk Gadjah dengan takaran gula setengah ini. Berkisah soal orang-orang di kampungnya yang hanya tahu kalau dirinya seorang pesilat. Jadi pas iklan muncul, pas pulang ke kampung banyak yang bilang 'Tubruk kang...'. Intinya, tak mau pindah ke lain hati.

    Kalau bicara ending soal kopi, sebagai brand ambasador, Yayan bilang kalau ada sebuah tawaran dari apapun itu. Biarkan hati yang bicara. Kalau sudah bilang lanjut, ya terus lanjut.

    "Meski bukan peminum kopi sejati, tapi karena pas dengan hati. Akhirnya emang saya berjodoh. Artinya baik buat saya dan baik buat produknya," jelas Yayan.

    Soal nama kopi Gadjah yang 'besar', sementara badannya kecil, minimalis. Karena sesuatu yang besar tidak hanya di badan. Besar itu relatif. Siapa yang tahu siapa Yayan awalnya. Dia hanya seorang pesilat.

    "Tapi setelah tahu Matdog muncul, khalayak langsung mengenalnya. Tapi, saya merasa tidak ingin dilihat secara instan," ujarnya.

    Sebagai orang Jawa Barat, Yayan tentu tahu Persib. Persib itu dari jaman jaya-jayanya pas zaman Ajat Sudratjat. Seperti murinding, dan turun ke anak nomer 2 nya. Di kamarnya harus Persib mania. Persib adalah cintanya Jawa Barat.

    Karena dari rasa cinta itu, tidak menjadi cinta buta. Tapi menjadi prestasi melalui kaki-kaki paran pemain. Dan memunculkan aura positif. Meski hanya sebatas menggorowok didepan TV. (Bobotoh.id/HR)